REFLEKSI

Perdamaian 01 Juni 2016 Yayasan SHEEP Indonesia

Catatan dari Bedah Buku "Drama Pengungsi Rohingya di Aceh"

Rate this item
(0 votes)

Kedatangan pengungsi Rohingya di Aceh pada bulan Mei 2015 menyita perhatian banyak pihak, baik Pemerintah Indonesia, Lembaga Internasional, Nasional dan Lokal, serta masyarakat Aceh khususnya di wilayah Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Langsa dan Aceh Tamiang. Kondisi dan pemberitaan media yang menginformasikan kedatangan mereka tersebut mempercepat respon masyarakat Aceh dan berbagai pihak sehingga banyak kunjungan dan bantuan mengalir ke kamp-kamp pengungsian.

Kondisi tersebut juga secara langsung mempengaruhi beberapa wilayah yang didampingi Yayasan SHEEP Indonesia (YSI). Untuk itu dengan pertimbangan kemanusiaan dan kondisi tanggap darurat dalam relasi pemenuhan kebutuhan dasar, maka 3 bulan setelah kedatangan Para pengungsi Rohingya di Aceh, YSI melakukan intervensi terkait pengendalian penyakit menular dan Sanitasi di Aceh Timur dan Kota Langsa. Jumlah pengungsi saat itu sekitar 1000-an orang yang ditampung di 3 kamp pengungsian yaitu: BayeunAceh Timur, Kuala Langsa dan Lhokbani-Langsa. Selain intervensi kepada para pengungsi, YSI juga melakukan intervensi kepada masyarakat sekitar kamp. Pertimbangan respon ini didasarkan banyak lembaga hanya terfokus pada pengungsi padahal masyarakat penyangga atau masyarakat sekitar kamp juga terkena dampak; 1). Kesenjangan pemenuhan kebutuhan hidup (kebutuhan dasar pengungsi tercukupi, sedang masyarakat penyangga banyak yang hidup kekurangan) 2). Kesehatan para pengungsi terjamin karena selalu ada pelayanan kesehatan secara reguler (masyarakat penyangga belum tentu), 3). Limbah manusia dan lain-lain berdampak pada lingkungan wilayah tersebut, 4). Kesenjangan atau perbedaan di aspek lainnya (kultur, bahasa, dll). Kondisi tersebut berpotensi terjadinya konflik atau kecemburuan sosial.

Kondisi, proses, dan bagaimana pendekatan yang YSI lakukan dalam program respon tersebut menjadi pembelajaran yang menarik. Untuk itu melalui buku Drama Pengungsi Rohingya di Aceh semua cerita itu didokumentasikan. Pengalaman respon pengungsi ini menjadi yang pertama bagi YSI dalam melakukan observasi dan pendampingan pengungsi lintas batas di Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Timur Propinsi Aceh selama 6 bulan. Jejak cerita menarik ini tidak hanya sekedar menjalankan program, namun ekspresi otentik dari relasi, pergumulan dan pendekatan yang tidak biasa dilakukan dengan pedoman standar tapi mengedepankan kemanusiaan dan menghargai potensi lokal yang dimiliki pengungsi dan masyarakat sekitar.

Buku ini terdiri dari 4 bab. Bab pertama berkisah tentang pantauan YSI saat para pengungsi lintas batas tiba di Aceh; tentang bagaimana hiruk-pikik masyarakat Aceh menyambut kehadiran para pengungsi. Bab kedua menceritakan tentang dinamika kehidupan para pengungsi; tentang status yang tidak jelas, masalah keberlangsungan dukungan hingga masalah kesehatan. Bab Ketiga menceritakan tentang konflik social yang terjadi di dalam kamp maupun konflik antara pengungsi dengan masyarakat penyangga serta sindikat perdagangan manusia. Sedangkan pada bab 4, YSI mencoba merekam bagaimana proses sinergi antar para pihak yang melakukan kerja kemanusiaan untuk para pengungsi dan juga soal kepemimpinan. Cerita tentang bab 4 menjadi penting karena selama ini penanganan pengungsi lintas batas hanya boleh dilakukan oleh pihak imigrasi dan lembaga tertentu, sementara di Aceh semua pihak bisa bergerak merespon. Proses kebersamaan pemerintah dan masyarakat sipil dalam merespon pengungsi lintas batas di Aceh bahkan menghasilkan satu buku rujukan tentang SOP (standart operasional prosedur) Penanganan Pengungsi Lintas Batas.

