Select your language


Kegiatan Program
Perkuat Integrasi Layanan Primer,YSI Dorong Posyandu Keluarga Inklusi di Aceh Timur
Â
Penguatan pelayanan kesehatan primer tidak hanya membutuhkan fasilitas kesehatan yang siap memberikan pelayanan, tetapi juga masyarakat yang mampu mengenali, mengakses, dan memanfaatkan layanan kesehatan sejak tingkat keluarga. Semangat inilah yang menjadi bagian dari upaya Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) dalam mengembangkan Posyandu Keluarga Inklusi sebagai pendekatan untuk memperkuat pelayanan kesehatan berbasis keluarga dan masyarakat.
Melalui Proyek HAP KPP, YSI telah melaksanakan Pelatihan Fungsi 5 Meja Posyandu dan Pemanfaatan Tanaman Obat pada 21 September 2026 di TPA Desa Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Kegiatan tersebut diikuti oleh 24 peserta yang terdiri dari kader Posyandu, bidan dan petugas kesehatan, perwakilan Puskesmas Simpang Jernih, pemerintah desa, dukun kampung, serta tim YSI. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13 peserta merupakan kader Posyandu dari Desa Batu Sumbang dan Pante Kera, sementara 11 peserta lainnya berasal dari unsur tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan YSI.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader kesehatan, bidan kampung, bidan desa dan tenaga kesehatan serta pemerintah desa dalam mendukung Integrasi Layanan Primer (ILP), khususnya melalui penguatan peran Posyandu sebagai bagian dari jejaring pelayanan kesehatan primer yang dekat dengan keluarga. Posyandu yang menjadi sasaran penguatan berada di Desa Batu Sumbang dan Desa Pante Kera dengan jumlah sasaran sebanyak 225 keluarga atau 1.020 penerima manfaat.
Â
Dari Integrasi Layanan Primer ke Tingkat Keluarga
Â
ILP mendorong pelayanan kesehatan primer yang lebih terintegrasi, komprehensif, dan berorientasi pada siklus hidup. Dalam kerangka tersebut, Posyandu memiliki posisi penting karena menjadi salah satu titik pelayanan yang paling dekat dengan masyarakat.
YSI telah mengembangkan pendekatan Posyandu Keluarga Inklusi untuk memperkuat posisi tersebut. Pendekatan ini menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari pelayanan, memperhatikan kebutuhan sepanjang siklus hidup, serta mendorong keterlibatan kelompok yang menghadapi hambatan dalam mengakses layanan kesehatan.
Dengan pendekatan tersebut, Posyandu tidak hanya dipandang sebagai tempat pelayanan pada saat hari buka, tetapi juga sebagai bagian dari sistem dukungan kesehatan masyarakat yang mampu mengenali kebutuhan keluarga, memberikan edukasi, melakukan deteksi dini, memantau kondisi kesehatan, dan menghubungkan masyarakat dengan tenaga maupun fasilitas kesehatan.
Di Desa Pante Kera dan Batu Sumbang, pendekatan tersebut telah diterapkan melalui dialog melalui pertemuan yang melibatkan 10 keluarga dan 11 kader serta 1 bidan desa.Â
Â
Memperkuat Kader sebagai Penghubung Layanan
Dalam implementasinya, kapasitas kader menjadi salah satu fondasi penting. Karena itu, pelatihan difokuskan pada penguatan keterampilan kader dalam menjalankan lima fungsi pelayanan Posyandu, yaitu pendaftaran, penimbangan dan pengukuran, pencatatan, penyuluhan atau edukasi, serta pelayanan dan tindak lanjut.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga melakukan praktik dan simulasi alur pelayanan. Melalui proses tersebut, kader telah dilatih untuk melakukan pencatatan dengan benar, berkomunikasi secara ramah dan inklusif, mengenali masalah kesehatan, serta menentukan tindak lanjut atau rujukan sesuai kebutuhan.
