UPDATE LAPANGAN

Webinar “ Strategi Menyelamatkan Panen Petani di Masa Pandemi COVID-19”

Rate this item
(0 votes)

“Persoalan persediaan pangan bagi bangsa Indonesia merupakan soal “hidup atau mati”, kutipan pernyataan presiden Soekarno (1952) itu menjadi pembuka Webinar yang bertajuk “Strategi Menyelamatkan Panen Petani di Masa Pandemi COVID-19”. Kegiatan ini diselenggarakan bersamaan dengan ulang tahun Yayasan SHEEP Indonesia yang ke 15, dengan menghadirkan 2 orang narasumber, yaitu Bapak Sudirman, seorang petani dari Desa Argomulyo, Cangkringan, dan Bapak Prof. Edi Martono, Guru Besar Fakultas Pertanian UGM serta Bapak Andreas Subiyono, Direktur Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) sebagai penanggap.

 

Webinar ini terbagi menjadi 4 sesi, sesi pertama diisi oleh Bapak Sudirman, sesi kedua diisi oleh Bapak Prof. Edi Matono, sesi ketiga diisi tanggapan oleh Bapak Andreas Subiyono, sesi keempat adalah sesi tanya jawab dengan audience.

Dipaparkan oleh Pak Sudirman, untuk sektor pertanian dampak yang paling terasa akibat pandemi covid-19 terjadi pada tanaman sayuran. Kondisi yang mengharuskan adanya pembatasan sosial yang berdampak pada banyak hal menjadikan pengepul tidak rutin mengambil hasil panennya, sehingga untuk sayuran yang sudah dipetik menjadi layu dan untuk yang tetap dibiarkan tidak di panen menjadi tua dan tidak laku lagi untuk dijual. Berbeda dengan tanaman padi, ia menyebutkan bahwa padi tidak terkena imbas pandemi karena padi tidak mudah rusak seperti sayuran. Namun dampak yang dirasakan petani tidak hanya soal pengepul yang tidak rutin mengambil hasil panen, tetapi juga naiknya kebutuhan pertanian seperti bibit turut menjadikan petani dalam posisi yang sulit. Jangankan memikirkan untung, asalkan dapat menjual hasil dan menutup modal yang sudah dikeluarkan, untuk saat ini dirasa sudah cukup. Menurut pak Sudirman, di saat pandemi seperti sekarang ini selain tenaga medis, petani juga memiliki peran penting, karena petani memiliki peran yang krusial dalam menyediakan bahan pangan bagi masyarakat.

Dari pemaparan Prof Edi Martono, beliau menyampaikan bahwa Indonesia masih bergantung pada beras import, sedangkan negara lain saat ini sedang melakukan lockdown. Beliau menambahkan bahwa dampak local lockdown yang saat ini dilakukan sampai ke dusun-dusun menjadikan akses distribusi sayuran ke konsumen tersendat. Selain dari sisi petani, konsumen juga menjadi kesulitan untuk mendapatkan bahan pangan khususnya sayuran yang biasanya dapat dengan mudah didapatkan di warung atau pasar terdekat. Alternatif lain yang ditawarkan adalah mendapatkan secara online namun tentu saja dengan harga yang berbeda apabila dibandingkan dengan membeli secara langsung karena dibebani biaya pengemasan dan biaya kirim. Maka pernyataan yang disampaikan oleh Prof Edi dalam konteks ketangguhan pangan khususnya untuk skala rumah tangga menjadi sangat tepat. “Tanamlah yang dimakan, dan makanlah yang ditanam”. Pernyataan tersebut mengajak masyarakat untuk mampu menyediakan bahan pangan skala kecil khususnya untuk pemenuhan kebutuhan keluarga.

Menanggapi pertanyaan Pak Andreas Subiyono, terkait bagaimana petani mengatasi berbagai kendala yang saat ini dialami para petani Pak Sudirman memberikan pernyataan bahwa saat ini petani masih sangat bergantung pada pupuk kimia yang dijual di toko pertanian, dan hal tersebut dinilai cukup mengganggu produktivitas petani terutama saat masa pandemi karena kelangkaan pupuk. Ia juga menambahkan dan berharap bahwa pandemi ini memberikan hikmah kepada petani untuk kembali menggunakan pupuk organik, meskipun hasilnya dianggap masih kurang memuaskan daripada menggunakan pupuk kimia, namun dari sisi ketahanan, kelestarian lingkungan lebih aman dan keberlanjutan. Sedangkan terkait pemanfaatan teknologi bagi petani Prof Edi memberikan tanggapan, petani di Indonesia diharapkan tidak terlalu bergantung pada teknologi pertanian (pupuk kimia), dan perlu bercermin pada nenek moyang kita yang menggunakan cara tradisional dalam bertani namun tetap bisa menghasilkan produk yang berkualitas. Petani juga harus mampu memiliki daya tawar yang kuat khususnya dalam penentuan harga. Dari sisi teknologi pengolahan hasil, yang ada saat ini belum mencukupi untuk menjamin petani dapat menjual produknya secara lebih baik, sehigga yang dapat dilakukan hanya menjual produk mentah, bukan produk atau bahan olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Dalam hal ini dukungan pemerintah untuk menyiapkan sarana dan prasarana khususnya untuk pengolahan paska panen sangat dibutuhkan untuk dapat membantu petani dalam meningkatkan ketahanan dan nilai jual produk sehingga petani tetap mampu bertahan meskipun dalam situasi krisis.

 

Link webinar: https://www.youtube.com/watch?v=V37OqmT2Smk&t=6987s

Read 63 times
Last modified on 06 Mei 2020