Select your language


Kegiatan Program
Sharing dan Praktek Pembelajaran : Integrasi Isu Keadilan Iklim bagi Perlindungan Hak Anak dengan Metode Menarik

SLEMAN di Bumi Cendekia— Usai penyegaran dan lebih menguatkan pemahaman di hari pertama, 32 Guru di 12 sekolah mulai mengidentifikasi pengalaman dan praktik yang telah berjalan sehingga semakin memberi perubahan nantinya di tahun ketiga.. Pada 21–22 Juli 2026, mereka berkumpul dalam Classroom Session yang digelar terpisah di SD Sanjaya Tritis Bagi guru di jenjang SD dan Kompleks Pesantren Bumi Cendekia pada jenjang SMP/MTs dan SMA/MA untuk dasar merancang modul pembelajaran berbasis keadilan iklim di masing-masing sekolah.
Pengelompokan per jenjang ini dinilai krusial agar metode penyampaian isu iklim benar-benar pas dan terfokus dengan usia dan daya tangkap Guru.
Dinamika Proses di Lapangan
Proses pengerjaan draf kurikulum berlangsung cair dan kaya inovasi di tiap jenjang:
- Sesi Jenjang SD (SD Sanjaya Tritis | Selasa, 21 Juli 2026)
Di tingkat sekolah dasar, fokus utama diarahkan pada pembentukan empati dan kepedulian lingkungan sejak dini. Mengapa fase dasar menjadi penting bagi pembentukan keingintahuan anak dan membentuk memori pada kondisi sekitar anak, apa yang diamati dan apa yang ditemukan.- Bernadetta Rini Susanti, S.Pd., M.M. dan Yustina Gina Aprinta Utami, S.Pd. membagikan konteks yang dapat diamati dan tantangan SD Sanjaya Tritis dalam mengintegrasikan isu KIPHA ke dalam aktivitas keseharian siswa. Sharing ini juga didukung penemuan persoalan yang kemudian menjadi titik temu dengan konteks dan isu keadilan iklim, persoalan ekologi dan ekonomi yang kemudian dikemas dan diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran.
- Para guru juga diajak berkeliling mengamati lingkungan sekolah sebagai media belajar alam yang nyata. Melihat persoalan melalui pengamatan anak dan guru sehingga menjadi pengalaman belajar yang riil sehingga harapannya anak mengingat dan menemukan.
- Dalam diskusi kelompok, guru-guru SD merumuskan gagasan belajar yang menyenangkan dan tidak menakutkan bagi anak usia dini.
- Adanya forum guru sebagai langkah saling diskusi menghadapi persoalan yang nanti dihadapi, tantangan yang harus direspon dengan lebih memberikan langkah belajar yang lebih kreatif.Forum guru ini kemudian diberi nama : Green action sabumi yang terdiri dari 4 sekolah (SD LHI Juara, SD BOPKRI Sidomulyo, SD BOPKRI Gondolayu, SD Sanjaya Tritis).

- Sesi Jenjang SMP & SMA/Pesantren (Pesantren Bumi Cendekia | Rabu, 22 Juli 2026)
Untuk jenjang menengah, pendekatan yang digunakan jauh lebih kritis dan lintas disiplin. - Taufik Ariyanto (Kepala SMA Bumi Cendekia) dan Wisnu Pratomo (Kepala SMP Bumi Cendekia) memandu penyusunan materi menggunakan pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic, & Social).
- 20 guru di 8 sekolah merancang modul yang menantang siswa menganalisis dampak sosial krisis iklim sekaligus merumuskan solusi teknologisnya.
- 20 guru di 8 sekolah diajak untuk melihat berbagai metode interaktif dan menarik serta kreatif untuk melihat banyak aspek Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic, dengan isu keadilan iklim.

Wacana dan Identifikasi : untuk Penyusunan Draf Kurikulum dan RTL yang menjadi gambaran Nyata
Di akhir rangkaian sesi, kegiatan ini membuahkan hasil konkrit:
- Gambaran dan Ide Integrasi Kurikulum: Setiap sekolah mitra memiliki dokumentasi praktek integrasi isu KIPHA ke dalam kurikulum dan modul ajar mereka.
- Dokumen Rencana Tindak Lanjut (RTL): Disusunnya poin di tiap sekolah sebagai pijakan menuju tahap lanjutan, yakni studi kunjungan dan workshop penyusunan bahan ajar final.
Langkah ini mempertegas komitmen sekolah-sekolah mitra untuk tak sekadar mengajar, tapi juga membentengi masa depan anak-anak dari ancaman krisis iklim
EN 