office@sheepindonesia.org

Select your language

Image
Image

Kegiatan Program

Mengapa LSM Menjadi Sasaran? YSI Dorong Organisasi Masyarakat Sipil Memikirkan kembali Strategi dalam Membangun Legitimasi Publik

 

Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Mengapa LSM Menjadi Sasaran?” untuk membongkar logika di balik narasi “londo ireng” maupun “LSM antek asing” serta implikasinya bagi Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) di Indonesia. Diskusi ini menghadirkan Made Supriatma, Visiting Fellow ISEAS Yusof Ishak Institute Singapore, dan Ismail Fahmi, Founder Drone Emprit, dengan moderator Dwi Anggita Cahyaningtyas dari Yayasan SATUNAMA Yogyakarta.

 

 

Diskusi ini berangkat dari realitas bahwa organisasi masyarakat sipil memiliki peran penting dalam memperkuat demokrasi, mendorong pemberdayaan masyarakat, memperjuangkan hak asasi manusia, menjaga lingkungan hidup, hingga mengawal tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ruang sipil menghadapi tantangan baru seiring munculnya berbagai narasi seperti "LSM antek asing" maupun "londo ireng" yang berkembang di ruang publik dan media sosial.

 

Made Supriatma menjelaskan bahwa OMS Indonesia saat ini menghadapi paradoks. Kapasitas teknis meningkat, tetapi kapasitas politik dan pengorganisasian masyarakat cenderung melemah. OMS dinilai semakin kuat dalam produksi data, litigasi, dan jejaring internasional, namun relatif rapuh dalam kaderisasi, mobilisasi massa, pendanaan domestik, dan keamanan organisasi. Ia menekankan pentingnya mengembalikan orientasi OMS pada pengorganisasian warga dan pengalaman hidup sehari-hari masyarakat, bukan semata-mata perubahan kebijakan.

 

“Basis OMS sesungguhnya adalah organizing dan mobilisasi. Isu harus terus dihubungkan dengan pengalaman hidup sehari-hari warga,” ujar Made Supriatma.

 

Sementara itu, Ismail Fahmi menyoroti dimensi komunikasi publik pada serangan terhadap OMS. Menurutnya, narasi “antek asing maupun londo ireng” mudah diterima karena menyentuh tiga lapisan sekaligus, yaitu memori historis, persoalan pendanaan, dan nasionalisme. Akibatnya, OMS tidak hanya menghadapi kritik, tetapi juga harus menanggung ongkos komunikasi yang semakin besar untuk menjaga legitimasi publik.

 

Ia menekankan bahwa tantangan utama OMS bukan hanya berbicara kepada publik yang sudah kritis, melainkan menjangkau masyarakat luas yang belum terpolarisasi. Dalam konteks ini, platform seperti Instagram, TikTok, dan Threads menjadi ruang strategis untuk membangun narasi alternatif.
Ismail Fahmi menawarkan empat strategi membangun legitimasi publik OMS. Pertama, memindahkan perdebatan dari identitas organisasi menuju hasil kerja nyata bagi masyarakat. Kedua, membangun kembali pembacaan sejarah secara lebih proporsional. Ketiga, memperkuat koalisi naratif bersama jurnalis, akademisi, dan warga. Keempat, memanfaatkan celah algoritma media sosial agar pesan publik dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

 

 

“Keluar dari mode pembelaan diri. Publik lebih mudah terhubung pada cerita tentang manfaat nyata dibanding penjelasan administratif organisasi,” tegas Ismail Fahmi.
 

 

 

Diskusi juga menegaskan bahwa persoalan OMS tidak dapat dipahami sebagai “musuh bersama”, melainkan sebagai ancaman terhadap kepentingan bersama, terutama ketika ruang partisipasi warga, kritik publik, dan kerja pendampingan masyarakat semakin dipersempit. Para peserta menyoroti pentingnya membangun kembali front bersama antar gerakan sosial, OMS, akademisi, media, dan warga agar tersedia ruang aman dan solidaritas bagi para aktivis dan komunitas.

 

Melalui webinar ini, Yayasan SHEEP Indonesia berharap organisasi masyarakat sipil tidak hanya semakin memahami dinamika politik dan ekosistem digital yang berkembang, tetapi juga mampu merumuskan strategi yang lebih adaptif dalam menjaga legitimasi publik, memperkuat kepercayaan masyarakat, serta memastikan kerja-kerja pemberdayaan dan advokasi tetap relevan di tengah perubahan zaman. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi masyarakat sipil tidak hanya ditentukan oleh kualitas pengetahuan dan data yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuannya membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat, menghadirkan manfaat nyata, dan merawat ruang demokrasi secara bersama.

Image

Hubungi Kami

fas fa-phone-flip
far fa-envelope
fas fa-location-dot

Location

Yogyakarta 55221, Indonesia