office@sheepindonesia.org

Select your language

Image
Image

Kegiatan Program

Integrasi Pembelajaran: Ketika Sekolah Menjadi Peduli Keadilan Iklim demi Masa Depan dan Hak Anak

 

 

Di tengah perbincangan global mengenai krisis iklim yang kian memanas, sebuah pertanyaan mendasar kerap terabaikan: siapakah pihak yang paling menanggung dampak jangka panjang dari kerusakan bumi ini? Jawabannya jelas: anak-anak kita. Sayangnya, isu lingkungan sering kali berhenti sebagai wacana di luar kelas atau sekadar sisipan seremonial tanpa akar yang kuat. Padahal, pendidikan memegang peran kunci untuk menumbuhkan kesadaran kritis sejak dini.

Berangkat dari urgensi tersebut, Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) melalui Program Keadilan Iklim untuk Perlindungan Hak Anak (KIPHA) mengambil langkah nyata. Program ini mendampingi 12 sekolah mitra yang tersebar di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, mencakup berbagai jenjang pendidikan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA/MA). Ke-12 institusi pendidikan tersebut meliputi: SD Sanjaya Tritis, SD BOPKRI Gondolayu, SD BOPKRI Sidomulyo 1,SD LHI Juara,SMP BOPKRI 3 Yogyakarta, SMP Bumi Cendekia, SMP IT Abu Bakar, MTs Masyithoh, SMA Bumi Cendekia, MA Nur Iman, SMA BOPKRI 2, MA Masyithoh,

 

Perjalanan Panjang dari Konsep ke Realitas Lapangan

Upaya mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam ruang-ruang belajar bukanlah hal yang instan. Sebelum sampai pada tahap implementasi, para guru dari sekolah-sekolah mitra ini telah melalui rangkaian proses penguatan kapasitas yang mendalam dari pemahaman, sharing sampai dengan observasi dan mencari referensi lapangan yang mendukung untuk inspirasi pembelajaran..

Pada 20 hingga 22 Juli 2026, para guru mengikuti workshop penyegaran (refreshment) guna menyamakan persepsi, membaca tren iklim di Daerah Istimewa Yogyakarta bersama BMKG, serta merumuskan strategi memasukkan isu KIPHA ke dalam kurikulum. Tak berhenti di ruang kelas, ikhtiar ini berlanjut pada 21 hingga 22 Agustus 2026 melalui studi kunjungan nyata ke Dusun Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Di kampung pesisir tersebut, para guru menyaksikan langsung bagaimana ruang hidup warga terus menyusut akibat penurunan muka tanah, hilangnya hutan mangrove, dan kenaikan muka air laut. Pertemuan langsung dengan masyarakat yang menanggung beban krisis iklim ini memberikan kualitatif yang kuat: bahwa perubahan iklim bukan lagi teori di atas kertas, melainkan ancaman nyata bagi masa depan ruang hidup anak-anak.

Menuju Kurikulum yang Kontekstual dan Berkelanjutan

Agar pengalaman dan wawasan dari lapangan tidak sekadar menjadi catatan pribadi, Yayasan SHEEP Indonesia mengajak mengintegrasikan isu keadilan iklim dalam tahapan dan pross yang kemudian dilanjutkan dengan menyelenggarakan Workshop Finalisasi Rencana Pembelajaran Terintegrasi Isu Keadilan Iklim untuk Perlindungan Hak Anak pada Rabu, 23 September 2026 yang diikuti 30 orang terdiri dari guru dan kepala sekolah , bertempat di Grand Kangen Hotel, Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, setiap sekolah mempresentasikan rancangan proyek pembelajaran mereka berdasarkan 8 komponen wajib, yang meliputi:

  • Lokus integrasi pembelajaran (mata pelajaran, projek penguatan profil pelajar, kokurikuler, atau pembiasaan sekolah)

  • Tema dan topik pembelajaran terintegrasi

  • Sasaran peserta didik (kelas dan perkiraan jumlah siswa)

  • Guru penanggung jawab

  • Waktu pelaksanaan dan durasi

  • Indikator keberhasilan serta bentuk asesmen

  • Ruang partisipasi aktif anak

  • Bentuk dukungan yang dibutuhkan dari Program KIPHA

 

 

 

Dengan pelibatan aktif Kepala Sekolah dan guru perwakilan dari masing-masing instansi, workshop ini menghasilkan integrasi isu keadilan iklim dalam pembelajaran dan kegiatan sekolah melalui nilai-nilai keadilan iklim dapat dijahit secara sistematis, realistis, dan kontekstual ke dalam kegiatan sekolah sehari-hari tanpa menambah beban administratif yang berlebihan. Selain itu, masing-masing sekolah juga membuat indikator di setiap proses kurikulum, project sekolah dan kegiatan. Di dalam kegiatan ini ada 12 integrasi iklim dalam kurikulum dan konsep kegiatan belajar anak, selain itu juga ditambah modul belajar anak sebagai panduan bersama.

Ketika sekolah mampu merajut kepedulian lingkungan dan mampu menyikapi ketidakadilan iklim yang terjadi di sekitar, maka kedepannya sekolah juga mampu selalu mengajarkan anak untuk kritis, mampu menyikapi dan membawa literasi dalam kehidupan. Kepedulian dan kepekaan ini juga dibawa ke dalam ruang belajar, di sanalah benih-benih keadilan iklim mulai tumbuh—mempersiapkan generasi muda Yogyakarta yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tangguh dan peduli terhadap masa depan bumi tempat mereka tinggal.

Image

Hubungi Kami

fas fa-phone-flip
far fa-envelope
fas fa-location-dot

Location

Yogyakarta 55221, Indonesia