Select your language


Kegiatan Program
OMS Sabu Raijua Mendorong Pangan Lokal Masuk dalam Pembelajaran di Sekolah

OMS di Kabupaten Sabu Raijua mendorong pentingnya penguatan pengetahuan pangan lokal melalui pendidikan di sekolah. Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan yang melibatkan Ecologica, TBM Amin, Komunitas Iman, Media Pelopor 9, serta perwakilan guru dari SMP Negeri 8 Sabu Barat.
Pertemuan tersebut membahas pentingnya kurikulum muatan lokal pangan lokal di satuan pendidikan. Para peserta melihat bahwa pengetahuan masyarakat mengenai pangan lokal telah berkembang dan diwariskan melalui praktik sehari-hari, mulai dari produksi, konsumsi, hingga perdagangan. Namun, pengetahuan tersebut perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tetap relevan dan tidak terputus.
Temuan dari Kegiatan Sebelumnya
Dalam diskusi, peserta membahas temuan dalam kegiatan yang dilakukan sebelumnya bersama pemerintah desa, perwakilan sekolah, kader kesehatan dalam agenda diseminasi hasil survei pangan lokal dengan isu kesehatan masyarakat terkait mulai hilangnya pengetahuan tentang pangan lokal di kalangan generasi muda. Fajar rizki anggota perwakilan guru juga menyampaikan “Pangan lokal bukan sekadar makanan khas daerah, tetapi merupakan sumber kekuatan ekonomi, budaya, dan ketahanan pangan masyarakat. Mengembangkan dan mengonsumsi pangan lokal merupakan bentuk menjaga kemandirian pangan dan menghargai potensi daerah sendiri. Sehingga penting untuk sejak dini mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap pangan lokal di sekolah”.
“Kabupaten Sabu Raijua merupakan pulau yang terisolir. Ketika terjadi bencana, badai, dan cuaca ekstrim yang berkepanjangan maka distribusi akan terganggu dan kita terancam kekurangan persediaan pangan. Oleh karena itu, selain memproduksi dan mengkonsumsi kembali pangan lokal, perlu pendokumentasian pengetahuan mulai dari produksi, konsumsi bahkan perdagangan pangan lokal untuk diwariskan kepada anak cucu, supaya tidak kelaparan di masa yang akan datang, karena ketergantungan yang tinggi pada pasokan pangan dari luar.” ujar Ramlin Bunga, perwakilan dari Komunitas Iman, OMS Sabu Raijua yang konsen pada isu literasi dan pendidikan.
Membawa Pangan Lokal ke Ruang Kelas
Dorongan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal tersebut juga berkaitan dengan semakin rendahnya produksi, konsumsi dan perdagangan pangan lokal, sehingga makin meningkatnya ketergantungan pangan masyarakat terhadap produk dari luar. Pangan lokal semakin jauh dari percakapan masyarakat sabu, belum banyak dimanfaatkan sebagai solusi masalah ekonomi dan kesehatan, pangan lokal semakin asing terutama bagi anak-anak dan orang muda karena kurangnya ruang edukasi bagi mereka, baik di lingkungan rumah tangga maupun sekolah. Melalui pembelajaran di sekolah, anak-anak diharapkan dapat mengenal kembali potensi pangan yang ada di lingkungan mereka dan memahami proses yang membentuk sistem pangan lokal.
Menyatukan Langkah untuk Mendorong Kebijakan
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya OMS dan berbagai pihak di Sabu Raijua untuk mengkonsolidasikan langkah dengan menyamakan persepsi pentingnya kebijakan kurikulum dan upaya bersama dalam mendorongnya.
Setelah diskusi, peserta menyepakati mengumpulkan materi tentang pangan lokal yang dihasilkan OMS maupun penulis jurnal, buku maupun arsip, diantaranya termasuk buku hasil pembelajaran sekolah lapang pangan lokal yang dihasilkan oleh YSI, serta melakukan audiensi kepada Dinas Pendidikan untuk bersama mewujudkan kurikulum pangan lokal, Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pengetahuan yang hidup di masyarakat dengan proses pembelajaran di sekolah.
EN 