UPDATE LAPANGAN

Webinar #3 : “Peran Desa dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19”

Rate this item
(0 votes)

Perkembangan COVID-19 pada level nasional sampai pada awal April 2020 belum menunjukkan kecenderungan menurun. Penyebaran COVID-19 telah menyasar seluruh provinsi di Indonesia. Merujuk pada data dan informasi dari Gugus Tugas Nasional Penanganan COVID 19, Pada tingkat Nasional perkembangan COVID-19 hingga april 2020 telah mencapai 10.118 dinyatakan Positif, 1522 dinyatakan Sembuh dan 792 di nyatakan meninggal. Dengan kondisi ini beberapa wilayah telah menyatakan pemberlakuan PSBB. Dalam webinar ini membahas terkait peran desa dalam membantu mencegah dan mengendalikan penyebaran COVID-19.

 

Webinar ini dipandu oleh Masturido sebagai moderator, dengan narasumber Bapak Paimin yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Babo, Kab. Aceh Tamiang dan Bapak Dr. H. Sutoro Eko Yunanto, M. Si selaku Ketua STPMD “APMD” Yogyakarta.

Bapak Paimin menjelaskan dalam program pencegahan dan pengendalian COVID-19 di desanya, ia telah melakukan penganggaran dana guna membantu 3000 warganya. Jumlah anggaran yang diajukan awalnya mencapai 189 juta namun dengan adanya Peraturan Bupati (PerBup) tentang pembatasan anggaran untuk penanganan COVID-19, yang diperoleh hanya 50 juta saja. Dari dana 50 juta tersebut hanya mampu memberi setengah warganya masker, pembelian APD dan melakukan penyemprotan disinfektan. Ia menyebutkan juga bahwa kendala yang dihadapi adalah kurangnya kepedulian masyarakat untuk menggunakan masker, kemudian minimnya update informasi oleh warga terkait UU atau aturan terbaru. Dari sektor pangan saat ini hanya tersedia sekitar 97 ton beras yang kalo untuk mencukupi kebutuhan warga Babo hanya bertahan selama 2 bulan. Hal tersebut menjadi kendala karena petani hanya 94 orang dari jumlah warga yang mencapai 3000 orang, ditambah kurangnya kesadaran warga untuk menanam sayuran secara mandiri. Kebijakan pemerintah untuk memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) khusus korban COVID-19 justru mengkhawatirkan karena dapat menjadi pemicu konflik. Semua warga merasa menjadi korban COVID-19 sehingga jika BLT tersebut tidak dibagi rata justru memunculkan persoalan sehingga kami justru memilih untuk menolak adanya BLT. Selain penolakan kami juga melakukan penawaran dengan mengusulan supaya BLT diganti menjadi program kesiapan pangan karena kita belum tahu wabah COVID-19 ini akan berlangsung sampai kapan. Namun hal tersebut juga masih belum mendapatkan tanggapan yang positif karena banyak pihak yang belum memahami hal tersebut.

Di sesi kedua Dr. H. Sutoro Eko Yunanto, M. Si, menjelaskan bahwa terdapat kategorisasi desa dalam masa pandemi seperti ini. Pertama desa biru, maksudnya adalah desa tersebut tidak ada yang terpapar virus dan tidak terdampak perekonomiannya. Kedua desa kuning, maksudnya terdapat warga yang terpapar virus tetapi dan tidak terdampak perekonomiannya. Ketiga desa hijau, maksudnya desa tersebut tidak terpapar virus tetapi terdampak pada sektor ekonominya, hal ini terjadi karena pengangguran baru yang disebabkan pandemi ini. Keempat desa merah, maksudnya desa ini adalah warganya terpapar dan terdampak perekonomiannya, hal ini disebabkan karena ruang gerak yang desa terbuka.

Bapak Dr. H. Sutoro Eko Yunanto, M. Si turut menambahkan pentingnya strategi yang perlu dilakukan desa selama masa pandemi ini. Terdapat 3 strategi, yang pertama adalah adanya pendekatan fiskal, mencakup bantuan dana untuk desa. Kedua adalah solidaritas sosial, menilik kekompakan warga desa dan desanya dalam menanggulangi COVID-19. Ketiga adalah kerja mandiri, warga dan desa diajak untuk berinisiatif bagaimana langkah yang tepat untuk mencegah dan mengendalikan laju penularan COVID-19 di desanya.

Dalam konteks bencana, pandemi ini kita letakkan sebagai risiko, dan peran desa menjadi penting karena dari sisi risiko di desa lebih rendah dibandingkan di kota sehingga dapat menjadi penopang saat terjadi krisis. Desa menjadi penting bukan untuk dieksploitasi namun harus emansipasi. Emansipasi desa harus didudukkan secara terhormat dan yang tidak kalah penting desa tidak lagi didudukkan sebagai obyek tapi harus sebagai subyek pemberi manfaat. Dari emansipasi harapannya akan muncul ruralisasi dengan unggulannya adalah pertanian. Dalam kondisi seperti sekarang ini desa menjadi aktor utama yang perlu mendapatkan perhatian dan didukung dengan kebijakan atau regulasi yang memang menyentuh langsung pada akar persoalan.

Read 110 times