Dalam pelaksanaannya, sebanyak 13 kader Posyandu mengikuti simulasi penerapan lima fungsi meja Posyandu dengan menggunakan berbagai alat praktik, seperti timbangan, pita LILA, tensimeter, dan peralatan pendukung lainnya. Simulasi dilakukan untuk memperkuat pemahaman kader mengenai tahapan dan fungsi masing-masing meja dalam penyelenggaraan layanan Posyandu.
Berdasarkan hasil evaluasi, sebanyak 90% peserta menunjukkan pemahaman yang baik terhadap konsep dan fungsi lima meja Posyandu. Hasil ini menunjukkan bahwa simulasi dapat membantu meningkatkan pemahaman kader mengenai alur dan pelaksanaan pelayanan Posyandu secara lebih praktis.
Penguatan kapasitas kader diharapkan dapat semakin memperkuat keterhubungan antara keluarga, kader, Posyandu, bidan, Puskesmas, dan pemerintah desa sebagai bagian dari ekosistem pelayanan kesehatan primer di tingkat masyarakat. Dengan pemahaman dan keterampilan yang lebih baik, kader diharapkan mampu menjalankan peran secara lebih percaya diri dan memberikan layanan Posyandu sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya.
Bu Indun, kader Desa Pante Kera, menyampaikan bahwa pelatihan ini menjawab kebutuhan kader untuk memahami tahapan pelayanan Posyandu berbasis siklus hidup, mulai dari ibu hamil hingga lansia. Pemahaman ini membuat kader lebih percaya diri dalam memberikan layanan yang tepat, inklusif, dan berkesinambungan sesuai kebutuhan setiap kelompok usia.
Â
Membangun Posyandu yang Lebih Inklusif
Keterlibatan 24 peserta dari berbagai unsur telah menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman bersama mengenai penguatan pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Kolaborasi antara kader, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dukun kampung, dan YSI diharapkan dapat memperkuat jejaring pelayanan serta mendukung keberlanjutan Posyandu di kedua desa.
Dalam pendekatan Posyandu Keluarga Inklusi, kelompok sasaran prioritas adalah kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan kesehatan lebih spesifik, tingkat kerentanan lebih tinggi, atau menghadapi hambatan dalam memperoleh pelayanan kesehatan secara optimal. Kelompok ini meliputi ibu hamil, bayi dan balita, lanjut usia, serta penyandang disabilitas.
Penetapan kelompok tersebut sebagai sasaran prioritas bukan berarti mengesampingkan anggota masyarakat lainnya, tetapi memberikan perhatian dan dukungan yang lebih terarah sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok. Melalui pendekatan ini, Posyandu diharapkan mampu melakukan identifikasi kebutuhan, pemantauan kondisi kesehatan, edukasi, pemberian layanan dasar, serta rujukan apabila ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan Posyandu Keluarga Inklusi menjangkau 250 partisipan dari kelompok sasaran prioritas tersebut.
Bagi YSI, Posyandu Keluarga Inklusi merupakan pendekatan untuk mendekatkan prinsip Integrasi Layanan Primer kepada kehidupan sehari-hari keluarga dan masyarakat. Pendekatan ini diarahkan agar pelayanan tidak berhenti ketika masyarakat datang ke Posyandu, tetapi juga mendorong kemampuan untuk mengenali kebutuhan, menjangkau kelompok rentan, memberikan edukasi, melakukan pemantauan, serta menghubungkan keluarga dengan layanan yang dibutuhkan.
Â
Memanfaatkan Potensi Lokal secara Aman
Â
Pelatihan juga telah memperkenalkan pemanfaatan tanaman obat yang tersedia di lingkungan masyarakat sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif berbasis potensi lokal.
Peserta telah belajar mengenali tanaman, memilih bahan yang layak, menjaga kebersihan, melakukan pengolahan sederhana, serta memahami cara penyimpanan dan batasan penggunaannya. Tanaman obat yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut antara lain Jahe, Serai, dan Kunyit.
