Select your language


Kegiatan Program
YSI Gelar Diskusi Kritis tentang Pangan dan Perubahan Iklim sebagai Bagian dari Proses Penyusunan Renstra 2027–2032
Memasuki proses penyusunan Rencana Strategis (Renstra) periode 2027–2032 sebagai kelanjutan dari Renstra 2022–2027, Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) mengundang seluruh staf untuk mengikuti Diskusi “Memahami Isu Pangan yang Ada di Indonesia dalam Pengaruh Perubahan Iklim”. Diskusi ini menjadi bagian dari upaya YSI memahami perubahan konteks eksternal dan berbagai isu yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan arah strategis organisasi ke depan.
Pangan Lokal dalam Perubahan Iklim
Diskusi tersebut menghadirkan Prof. Taryono, akademisi dan pemulia tanaman, yang membahas keterkaitan antara perubahan iklim, pangan, air, pertanian, serta keberlanjutan sumber daya pangan lokal. Pembahasan juga berkaitan dengan pengalaman YSI dalam mengembangkan sistem pangan lokal di berbagai wilayah dampingan.
Dalam diskusi, Prof. Taryono memperkenalkan perspektif tentang kemandirian pangan berkelanjutan. Ia membedakan konsep tersebut dari swasembada pangan yang cenderung berfokus pada pencapaian produksi komoditas tertentu.
“Kalau swasembada pangan itu basisnya satu komoditas, kalau kemandirian pangan itu basisnya beragam komoditas.”
Keberagaman Pangan dan Potensi Lokal
Pandangan tersebut menempatkan keberagaman bahan baku pangan sebagai salah satu bagian penting dalam membangun kemandirian pangan. Pangan lokal tidak hanya dilihat sebagai alternatif, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing wilayah.
Prof. Taryono juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi lingkungan dalam pengembangan komoditas pangan. Menurutnya, pengembangan komoditas perlu memperhatikan kesesuaian lahan agar produksi dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Pengembangan suatu komoditas itu harus melihat kesesuaian lahannya.”
Menjaga Sumber Daya Genetik Pangan Lokal
Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air, produktivitas pertanian, dan keberlanjutan sumber pangan. Setiap wilayah memiliki kondisi lingkungan dan potensi pangan yang berbeda. Karena itu, pengembangan pangan perlu mempertimbangkan karakteristik lokal, termasuk ketersediaan air, kesesuaian lahan, serta sumber daya genetik yang dimiliki masyarakat.
Diskusi juga membahas pentingnya menjaga varietas lokal dan ketersediaan benih. Berbagai varietas pangan yang telah berkembang di masyarakat dipandang sebagai sumber daya genetik yang perlu dikonservasi dan dikembangkan. Dalam konteks ini, gagasan mengenai bank benih dan bank gen menjadi salah satu pembahasan yang relevan untuk menjaga keberlanjutan sumber pangan lokal.
Bagi YSI, pembahasan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan pengalaman program di berbagai wilayah, termasuk pengembangan pangan lokal melalui sekolah lapangan, kelompok masyarakat, dan rumah produksi. YSI juga melihat peluang untuk mengembangkan kerja sama lebih lanjut dalam konservasi dan pengembangan sumber daya genetik lokal agar hasil pengembangan pangan di tingkat masyarakat dapat terus berlanjut.
Diskusi ini kemudian menjadi salah satu bahan refleksi YSI dalam memasuki proses review dan penyusunan Renstra 2027–2032. Berbagai perspektif yang diperoleh diharapkan dapat membantu YSI membaca perubahan konteks, mempertajam isu strategis, serta merumuskan arah pengembangan organisasi yang tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan.
EN 