office@sheepindonesia.org

Select your language

Image
Image

Kegiatan Program

Anak Membaca Keadilan Iklim; Refleksi atas Realitas dan Seruan bagi Masa Depan Bumi

 

YOGYAKARTA – Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) telah meluncurkan dan membedah buku Anak Membaca Keadilan Iklim dalam rangkaian Festival Iklim sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi iklim sekaligus memperluas ruang partisipasi anak dalam menyuarakan isu perubahan iklim. Buku ini merupakan kumpulan karya siswa dari berbagai sekolah mitra Yayasan SHEEP Indonesia yang lahir dari proses pembelajaran melalui Ekspedisi Keadilan Iklim di Dusun Timbulsloko, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

 

Berbeda dengan buku mengenai perubahan iklim pada umumnya, Anak Membaca Keadilan Iklim menyajikan pengalaman, pengamatan, dan refleksi anak-anak yang tergabung dalam Climate Justice Warrior setelah mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat yang hidup berdampingan dengan banjir rob. Melalui puluhan cerita, pembaca diajak melihat bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu bumi atau kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut kehidupan, penghidupan, dan hak masyarakat untuk hidup secara layak.

 

Belajar Langsung dari Masyarakat yang Terdampak

Seluruh tulisan dalam buku lahir dari pengalaman peserta saat mengikuti Ekspedisi Keadilan Iklim bersama Yayasan SHEEP Indonesia. Selama dua hari, para siswa tinggal bersama masyarakat Dusun Timbulsloko, melakukan observasi, wawancara, berdiskusi dengan warga, serta mendokumentasikan berbagai perubahan yang terjadi akibat banjir rob yang terus meningkat.

 

Salah satu kisah yang paling banyak muncul dalam buku adalah cerita mengenai perubahan wajah Dusun Timbulsloko. Pak Sobirin, tokoh masyarakat setempat, mengenang bagaimana desanya dahulu merupakan kawasan pertanian yang subur sebelum banjir rob mengubah kehidupan masyarakat.

 

"Mbak, Mas, Dukuh Timbulsloko sebelum tahun 2000 adalah daerah yang loh jinawi atau surga dunia. Pada zaman dahulu dukuh ini tanahnya subur sekali... Namun pada tahun 2010 hingga 2017, karena banjir rob yang makin parah, lahan tanah tidak bisa dioptimalkan lagi. Kehidupan kami berubah 180 derajat."

 

Melalui cerita tersebut, para penulis muda mulai memahami bahwa masyarakat yang paling merasakan dampak perubahan iklim sering kali bukan mereka yang menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi benang merah dalam hampir seluruh tulisan di dalam buku.

 

 

Menyaksikan Ketangguhan di Tengah Keterbatasan

Selain menggambarkan dampak krisis iklim, buku ini juga memperlihatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai keterbatasan. Para siswa menuliskan bagaimana warga tetap menjalani kehidupan sehari-hari meskipun rumah mereka terus digenangi rob, akses transportasi terbatas, serta mata pencaharian berubah akibat hilangnya lahan pertanian dan tambak.

 

Di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat masyarakat tetap terjaga. Pak Sobirin menutup kisahnya dengan pesan yang memberikan harapan.

 

"Karena kami percaya bahwa pada setiap cobaan pasti ada hikmah dibaliknya."

 

Bagi para penulis muda, perjumpaan dengan masyarakat Timbulsloko bukan sekadar kunjungan lapangan. Pengalaman tersebut mengubah cara pandang mereka mengenai arti ketahanan, gotong royong, dan pentingnya menjaga lingkungan agar krisis serupa tidak semakin meluas.
Membangun Kesadaran Melalui Tulisan

 

Setiap cerita dalam buku memperlihatkan cara anak memaknai keadilan iklim dari sudut pandang yang berbeda. Ada yang menulis tentang perjalanan menuju desa yang terendam banjir rob, ada yang mengangkat kisah warga yang kehilangan mata pencaharian, ada pula yang menyoroti kehidupan anak-anak yang tumbuh di tengah ancaman perubahan iklim.

 

Tulisan-tulisan tersebut tidak hanya menggambarkan fakta yang mereka temui, tetapi juga memuat pertanyaan kritis mengenai keadilan. Mengapa masyarakat yang hidup selaras dengan alam justru harus menanggung dampak terbesar dari kerusakan lingkungan? Mengapa anak-anak harus kehilangan ruang bermain, rasa aman, dan kesempatan memperoleh kehidupan yang lebih baik akibat krisis yang tidak mereka sebabkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi refleksi mendalam yang terus muncul dalam setiap kisah.

 

Di sisi lain, buku ini juga menghadirkan berbagai praktik baik yang dilakukan masyarakat dalam beradaptasi, mulai dari membangun jembatan kayu, memanfaatkan mangrove sebagai pelindung pesisir, hingga memperkuat solidaritas sosial untuk bertahan menghadapi perubahan yang terus berlangsung.

 

 

Menghadirkan Suara Anak dalam Gerakan Keadilan Iklim

Melalui Anak Membaca Keadilan Iklim, Yayasan SHEEP Indonesia menunjukkan bahwa anak memiliki kemampuan untuk mengamati, merefleksikan, dan menyampaikan persoalan lingkungan melalui karya tulis. Buku ini menjadi bukti bahwa pendidikan iklim tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi perlu menghadirkan pengalaman belajar yang memungkinkan anak melihat langsung realitas di lapangan, berdialog dengan masyarakat, dan menyusun gagasan berdasarkan pengalaman tersebut.

 

Lebih dari sekadar kumpulan cerita, Anak Membaca Keadilan Iklim menjadi dokumentasi perjalanan belajar sekaligus seruan agar semakin banyak pihak mendengarkan suara anak dalam menghadapi krisis iklim. Melalui tulisan-tulisan sederhana namun penuh makna, para penulis muda mengingatkan bahwa menjaga bumi merupakan tanggung jawab bersama, dan keadilan iklim hanya dapat terwujud ketika tidak ada lagi kelompok masyarakat yang harus menanggung dampak perubahan iklim seorang diri.

 

Sumber: Buku “Anak Membaca Keadilan Iklim”

Image

Hubungi Kami

fas fa-phone-flip
far fa-envelope
fas fa-location-dot

Location

Yogyakarta 55221, Indonesia