Artikel Terkini

Pameran Foto dan Diskusi : Antara Aku, Kau dan Sungai Tamiang

Pameran Foto dan Diskusi : Antara Aku, Kau dan Sungai Tamiang

Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) bersama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan organisasi masyarakat basis, menyelenggarakan pameran foto dan diskusi tentang Sungai Tamiang dengan thema: antara aku, kau dan Sungai Tamiang. Acara yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Bumi 2016 di Aceh Tamiang ini berlangsung selama 2 hari yakni tanggal 25-26 April 2016 di Kafe Dermaga, Pelabuhan Boat Kampung Kota Kualasimpang Kec. Kualasimpang Aceh Tamiang.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Tamiang dan dihadiri oleh perwakilan dari beberapa Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), perwakilan dari Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan juga masyarakat umum.

Arisan WC Kelompok Perempuan Sehat Mandiri

Arisan WC Kelompok Perempuan Sehat Mandiri

Desa Pematang Durian, Aceh Tamiang

Inspirasi arisan WC muncul dari hasil proses PRA (Participatory Rural Apraisal: memahami kondisi desa secara partisipatif) tentang kesehatan lingkungan kampung yang difasilitasi YSI. Arisan WC memang tidak lepas dari salah satu upaya yang digagas masyarakat yang didampingi YSI sebagai upaya menjaga sanitasi dan lingkungan yang bersih serta perilaku hidup sehat. Untuk itu upaya ini dirasa berhasil, karena masyarakatlah yang aktif dan memiliki kesadaran, terlibat secara aktif mengusahakan. Dalam proses PRA, terungkap data bahwa mayoritas warga (sekitar 85%) di Kampung Pematang Durian Kec. Sekerak Kab. Aceh Tamiang melakukan Buang Air Besar (BAB) ditempat terbuka seperti pekarangan rumah, kebun dan alur (sungai). Pada saat itu memang yang menjadi titik berat perhatian bukan soal kesehatan, akan tetapi soal etika, bau dan ketersiksaan saat telah kebelet BAB dan harus lari ke kebun atau ke sungai; apalagi pada waktu hujan turun.

Botol Bekas dan Bau-bauan

Botol Bekas dan Bau-bauan

Alternative Pengendalian Walang Sangit ala Petani Desa Babo Kec. Bandar Pusaka – Aceh Tamiang

Beberapa petani padi di Desa Babo Kecamatan Bandar Pusaka–Aceh Tamiang yang saat ini menanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) mengeluh tentang tanaman padinya yang sedang tumbuh bulir karena sebagian telah gabug (kosong tidak berisi) dihisap Walang Sangit (sejenis belalang). Merespon persoalan yang dihadapi petani, Eko Ariyanto (Alumnis Institute Pertanian Jogjakarta) yang saat ini mendukung YSI dalam pengembangan pertanian di Aceh Timur dan Aceh Tamiang menawarkan solusi sederhana tapi jitu; yakni membuat perangkap.

Duo Srikandi dari Brongkol

Duo Srikandi dari Brongkol

"Kami berkeingingan supaya Ibu-ibu di Dusun Brongkol bisa maju, bisa bertambah wawasan dan pengalaman serta bisa memperoleh penghasilan tambahan".

Ibu Menik dan Ibu Menuk merupakan dua sosok inspiratif dari Dusun Brongkol, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan. Seperti namanya Ibu Menik yang bernama asli Suparmi ini terlihat lebih kecil perawakannya daripada Ibu Menuk adiknya yang berselisih usia 2 tahun. Keakraban dua kakak adik yang tempat tinggalnya bersebelahan ini bukan saja terlihat dari urusan domestik rumah tangga mereka, tetapi juga dalam keterlibatannya di kepengurusan Kelompok Mekar yang merupakan organisasi Ibu-Ibu Dusun Brongkol dampingan Yayasan SHEEP Indonesia (YSI). Organisasi ini mulai terbentuk Pasca Erupsi Merapi 2010 sebagai media berorganisasi, belajar, berpraktek dan menghasilkan nilai ekonomi termasuk bagaimana berproses agar memiliki ketangguhan di bidangnya.

Pelatihan Pemetaan Partisipatif

Pelatihan Pemetaan Partisipatif

Pemahaman tentang batas wilayah merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus dilakukan untuk masyarakat desa, termasuk desa dimana YSI bekerja dan melakukan pelayanan. Batas wilayah administrasi secara umum dipahami sebagai salah satu komponen pembagi kewenangan dan urusan untuk mewujudkan tertib administrasi daerah otonom dan juga desa. Pembagian tersebut berhubungan dengan tingkatan atau hirarki wilayah administrasi. Pada kenyataannya, batas wilayah administrasi hingga saat ini masih menjadi perhatian karena belum semua segmen batas tegas dan jelas (telah dilakukan penegasan dan penetapan), yang ditandai dengan banyaknya permasalahan yang timbul akibat batas. Paradigma yang selama ini berjalan dan seolah-olah menjadi dasar dalam penyelesaian permasalahan batas wilayah yaitu sistem hirarki top-down yang artinya penataan batas wilayah administrasi unit yang lebih kecil mau tidak mau memperhatikan penataan batas wilayah administrasi unit yang lebih besar.