office@sheepindonesia.org

Select your language

Image
Image

Belajar Keadilan Iklim dari Timbulsloko

 

“Di sini dulu sawah?” Pertanyaan itu muncul ketika perahu bergerak menuju Dusun Timbulsloko, Demak, membawa 32 guru dari 12 sekolah mitra Yayasan SHEEP Indonesia (YSI). Pemandangan yang bagi warga telah menjadi bagian dari keseharian tersebut menjadi pengalaman baru bagi para guru.

Timbulsloko merupakan salah satu wilayah pesisir Demak yang telah menghadapi banjir rob dan penurunan muka tanah sejak tahun 1990-an. Perubahan lingkungan tersebut secara perlahan mempengaruhi ruang hidup masyarakat, mulai dari pemukiman, mata pencaharian, akses terhadap layanan dasar, hingga pendidikan anak-anak.

Kedatangan para guru ke Timbulsloko merupakan bagian dari kegiatan “Belajar Keadilan Iklim dari Kampung yang Ditenggelamkan Laut”. Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan guru dengan pengalaman masyarakat yang menghadapi dampak perubahan iklim secara langsung. Selama ini, perubahan iklim lebih sering hadir di ruang kelas melalui konsep, gambar, data, atau materi pembelajaran. Kunjungan ke Timbulsloko memberi pengalaman berbeda. Para guru dapat melihat secara langsung bagaimana perubahan lingkungan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

Mendengar Cerita dari Warga

Di Madin, para guru mendengarkan cerita dari Pak Shobirin, salah satu tokoh masyarakat Timbulsloko. Ia menceritakan perubahan dusun dari waktu ke waktu. Sawah yang dahulu menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat kini telah berubah total. Permukiman, akses jalan, aktivitas warga, dan ruang kehidupan masyarakat ikut terdampak oleh meningkatnya genangan.

Cerita tersebut kemudian dilanjutkan melalui percakapan langsung dengan warga. Para guru dibagi dalam beberapa kelompok dan didampingi oleh pemuda setempat untuk mengunjungi rumah-rumah warga. Mereka menggali pengalaman keluarga mengenai perubahan lingkungan, mata pencaharian, kehidupan sehari-hari, serta dampaknya terhadap keluarga dan anak-anak.

“Saya masih enggak nyangka, Mas, kalau ini dulu bahkan sawah,” ujar salah seorang guru ketika berkeliling di sekitar kampung.

 

 

Kunjungan dari rumah ke rumah juga memberikan berbagai catatan baru bagi para guru. Obrolan dengan warga Timbulsloko membuat guru tersadar bahwa banyak sekali hal yang  menurut kita biasa saja, namun ternyata menjadi hal yang sangat mewah di tempat ini. Mudahnya akses transportasi, ketersediaan tanah untuk beraktivitas sehari-hari, seperti menjadi tempat bermain anak, tempat berkumpul warga, menanam sayur dan pohon, dan lain sebagainya menjadi hal yang sudah sejak lama tidak bisa dirasakan oleh warga disini.

Cerita-cerita tersebut membantu para guru memahami bahwa dampak perubahan iklim tidak berhenti pada naiknya air. Perubahan lingkungan juga mempengaruhi tempat tinggal, penghidupan, akses terhadap layanan dasar, pendidikan, kesehatan, serta ruang bermain dan bersosialisasi anak.

Bagi anak-anak di Timbulsloko, kondisi tersebut dapat terlihat dari sulitnya akses menuju sekolah yang setiap hari harus ditempuh menggunakan perahu, atau berkurangnya ruang bermain yang aman bagi anak karena sebagian besar wilayah kampung yang tergenang.

 

Memperdalam Konteks Keadilan Iklim

Pengalaman di Timbulsloko membawa para guru pada pembahasan yang lebih luas mengenai keadilan iklim. Anak-anak yang tumbuh di wilayah yang terdampak perubahan iklim dapat menghadapi kondisi yang berbeda dengan anak-anak yang hidup di wilayah dengan risiko lebih rendah.

Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim juga berkaitan dengan pemenuhan hak anak. Hak untuk belajar, bermain, memperoleh pelayanan kesehatan, hidup dalam lingkungan yang aman, serta tumbuh dan berkembang tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan tempat anak tinggal.

Namun, masyarakat Timbulsloko tidak hanya menjadi pihak yang mengalami dampak. Mereka juga telah membangun berbagai cara untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Salah satunya dilakukan melalui pembangunan Rumah Apung bersama YSI sebagai salah satu upaya adaptasi.

 

 

Hal ini menjadi bagian penting dari proses belajar para guru. Mereka tidak hanya melihat kerentanan masyarakat, tetapi juga melihat pengetahuan, pengalaman, inisiatif, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan.

Setelah melakukan wawancara dan pengamatan, para guru kembali berkumpul untuk mengolah berbagai temuan yang mereka dapatkan. Beberapa topik yang dibahas antara lain terkait sarana bermain anak, pendidikan dan pengasuhan, gizi dan pangan, air bersih dan sanitasi, ekonomi, serta  kesehatan warga dari Timbulsloko.

Ide-ide yang muncul dari kunjungan ini selanjutnya akan dibawa ke ruang kelas melalui berbagai mata pelajaran, seperti IPAS, Pendidikan Pancasila, bahkan Bahasa Indonesia. Mencantumkan Timbulsloko sebagai contoh nyata dirasa akan memunculkan kesan bahwa fenomena Perubahan Iklim itu sangat dekat. Bukan lagi nanti, bukan lagi jauh disana. Perubahan Iklim sudah di depan mata.

Timbulsloko juga diharapkan dapat menjadi pembelajaran atas rasa empati, ikhlas, dan syukur. Empati ditumbuhkan lewat cerita warga Timbulsloko yang penuh dengan penderitaan yang bahkan tidak pernah mereka pilih. Rasa ikhlas ditunjukkan secara tidak langsung oleh seluruh warga masyarakat, yang walaupun dihadapkan dengan banyak sekali tantangan tetap gigih bertahan serta masih menyempatkan diri untuk berprasangka baik terhadap Tuhan. Syukur juga ditunjukkan lewat tetap tegarnya warga, serta tidak hentinya mereka beradaptasi walaupun dengan kondisi yang bagi orang lain sangatlah menantang.

Menurut Rizky, staf Program KIPHA (Keadilan Iklim Untuk Perlindungan Hak Anak), Kunjungan lapangan membantu guru dan juga anak memahami persoalan secara lebih utuh. “Pendidikan iklim tidak cukup mengajarkan apa itu perubahan iklim di sekolah secara teori. Anak juga perlu memahami siapa yang terdampak, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan dan hak mereka, serta bagaimana mereka dapat ikut menyuarakan perubahan,” pungkasnya.

Image

Hubungi Kami

fas fa-phone-flip
far fa-envelope
fas fa-location-dot

Location

Yogyakarta 55221, Indonesia