Select your language


Kegiatan Program
Mengingat Banjir Bandang Bangga 2019, Warga Memperkuat Kesiapsiagaan Berbasis Landscape

Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) telah memfasilitasi penguatan kapasitas Kelompok Kerja Peringatan Dini Berbasis Landscape di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada 8 Agustus 2026. Kegiatan tersebut melibatkan perwakilan masyarakat dan pemerintah desa dari Kecamatan Dolo Selatan dan Sigi Biromaru untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman banjir bandang.
Desa Bangga dipilih karena memiliki pengalaman panjang menghadapi bencana banjir bandang dengan dampak yang besar. Pada 28 April 2019, banjir bandang membawa lumpur setebal lebih dari dua meter, batu, dan kayu gelondongan yang menimbun pemukiman warga. Peristiwa tersebut lalu diikuti banjir susulan pada bulan Mei dan beberapa kejadian banjir lainnya sepanjang tahun 2019.
Pengalaman tersebut mendorong masyarakat untuk tidak hanya bersikap reaktif setelah bencana terjadi, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan sepanjang tahun melalui pemahaman terhadap tanda-tanda alam dan perubahan kondisi lingkungan.

Kegiatan penguatan kapasitas ini diikuti oleh 22 peserta, terdiri dari 19 peserta perwakilan kelompok kebencanaan, Posyandu, Karang Taruna, Pengelola PEM Bangga, RAPI, FPRB Kec. Dolo Selatan, serta perwakilan 3 pemerintah desa di Kecamatan Dolo Selatan dan Sigi Biromaru. Peserta berasal dari unsur pemerintah desa, relawan, tokoh masyarakat, kelompok perempuan, dan kelompok siaga bencana.
YSI memfasilitasi proses pembelajaran yang mencakup pengenalan sistem peringatan dini berbasis landscape, pembacaan informasi cuaca, pengamatan kondisi sungai, identifikasi tanda-tanda alam di wilayah hulu, pemetaan jalur evakuasi, dan penguatan mekanisme komunikasi antar desa.
Salah satu narasumber kegiatan, Mohamad Fathan dari Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al Jufri Palu, menjelaskan pentingnya mengenali pola pembentukan awan hujan, terutama awan Cumulonimbus (Cb) yang berpotensi menghasilkan hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat disertai petir dan angin kencang.
Masyarakat diajak memahami bahwa kemunculan awan Cumulonimbus di wilayah hulu perlu diwaspadai karena hujan lebat di pegunungan dapat meningkatkan debit sungai dan memicu banjir bandang yang membawa lumpur, batu, dan kayu. Selain itu, tanda-tanda seperti awan hitam pekat di wilayah hulu, suara guntur yang intens, suara gemuruh dari arah sungai, perubahan warna air menjadi sangat keruh, dan munculnya material kayu atau lumpur di aliran sungai dipelajari sebagai indikator peningkatan risiko banjir.
Dalam sesi diskusi, peserta mengidentifikasi beberapa titik pengamatan penting di wilayah hulu Sungai Ore dan Sungai Miu/Palu, antara lain Sabo DAM 3 Sungai Ore, Jembatan Simoro Sungai Miu/Palu, dan Jembatan Sambo Sungai Binangga, serta titik lainnya yang sudah disepakati. Titik-titik tersebut disepakati sebagai lokasi pemantauan awal ketika terjadi hujan lebat di daerah pegunungan.
YSI juga memfasilitasi penyusunan mekanisme komunikasi antar desa untuk mempercepat penyebaran informasi peringatan dini. Informasi dari pemantau di wilayah hulu direncanakan diteruskan melalui WA grup dan Radio HT sehingga masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan lebih awal.
YSI menekankan bahwa ancaman bencana tidak mengenal batas administratif desa. Kondisi di wilayah hulu dapat menentukan apa yang akan terjadi di wilayah hilir beberapa waktu kemudian. Karena itu, koordinasi antar desa menjadi bagian penting dari sistem peringatan dini.
Kepala Desa Bangga, Abrar Ganasatu, menyampaikan bahwa kemampuan mengenali tanda-tanda alam dan perubahan cuaca penting bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam menentukan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan secara lebih cepat.
Manajer Area Sulawesi Tengah YSI, Masturido, menegaskan bahwa penguatan kapasitas ini bertujuan menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pengurangan risiko bencana.

Salah satu peserta, Muhammad Farid, menyampaikan bahwa “kami adalah orang yang paling dekat dengan sungai, kami juga yang tahu betul kondisi sungai, kami juga yang berisiko terdampak banjir, maka kami juga yang memiliki kepentingan untuk selalu memantau dan melaporkan kondisi sungai kepada warga dan pemerintah agar dapat menjadi peringatan dini bagi seluruh warga yang ada di bantaran sungai di DAS Palu ”.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Bangga mulai membangun sistem peringatan dini yang menggabungkan pengetahuan lokal dengan informasi cuaca dari BMKG. Warga didorong aktif memantau kanal resmi BMKG, informasi cuaca Sulawesi Tengah, dan jaringan komunikasi kebencanaan di tingkat kabupaten.
Sebagai tindak lanjut, YSI bersama pemerintah desa dan Kelompok Kerja Peringatan Dini (Pokja EWS) merencanakan penyusunan SOP sistem peringatan dini Banjir berbasis lanskap DAS Palu dari Kecamatan Dolo Selatan, Sigi sampai Kelurahan Besusu Barat yang berada di muara pantai di Kota Palu.
EN 