office@sheepindonesia.org

Select your language

Image
Image

Kegiatan Program

Menguatkan Suara Masyarakat melalui Advokasi untuk Menjaga Pangan Lokal

Kemandirian pangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Persoalan ini juga menyangkut pola konsumsi, produksi, akses pasar, hingga kebijakan yang memengaruhi keberlanjutan pangan lokal.

Melalui Program Sistem Pangan Lokal Yang Mandiri Dan Bekelajutan, Yayasan SHEEP Indonesia menyelenggarakan Pelatihan dan Workshop Canvas Advokasi di Sipora, Siberut, Kupang, dan Sabu Raijua. Kegiatan ini mempertemukan organisasi masyarakat sipil, media, Organisasi Masyarakat Basis, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat kemampuan dalam menyusun strategi advokasi sesuai konteks lokal.

Selama tiga hari, peserta mempelajari konsep dan praktik advokasi, mulai dari mengidentifikasi persoalan, menentukan isu prioritas, memetakan aktor, menyusun pesan, memilih strategi, hingga merancang peta jalan advokasi.

 

Wilayah program SSRLFS memiliki beragam sumber pangan lokal seperti jagung, pisang, ubi-ubian, kacang-kacangan, hasil laut, serta pangan hewani. Namun, ketergantungan terhadap beras terus meningkat. Perubahan pola konsumsi, akses pasar, serta orientasi kebijakan pangan terhadap komoditas tertentu turut memengaruhi kondisi tersebut.

Tekanan terhadap sistem pangan juga datang dari perubahan iklim dan bencana. Curah hujan ekstrem, musim yang tidak menentu, gagal panen, banjir, longsor, hingga gelombang tinggi dapat mengganggu produksi dan distribusi pangan. Peserta juga menemukan persoalan lain seperti keterbatasan benih lokal, praktik monokultur, rendahnya produktivitas, keterbatasan pengolahan, hingga akses pasar.

Workshop menjadi ruang bagi peserta untuk merefleksikan pengalaman dan melihat persoalan pangan dari berbagai sudut. Salah satu pembelajaran penting adalah keberanian menggunakan ruang yang tersedia untuk menyuarakan kebutuhan masyarakat. Namun, pengalaman peserta juga menunjukkan bahwa menyampaikan aspirasi saja belum cukup. Advokasi membutuhkan strategi yang jelas, target yang tepat, bukti, dan dukungan jaringan.

Peserta kemudian mempelajari Canvas Advokasi untuk menghubungkan masalah dengan perubahan yang ingin dicapai. Mereka memetakan pihak yang memiliki kewenangan, aktor yang dapat memengaruhi keputusan, serta pihak yang berpotensi menjadi pendukung.

 

 

Proses ini menghasilkan sejumlah isu prioritas, termasuk keberlanjutan produksi pangan, ketersediaan air, akses perdagangan, dan dukungan kebijakan terhadap pangan lokal. Melalui kerja bersama, peserta mulai menyusun strategi dan peta jalan advokasi sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.

Mengakhiri dinamika selama 3 hari; Nova, salah satu peserta menyampaikan pandanganya terhadap Advokasi “Selama tiga hari ini menjadi suatu hal yang sangat luar biasa. Selain belajar tentang advokasi, kita juga belajar bagaimana dari pangan lokal yang kita hasilkan itu bisa mendorong pemerintah memberikan suatu kebijakan dan perlindungan,” ujarnya.

Penguatan kemandirian pangan membutuhkan masyarakat yang mampu menyuarakan kepentingannya serta kebijakan yang berpihak pada sistem pangan lokal. Workshop ini menjadi langkah untuk mengubah pengalaman dan persoalan di tingkat masyarakat menjadi agenda perubahan yang dapat diperjuangkan bersama.

 

Image

Hubungi Kami

fas fa-phone-flip
far fa-envelope
fas fa-location-dot

Location

Yogyakarta 55221, Indonesia