Belajar tentang

Belajar tentang "Tanaman Obat" Di Dukuh Lemahbang Desa Mangunan Kec. Dlingo Kabupaten Bantul

Dinamika kehidupan masyarakat pedesaan dengan nilai-nilai kearifan lokal bermanfaat dalam memecahkan permasalahan di masyarakat baik dari sisi sosial, budaya maupun dalam mencukupi kebutuhan dasar mereka. Pelestarian nilai-nilai kearifan lokal tersebut telah terbukti mampu menjadi pilar dalam melangsungkan kehidupan masyarakat. Pengejawantahan dari nilai-nilai kearifan lokal tersebut terwujud melalui ritual bersih desa, pengobatan mandiri melalui tanaman obat, atau upacara tradisi yang menyangkut daur hidup masyarakat yang merupakan potensi penting untuk dilestarikan keberadaannya. Namun demikian, analisa relasi perilaku masyarakat yang terkait dengan permasalahan kesehatan dasar membutuhkan kajian lebih lanjut sehingga muncul harmoni dalam satu siklus kehidupan masyarakat pedesaan.

Pelatihan Menulis untuk Staf dan Relawan

Pelatihan Menulis untuk Staf dan Relawan

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, h. 352)" -Pramoedya Ananta Toer-

Salah satu masalah yang dihadapi banyak orang adalah soal kemampuan menceritakan pengalaman, pekerjaan dan berbagai hal penting yang dialami dalam bentuk tulisan. Banyak orang bisa menceritakan apa yang dialami dan dilakukan hanya dengan kata-kata lisan, tapi tidak semua dapat mengungkapkan dengan tulisan. Bagi kebanyak orang, menulis membutuhkan energi ekstra untuk menuangkan, menata bahasa, merangkai setiap ide dan gambaran dalam benak sehingga mengapa bayangan proses tersebut menjadi sulit dilakukan jika tidak karena minat, kebiasaan dan tujuan tertentu yang kuat.

Aksi Kemanusiaan sebagai Refleksi dari Prinsip Kemanusiaan

Aksi Kemanusiaan sebagai Refleksi dari Prinsip Kemanusiaan

Aksi-Refleksi-Aksi, itulah siklus yang harus selalu dilakukan agar segala bentuk program yang diimplementasikan sungguh membawa perubahan dan berdampak baik bagi masyarakat di manapun kita bekerja. Pelatihan SPHERE selama 28 jam yang difasilitasi oleh Caroline Huglin dan Marino Jansen dari Diakonie KatastrophenHilfe-Germany, pada tanggal 2-5 Desember 2014, menjadi media Refleksi bagi manajemen dan staf YSI yang terlibat dalam berbagi respon/aksi tanggap kemanusiaan paska bencana dan atau konflik.

Selama hampir satu dekade berkiprah, YSI telah terlibat dalam berbagai respon tanggap kemanusiaan, mulai dari Respon Tanggap Darurat (RTD) paska Tsunami di Aceh yang dilanjutkan dengan program rehabilitasi (2004-2008), Rehabilitasi Paska Tsunami dan Konflik Sosial di Aceh Timur (2006-2008), RTD Paska Gempa Bumi di Jogjakarta yang dilanjutkan dengan program rehabilitasi (2006-2007), RTD Paska Tsunami di Jawa Barat (2006), RTD Komprehensif Paska Banjir di Jawa Tengah (2006-2007), RTD Paska Gempa Bumi di Jawa Barat (2009), RTD Paska Gempa Bumi di Sumatra Barat (2009), RTD Paska Tsunami di Mentawai (2010), RTD Paska Erupsi Merapi (2010), dan RTD Paska Gempa Bumi di Aceh Tengah (2013).

Pertemuan Tahunan Organisasi Masyarakat Basis (OMB) Wilayah Aceh Timur dan Aceh Tamiang

Pertemuan Tahunan Organisasi Masyarakat Basis (OMB) Wilayah Aceh Timur dan Aceh Tamiang

"Memperkuat Relasi, Membagi Perubahan dan Pembelajaran" (2)

Pertemuan tahunan di desa Tampur Paloh dilanjutkan dengan sesi input dan apresiasi dinas kesehatan Aceh Timur terhadap peran serta masyarakat dalam program kesehatan, bapak Abdullah mewakili instansi dinas kesehatan memberikan apresiasi yang tinggi terbentuknya Kelompok Peduli TB (KPT), Forum Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang telah mendukung berbagai program kesehatan di desa-desa. Selain itu, sangat membantu mendeteksi berbagai kasus penyakit di desa. Seperti pada pada tahun 2011 banyak ditemukan kasus chikungunya. Baginya, Para RKD juga telah memotivasi masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam program kesehatan. Seperti diketahui bahwa di Kabupaten Aceh Timur, cakupan imunisasi masih rendah. Masih banyak ibu dan anak yang saat lahir meninggal atau anak balita meninggal. Ini merupakan tolak ukur yang buruk dibidang kesehatan. Padahal “Pemerintah sudah banyak mensubsidi untuk program-program kesehatan di masyarakat” ucap bapak Abdullah.