Select your language


Kegiatan Program
Anak anak Menghadapi Krisis Iklim, Guru di 12 Sekolah Menguatkan Praksis dan Pemahaman untuk Integrasi Isu Iklim dalam Pembelajaran

YOGYAKARTA — Krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan dan bukan persoalan yang jauh dihadapi, melainkan ancaman nyata yang makin mengintai keselamatan dan hak-hak dasar anak saat ini dan di masa depan. Menanggapi krisis iklim yang menimbulkan kegelisahan, ketidaknyamanan, dan perubahan yang tidak menentu; maka Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) mengajak dan mendorong hampir 32 guru dari berbagai jenjang di 12 sekolah di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman untuk menyisipkan isu Keadilan Iklim dan Perlindungan Hak Anak (KIPHA) langsung ke dalam materi pembelajaran di kelas.
Inisiatif ini dibuka melalui Workshop Refreshment yang digelar di Narasena Co-Living, Yogyakarta, pada Senin (20/7/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal dari rangkaian panjang penguatan kapasitas pendidik dengan sasaran utama pada perlindungan hak anak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Mengapa Langkah Ini Menjadi Penting?
Anak-anak menjadi kelompok yang paling menanggung beban berat akibat perubahan iklim, mulai dari ancaman kesehatan hingga terganggunya proses belajar akibat bencana cuaca ekstrem. Data UNICEF mencatat Indonesia berada di posisi ke-46 dunia untuk tingkat risiko iklim tertinggi bagi anak, termasuk tingginya tingkat emisi karbon yang mengganggu kehidupan anak-anak.
Sayangnya, kesiapan sistem pendidikan masih belum sejalan dengan ancaman tersebut. Laporan UNESCO (2024) mengungkap kurang dari 30% guru yang merasa siap mengajar topik perubahan iklim. Kesenjangan inilah yang coba ditutup oleh Program Keadilan Iklim bagi perlindungan hak anak (KIPHA) melalui penguatan, praktek dan sharing intensif bagi para pendidik.

Momen Kunci dan Proses Workshop
Selama sehari penuh, para guru lintas jenjang (SD, SMP/MTs, hingga SMA/MA) diajak membedah isu iklim dari berbagai sudut pandang:
- Perspektif Hak Anak: Suparlan dari YSI menegaskan pentingnya menempatkan perlindungan anak sebagai pusat dalam setiap aksi iklim. Dengan metode kanvas, Guru diajak untuk melihat 4 aspek : Lihat (apa yang berubah di sekolah akibat perubahan iklim), rasakan (Bagaimana perubahan mempengaruhi kehidupan anak dan haknya), lindungi (apa upaya yang dibuat untuk memberi rasa aman dan perlindungan), dan ubah ( apa yang perlu diubah agar lebih tangguh, beradaptasi dan membawa perubahan jangka panjang), serta ajarkan (pengalaman yang dapat diberikan ke anak-anak).
- Realita Tren Iklim DIY: Reni Kraningtyas, S.P., M.Si. (Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY) membeberkan data perubahan pola cuaca jangka panjang serta ancaman fenomena El Niño dan La Niña di wilayah DIY. Ia menekankan bagaimana kenaikan suhu bumi memicu cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada risiko bencana di lingkungan sekolah, serta memanfaatkan informasi dan teknologi supaya anak lebih kritis mengamati sekitarnya. Selain itu, informasi juga memberi gambaran sekolah, guru dan anak akan menyikapi.
- Strategi Masuk ke Kurikulum: Dr. Sri Sulastri, M.Pd. (Direktur Yayasan BOPKRI DIY) memandu guru memetakan celah dalam modul ajar yang bisa disisipi nilai-nilai keadilan iklim. Selain itu juga menekankan pada monitoring dan evaluasi dari pengalaman dan praktek mengintegrasikan, sehingga memberi perubahan yang berarti bagi anak-anak.

Melalui sesi interaktif ini, seluruh peserta berhasil menyamakan persepsi dan membangun pemahaman mendasari. Guru-guru kini mengantongi pemetaan awal mengenai titik-titik masuk (entry point) isu KIPHA yang siap diturunkan ke dalam rancangan pembelajaran di sekolah. Selain itu antar sekolah juga saling belajar dari pengalaman yang mulai teridentifikasi dan menjadi pembelajaran yang dapat terdokumentasi bersama.
EN 