Select your language


Kegiatan Program
Inovasi Harus Berawal dari Manusia: Yayasan SHEEP Indonesia Perkuat Kapasitas Peer Humanitarian Partner Melalui Innovation Training

YOGYAKARTA – Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) melalui Program ToGether telah menyelenggarakan Innovation Training bagi Peer Humanitarian Partner (PHP) pada 29 hingga 30 Juni 2026 di Yogyakarta. Kegiatan penguatan kapasitas yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh perwakilan dari lima organisasi Peer Humanitarian Partner, yaitu YAPHI, Mitra Wacana, Jaga Balai, CAPPA, dan GKJW. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas peserta dalam mengembangkan inovasi pada aksi kemanusiaan melalui penerapan pendekatan Human-Centered Design (HCD) dan penguatan pola pikir inovatif di organisasi masing-masing. Seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari implementasi rencana kerja bersama Program TOGETHER tahun 2026 yang telah disusun dan disepakati oleh seluruh mitra.
Di tengah meningkatnya kompleksitas tantangan kemanusiaan akibat krisis iklim, bencana, dan perubahan kebutuhan masyarakat, pelatihan ini mendorong peserta untuk melihat inovasi sebagai sebuah proses yang lahir dari pemahaman terhadap kebutuhan manusia, bukan semata-mata dari perkembangan teknologi. Melalui metode pembelajaran yang partisipatif, peserta diajak memahami bahwa inovasi dapat diwujudkan melalui penyempurnaan cara kerja, penguatan kolaborasi, maupun pemanfaatan pengetahuan lokal yang telah berkembang di masyarakat.
Membangun Cara Pandang Baru tentang Inovasi
Kegiatan hari pertama dimulai dengan sesi perkenalan yang dirancang untuk membangun kedekatan antar peserta sekaligus menciptakan suasana belajar yang kolaboratif. Peserta kemudian bersama-sama menyusun aturan belajar, harapan, serta kekhawatiran selama mengikuti pelatihan.
Memasuki sesi Inovasi, fasilitator mengajak peserta mengidentifikasi berbagai tantangan yang masih dihadapi dalam kerja kemanusiaan. Diskusi mengungkap bahwa banyak program masih berorientasi pada kepentingan organisasi dibandingkan kebutuhan masyarakat. Peserta juga menyoroti lemahnya asesmen partisipatif, terbatasnya koordinasi dengan kelompok rentan, ego kelembagaan, serta pendekatan yang masih didominasi orientasi donor.
Melalui sesi Pengantar Inovasi, peserta mendiskusikan berbagai praktik inovasi yang telah berkembang di organisasi masing-masing. Berbagai contoh muncul dalam diskusi, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung komunikasi organisasi, penggunaan KoboCollect untuk pengumpulan data lapangan, pengembangan media pembelajaran organisasi keagamaan, hingga strategi pemasaran produk lokal berbasis storytelling. Refleksi bersama kemudian menegaskan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, melainkan mampu menghadirkan solusi yang lebih efektif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pada sesi Human-Centered Design, peserta diajak merefleksikan mengapa banyak respons kemanusiaan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Diskusi memperlihatkan bahwa proses perencanaan program seringkali belum menempatkan masyarakat sebagai pusat pengambilan keputusan. Temuan tersebut menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pendekatan Human-Centered Design sebagai kerangka berpikir dalam merancang program yang lebih responsif terhadap kebutuhan penerima manfaat.
Hari pertama ditutup dengan sesi Innovation Mindset yang mendorong peserta mengidentifikasi nilai-nilai penting dalam membangun budaya inovasi. Komunikasi, keberanian mencoba pendekatan baru, keterbukaan terhadap pembelajaran, optimisme, dan kolaborasi muncul sebagai nilai yang dianggap penting untuk membangun organisasi yang adaptif terhadap perubahan.

Mengubah Ide Menjadi Solusi
Memasuki hari kedua, pembelajaran difokuskan pada praktik penerapan tahapan Human-Centered Design melalui pendekatan Design Thinking. Setelah melakukan review pembelajaran hari pertama, peserta mulai memperhatikan setiap tahapan secara langsung menggunakan kasus nyata yang dihadapi organisasi masing-masing.
Sesi diawali dengan tahapan Empathy dan Define. Peserta menyusun persona untuk memahami kondisi, kebutuhan, tantangan, serta pengalaman kelompok sasaran dari sudut pandang mereka sendiri. Proses ini membantu peserta melihat bahwa keberhasilan sebuah inovasi sangat ditentukan oleh kemampuan memahami kebutuhan nyata masyarakat, bukan berdasarkan asumsi organisasi.
Selanjutnya peserta memasuki tahap Ideate dengan melakukan brainstorming untuk menghasilkan berbagai alternatif solusi. Beragam gagasan kemudian dipilih berdasarkan relevansi terhadap kebutuhan pengguna, potensi dampak, dan peluang implementasi di masing-masing organisasi.
Sebelum memasuki tahap pengembangan solusi, fasilitator mengajak peserta mendiskusikan aspek etika dalam inovasi kemanusiaan. Peserta mempertimbangkan prinsip do no harm, inklusivitas, perlindungan kelompok rentan, sensitivitas terhadap konteks sosial budaya, serta keberlanjutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proses inovasi.
Tahapan berikutnya adalah Prototype, ketika setiap kelompok mulai menerjemahkan ide menjadi bentuk awal yang dapat divisualisasikan dan diuji. Seluruh prototipe kemudian dipresentasikan pada sesi Tes untuk memperoleh umpan balik dari fasilitator maupun peserta lain. Melalui proses tersebut, peserta memahami bahwa inovasi merupakan proses yang terus berkembang melalui evaluasi dan penyempurnaan secara berkelanjutan.

Membangun Fondasi Ekosistem Inovasi Kemanusiaan
Pelatihan menghasilkan peningkatan pemahaman peserta mengenai Human-Centered Design serta memperkuat kemampuan mereka dalam mengembangkan solusi berbasis kebutuhan masyarakat. Evaluasi menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang interaktif, praktik langsung, diskusi kelompok, simulasi, dan refleksi membuat materi lebih mudah dipahami dan relevan dengan tantangan organisasi masing-masing.
Selain memperkuat kapasitas individu, Innovation Training juga mempererat jejaring pembelajaran antar Peer Humanitarian Partner. Interaksi lintas organisasi membuka ruang pertukaran pengalaman, berbagi praktik baik, dan memperkuat kolaborasi dalam menjawab berbagai tantangan kemanusiaan di wilayah kerja masing-masing.
Melalui kegiatan ini, Yayasan SHEEP Indonesia tidak hanya memperkuat pengetahuan peserta mengenai Human-Centered Design, tetapi juga menanamkan budaya inovasi yang berpusat pada kebutuhan masyarakat. Proses mentoring yang akan dilanjutkan setelah pelatihan diharapkan mampu mendampingi setiap organisasi dalam mengembangkan prototipe menjadi inovasi yang dapat diterapkan secara nyata, sehingga mampu menghadirkan respons kemanusiaan yang lebih efektif, adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
EN 