Pelatihan tanaman obat tidak diarahkan semata-mata pada praktik mengolah tanaman menjadi ramuan, tetapi menjadi ruang untuk menggali dan mendokumentasikan pengetahuan kesehatan yang telah hidup di tengah masyarakat. Peserta diajak mengenali tanaman obat yang tumbuh di kebun, pekarangan rumah, dan lingkungan sekitar, kemudian berbagi pengalaman tentang bagaimana tanaman tersebut selama ini dimanfaatkan.
Melalui fasilitasi diskusi, peserta bersama-sama mengidentifikasi jenis tanaman, manfaatnya untuk keluhan atau penyakit tertentu, cara pengolahan, serta cara penggunaannya. Proses ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan lokal yang dapat menjadi sumber pembelajaran penting dalam pengembangan upaya kesehatan berbasis komunitas.
Bagi YSI, proses tersebut tidak berhenti pada transfer informasi tentang tanaman obat. Pengalaman dan pengetahuan masyarakat dapat diolah menjadi pengetahuan bersama, direfleksikan, didokumentasikan, dan dikembangkan menjadi media edukasi atau inovasi program yang lebih kontekstual. Dengan demikian, pelatihan menjadi bagian dari siklus pengalaman → refleksi → pembelajaran → dokumentasi → perbaikan praktik, sekaligus memperkuat posisi masyarakat sebagai subjek dan pemilik pengetahuan dalam upaya meningkatkan kesehatan.
Aspek keamanan menjadi perhatian penting dalam pemanfaatan tanaman obat agar penggunaannya dilakukan secara tepat, aman, dan tidak menggantikan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan profesional. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya kebersihan bahan dan proses pengolahan, cara penggunaan yang tepat, dosis atau takaran yang wajar, serta batasan dalam pemanfaatannya.
Peserta juga diberikan pemahaman bahwa penggunaan tanaman obat tidak sepenuhnya bebas dari risiko. Kesalahan dalam mengenali jenis tanaman, penggunaan bagian tanaman yang tidak tepat, dosis yang berlebihan, atau pengolahan yang kurang higienis dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan, seperti gangguan pencernaan, reaksi alergi, keracunan, atau kontaminasi mikroba. Selain itu, beberapa tanaman atau ramuan dapat berinteraksi dengan obat yang sedang dikonsumsi sehingga berpotensi mengurangi efektivitas obat atau menimbulkan efek samping.
Karena itu, peserta diarahkan untuk mengenali kondisi kesehatan yang tidak dapat ditangani hanya dengan tanaman obat, seperti gejala yang berat, menetap, memburuk, atau memerlukan diagnosis dan pengobatan medis. Pada kondisi tersebut, masyarakat perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dengan demikian, pemanfaatan tanaman obat ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan berbasis pengetahuan masyarakat, dengan tetap memperhatikan prinsip keamanan, kehati-hatian, dan rujukan ke pelayanan kesehatan apabila diperlukan.
Â
Dari Pelatihan Menuju Praktik
Pelatihan telah menjadi langkah awal untuk memastikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan Posyandu di Batu Sumbang dan Pante Kera. Melalui rencana tindak lanjut, kader akan menerapkan hasil pembelajaran melalui praktek 5 fungsi meja dalam layanan kesehatan di Posyandu yang dijadwalkan pada setiap awal bulan baik di Desa Pante Kera dan Batu Sumbang.
Rencana tindak lanjut tersebut akan melibatkan 11 kader, 2 bidan kampung, 2 tenaga kesehatan, dan 2 unsur pemerintah desa. Kegiatan akan difokuskan pada layanan kesehatan Posyandu, edukasi PHBS (di sekolah & desa), dan Kesehatan Reproduksi.
Di tengah proses pemulihan pascabencana, penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan kesehatan. Dengan memperkuat kader, mempererat jejaring dengan Puskesmas dan pemerintah desa, serta mengembangkan Posyandu yang berorientasi pada keluarga dan inklusivitas, YSI telah mendorong terbentuknya layanan kesehatan primer yang semakin dekat, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
EN 