office@sheepindonesia.org

Select your language

Image
Image

Kegiatan Program

Yayasan SHEEP Indonesia Perkuat Peran Media Dalam Pengurangan Risiko Bencana Dan Adaptasi Perubahan Iklim Di PASIGALA

 

Sebagai bagian dari upaya memperkuat ketangguhan masyarakat dan mendorong penyebarluasan informasi kebencanaan yang berkualitas, Yayasan SHEEP Indonesia bersama Rindang.ID menyelenggarakan Dialog Jurnalis bertema “Menguatkan Narasi Media tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim di Lanskap Palu-Sigi-Donggala (Pasigala)” di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Kegiatan ini diikuti oleh 21 jurnalis dari 21 media lokal dan nasional, serta menghadirkan narasumber dari BMKG, BPBD Sulawesi Tengah, Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Sulawesi Tengah, akademisi, dan praktisi media.

 

Area Manager Yayasan SHEEP Indonesia Sulawesi Tengah, Masturidho, menjelaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik, memperkuat literasi kebencanaan, dan mendorong lahirnya kebijakan yang lebih responsif terhadap risiko bencana dan perubahan iklim.  

 

Menurutnya, pemberitaan mengenai bencana tidak cukup hanya berfokus pada peristiwa saat bencana terjadi. Media juga perlu memperkuat narasi mengenai upaya mitigasi, kesiapsiagaan, adaptasi perubahan iklim, serta praktik-praktik baik yang dilakukan masyarakat dalam mengurangi risiko.

 

 

Melalui dialog ini, Yayasan SHEEP Indonesia berharap lahir jejaring jurnalis yang memiliki pemahaman lebih kuat mengenai isu kebencanaan dan perubahan iklim sehingga mampu menghasilkan narasi pemberitaan yang lebih mendalam, berbasis data, dan mendorong perubahan. 

 

Dalam dialog tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai berbagai ancaman yang dihadapi kawasan Pasigala, termasuk keberadaan Sesar Palu-Koro sepanjang sekitar 500 kilometer yang menjadi sumber ancaman gempa bumi, serta dampak perubahan iklim yang diproyeksikan semakin meningkatkan kerentanan masyarakat.

 

Berdasarkan data dan proyeksi yang dipaparkan BMKG, suhu tahunan di wilayah Pasigala diperkirakan meningkat lebih dari 1,17°C pada periode 2020 hingga 2049, sementara curah hujan ekstrem diproyeksikan meningkat 5% hingga 25%. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, gagal panen, banjir, hingga memperparah dampak bencana lainnya.

 

Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam dialog adalah perlunya mengembangkan pendekatan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Ekosistem (Eco-DRR) sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim. Pendekatan ini menempatkan alam sebagai bagian dari solusi melalui rehabilitasi daerah aliran sungai, perlindungan kawasan pesisir, restorasi mangrove, penghijauan lahan kritis, penguatan lereng menggunakan vegetasi, serta pembangunan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

 

 

Dalam konteks ini, Yayasan SHEEP Indonesia telah mengembangkan berbagai inisiatif pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim bersama masyarakat, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, kelompok perempuan, kelompok pemuda, serta forum multipihak di Sulawesi Tengah.

 

Dialog ini juga menegaskan bahwa pengurangan risiko bencana tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam memahami risiko yang dihadapi.

 

Karena itu, informasi kebencanaan perlu diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami dan dapat digunakan masyarakat sebagai dasar dalam mengambil keputusan sehari-hari. Melalui pemberitaan yang akurat, konstruktif, dan berbasis solusi, media dapat membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mendorong terciptanya budaya sadar risiko bencana.

 

Melalui dialog ini, Yayasan SHEEP Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasi multipihak dalam upaya pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di lanskap Palu-Sigi-Donggala.

Image

Hubungi Kami

fas fa-phone-flip
far fa-envelope
fas fa-location-dot

Location

Yogyakarta 55221, Indonesia