UPDATE LAPANGAN

Webinar #2 : “Peran SMA/ SMK dalam Pencegahan dan Pengendalian COVID-19”

Rate this item
(0 votes)

Dinamika COVID-19 sejauh ini terus bertambah dan belum menunjukkan kecenderungan menurun pada level nasional. Dampak dari COVID-19 sangat terasa pada sektor Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan pada situasi ini pula pemerintah sepakat untuk meniadakan UN pada tahun ini. Sejauh ini Kemendikbud telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang pencegahan COVID-19 pada tanggal 24 Maret 2020 sebagai antisipasi terhadap penyebaran virus corona (COVID-19) di sekolah maupun perguruan tinggi. Salah satu kebijakannya yaitu menetapkan bahwa proses belajar untuk sementara dilakukan secara daring dari rumah masing-masing.

 

Melihat dinamika dan perkembangan yang ada di dunia Pendidikan, YSI kembali menyelenggarakan Webinar yang mengambil tema “Peran SMA/SMK dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19” . Webinar ke-2 ini menghadirkan 5 narasumber yaitu Ibu Dr. Sri Sulastri, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, Bapak Drs. Maman Surakhman, M.Pdi selaku Ketua MKKS DIY dan Kepala Sekolah SMA N 3, Ibu Dra. Sri Murtiningsih, M.Pd selaku Pengawas SMA Balai Dikmen Kota Yogyakarta, Lambang Katresnan Yuka, siswa kelas 11 SMA N. 8 Yogyakarta dan Agnes Nathania, siswa kela 11 SMA BOPKRI 2 Yogyakarta.

Keberadaan siswa SMA/SMK pada usia muda memiliki potensi khususnya dalam pemanfaatan media sosial dan virtual. Pada wilayah Provinsi Yogyakarta tercatat total jumlah SMA derajat dan SMK mencapai kurang lebih 3.241 sekolah. Jika rerata setiap sekolah terdiri dari 500 siswa maka total generasi muda di tingkat SMA/SMK mencapai 1,6 juta siswa. Jumlah ini merupakan potensi yang baik untuk pencegahan dan pengendalian COVID-19.

Pemilihan siswa SMA/SMK dalam topik ini adalah usia SMA/SMK dianggap sesuai dengan model peer group, dimana mereka lebih percaya dengan teman sebaya dalam melakukan aktivitas tertentu. Membandingkan dengan pelajar pada tingkat SD atau SMP yang dinilai lebih patuh pada aturan untuk tetap di rumah, siswa SMA/SMK lebih banyak yang mulai merasa jenuh dengan pembelajaran daring yang dilakukan di rumah, bahkan ada yang melakukan tawuran sebagai sarana meluapkan rasa bosannya.

Ibu Dr. Sri Sulastri, M.Pd, menyatakan bahwa metode pembelajaran secara daring merupakan salah satu cara yang harus ditempuh untuk mengurangi penyebaran covid-19. Namun hal tersebut juga masih juga tidak serta merta dapat berjalan dengan baik. Masih banyak kendala yang dihadapi baik dari sisi kesiapan guru atau sekolah maupun dari siswa termasuk sarana prasarana yang harus disiapkan masing-masing pihak. Kesiapan semua pihak menjadi penting untuk dapat beradaptasi dengan cepat karena adanya perubahan metode pembelajaran konvensional menjadi daring. Hal tersebut juga akan banyak membawa pengaruh pada metode pembelajaran selanjutnya ketika kondisi sudah normal. Belum tentu nantinya metode konvensional seperti sebelum ada covid-19 dapat diterapkan kembali dengan mudah.

Dra. Sri Murtiningsih, M.Pd, menambahkan bahwa dalam rangka pencegahan covid-19 ini selain mengubah metode pembelajaran dari konvensional ke daring, sekolah juga mencoba memberikan muatan pembelajaran atau tugas kepada siswa yang sifatnya tematis mengenai covid-19. Ditambahkan juga oleh Bapak Drs. Maman Surakhman, MPd, meskipun metode daring masih memiliki beberapa kendala namun untuk saat ini merupakan metode yang paling memungkinkan ditempuh agar kurikulum pembelajaran tetap dapat berlangsung. Namun hal itu juga membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak terutama, orang tua siswa, guru dan siswa itu sendiri, supaya target pencapaian dari sisi pengetahuan dan ketrampilan dapat tercapai.

Perwakilan siswa, Yuka dan Agnes menceritakan pengalamannya selama belajar di rumah, mereka menyebutkan bahwa belajar di rumah dirasa memiliki waktu yang fleksibel, namun kekurangannya jika mengalami kesulitan tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan guru untuk menanyakan materi yang kurang dipahami. Dalam konteks pencegahan covid-19, sekolah sudah berusaha untuk memasukkan muatan edukasi dalam proses pembelajaran yang dilakukan melalui daring dengan memberikan tugas-tugas kepada siswa yang dikaitkan dengan upaya pencegahan covid-19 seperti pembuatan video atau gambar tentang pencegahan covid-19 yang harus dibuat oleh siswa dan disebarluaskan melalui media sosial.

Di sesi akhir Webinar Bapak Andreas Subiyono, memberikan tanggapan bahwa sekolah mempunyai posisi strategis dalam memberikan edukasi khususnya terkait pencegahan covid-19 yang saat ini sedang menjadi pendemi. Yayasan SHEEP Indonesia sebagai lembaga yang juga fokus pada isu Pendidikan, saat ini mengambil peran untuk upaya pencegahan melalui media-media kampanye dan edukasi yang dalam pelaksanaan distribusi informasi atau materi-materi tersebut bekerjasama dengan berbagai pihak. Karena sekolah memiliki posisi yang strategis harapannya kedepan juga ada sinergisitas yang dapat dibangun bersama khususnya dalam menjalankan fungsi edukasi kepada masyarakat, dalam konteks sekolah yaitu siswa yang harapanya juga akan berdampak lebih luas ke keluarga ataupun lingkungan tempat tinggal siswa, baik terkait covid-19 ataupun bencana lain yang mungkin terjadi di Indonesia ke depan.

Read 104 times
Last modified on 15 Mei 2020