office@sheepindonesia.org

Select your language

Image
Image

Aktor Desa di Aceh Timur Perkuat Kesiapsiagaan

 

 

Ketika banjir melanda, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang terdampak. Proses belajar terganggu, layanan kesehatan terhambat, dan lingkungan tempat tinggal menjadi kurang aman. Kondisi tersebut dialami masyarakat Desa Pante Kera dan Desa Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, saat banjir bandang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025.

Hasil in-depth assessment menunjukkan bahwa lebih dari 66% anak mengalami gangguan dalam proses belajar. Layanan Polindes dan Posyandu juga terdampak sehingga tidak dapat berjalan secara optimal. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesiapsiagaan perlu diperkuat sejak tingkat desa dengan melibatkan aktor yang berada dekat dengan anak dan keluarga.

Atas dasar tersebut, Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) menyelenggarakan Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Banjir dan Perubahan Iklim bagi Pemerintah Desa, Bidan, Kader Posyandu, dan Guru PAUD/TK/SD pada 29 Agustus 2026 di SD Batu Sumbang. Sekitar 32 peserta dari kedua desa mengikuti kegiatan tersebut.

 

 

Memahami Risiko Banjir dan Perubahan Iklim

 

Dalam pelatihan, peserta membahas pengalaman banjir di Aceh dan kaitannya dengan perubahan iklim. Fasilitator dari Komisi Manajemen Bencana YSI juga memperkenalkan konsep ancaman, kerentanan, dan kapasitas.

Peserta kemudian mengidentifikasi risiko di masing-masing desa; Penilaian di Desa Pante Kera dan Desa Batu Sumbang menunjukkan bahwa ancaman banjir tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga mengganggu pendidikan, kesehatan, dan perlindungan anak. Lebih dari 66% anak mengalami gangguan dalam proses belajar, sementara layanan Polindes dan Posyandu tidak berfungsi. Di sisi lain, kapasitas pemerintah desa, bidan, kader kesehatan, dan guru dalam kesiapsiagaan banjir dan menghadapi risiko perubahan iklim masih perlu diperkuat. Kondisi tersebut menjadi dasar pentingnya membangun kesiapsiagaan dan pembagian peran yang lebih jelas di tingkat desa. 

“Desa perlu mengenali risikonya sejak awal dan mengetahui siapa melakukan apa ketika kondisi darurat terjadi, terutama untuk memastikan anak-anak tetap aman dan kebutuhan dasarnya terpenuhi,” ujar Evi Novita Setyaningrum, sebagai fasilitator memberikan simpulan dari proses diskusi

 

Belajar dari Pengalaman 

 

Diskusi kelompok mendorong peserta menyusun langkah kesiapsiagaan sesuai peran masing-masing. Pemerintah desa membahas koordinasi dan pengelolaan sumber daya. Bidan dan kader kesehatan membahas keberlanjutan layanan kesehatan serta kebutuhan kelompok rentan. Guru membahas keselamatan, dukungan psikososial, dan keberlanjutan pendidikan anak.

Hasil diskusi menghasilkan beberapa kesepakatan pemangku kepetingan yang hadir diantaranya; Bagi pemerintah desa, kesiapsiagaan berkaitan dengan koordinasi dan pengorganisasian sumber daya serta pemenuhan sanitasi dan air bersih. Bagi bidan dan kader kesehatan, kesiapan berkaitan dengan keberlanjutan layanan kesehatan, penigkatan kapasitas kader kesehatan & Bidan Desa serta perhatian terhadap kelompok rentan. Sementara bagi guru, kesiapsiagaan juga berarti memastikan keselamatan, pemulihan mental/trauma healing dan keberlanjutan pendidikan anak dalam situasi bencana sebagai langkah tindak lanjut. 

 

Mendorong Perlindungan Anak

Pengalaman banjir di Pante Kera dan Batu Sumbang menunjukkan bahwa bencana telah memengaruhi pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan keseharian anak. Karena itu, kebutuhan anak perlu menjadi bagian dari perencanaan kesiapsiagaan desa.

Melalui kegiatan ini, YSI mendorong aktor lokal untuk memperkuat kapasitas, koordinasi, dan rencana tindakan menghadapi risiko bencana. Bagi Pante Kera dan Batu Sumbang, pengalaman banjir telah menjadi dasar untuk membangun kesiapsiagaan yang lebih kuat dan memastikan anak tetap terlindungi ketika bencana kembali terjadi.

Image

Hubungi Kami

fas fa-phone-flip
far fa-envelope
fas fa-location-dot

Location

Yogyakarta 55221, Indonesia