Menyadari begitu pentingnya membagi pengalaman, pembelajaran dan sinergisitas para mitra dalam merespon masalah kemanusiaan tersebut, maka di Jogjakarta, bertepatan dengan ulang tahun YSI ke-11 pada 30 April 2016 buku ini dibedah. Kegiatan bedah buku berlokasi di 2 tempat, yaitu di Kantor YSI Yogyakarta dan di Aceh bertepatan dengan 1 tahun kedatangan Para Pangungsi Rohingya. Di Yogyakarta, hadir dalam acara bedah buku ini antara lain dari JRS (Jesuit Refugee Service), Dompet Duafa, PKPU, MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre), Fisipol UGM, Swara Nusa, LPH YAPHI, LESSAN dan mitra individu yang konsern tentang persoalan pengungsi lintas batas dan kerja-kerja kemanusiaan lainnya.

Beragam tanggapan dan sharing menarik bermunculan pada saat sesi diskusi. JRS menceritakan tentang perjalanan kehidupan Rohingya sejak di negara asalnya sampai ke Indonesia, termasuk cerita menarik karena perbedaan bahasa dan kultur. Selain itu diceritakan bagaimana konflik yang terjadi di Myanmar serta perdagangan manusia yang dialami oleh para pengungsi Rohingya. Diceritakan juga tentang gambaran pengungsi yang ada di Indonesia serta pengalaman JRS saat melakukan pendampingan pengungsi yang cukup berat dan menjenuhkan.

MDMC memberikan gambaran tentang pengungsi Rohingya di Aceh utara yang hampir sama kondisinya dengan Aceh Timur dan Kota Langsa, yaitu terkait jumlah pengungsi yang semakin lama semakin berkurang. MDMC menyayangkan Pemerintah Myanmar serta pejuang Demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi yang mendapatkan Nobel Perdamaian namun tidak memberikan respon terhadap konflik antara Komunitas Budha dan Muslim Rohingya di Myanmar.

Peserta lain memberikan tanggapan terkait hukum internasional tentang penangangan pengungsi di Indonesia, kerentanan yang dialami oleh masyarakat penyangga dan relawan serta cerita pengalaman relawan yang pernah terlibat langsung dalam penanganan pengungsi Rohingya di Aceh Timur dan Kota Langsa. Penanggap terakhir menyampaikan bahwa penulisan buku ini merupakan Solilokui dalam sebuah drama yaitu upaya menarik diri untuk merefleksikan apa yang sudah dilakukan untuk mendapatkan pembelajaran sebagai dasar aksi-aksi berikutnya.

Bedah buku kedua dilakukan di Kota LangsaAceh, dalam rangka memperingati satu tahun mendaratnya pengungsi lintas batas di Pelabuhan Kuala Langsa, pada 14 Mei 2016. Dalam peringatan ini tidak hanya bedah buku, tapa Pemerintah Kota Langsa menyelenggarakan beberapa kegiatan. Khusus untuk kegiatan bedah buku dilaksanakan di aula kantor P2TP2A (pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak). Kegiatan tersebut menghadirkan para penulis buku (Husaini, Kristina, dr. Syafriruddin, Ivo Lestari, Fauziyah dan Ali Muda Tinendung), 3 orang pembedah yakni; M. sabeth Abilawa (Direktur Dompet Dhuafa), Suriyatno, AP, MSP (Waka Satgas Penanganan Pengungsi Kota Langsa) dan Ainul Fajri, PhD (Candidate di Radbound University Belanda), serta dihadiri perwakilan lembaga-lembaga yang saat ini masih melakukan pendampingan pengungsi (Yayasan Guentanyo, Save The Children, UNHCR, IOM, MSF, FPRM, Dompet Dhuafa, Forum Anak Kota Langsa, Satgas Penanganan pengungsi Kota Langsa, satuan Pelaksana penanganan pengungsi Aceh Timur, perwakilan pemerintah dan beberapa pengungsi lintas batas).

Para penanggap maupun peserta lebih banyak mengapresiasi atas terbitnya buku ini. Harapannya dapat memberikan gambaran kepada pihak-pihak; terutama yang tidak terlibat langsung dalam penanganan pengungsi lintas batas di Aceh. Bagi lembaga yang selama ini terlibat dalam penanganan pengungsi diharapkan dapat melengkapi cerita yang telah didokumentasikan dan dibagikan oleh YSI melalui buku ini. Namun demikian buku ini juga tidak terlepas dari beberapa kritik atau masukan untuk perbaikan bagi YSI dalam penulisan buku yang lain kedepan.

Bagi YSI, penanganan pengungsi Rohingya ini menjadi pengalaman pertama yang mengesankan dalam melakukan respon pengungsi lintas batas. Selama 5 bulan, terhitung sejak Agustus sampai Desember 2016, YSI melakukan penanganan pengungsi bersama organisasi masyarakat sipil di Aceh Timur dan Kota Langsa, Satgas kota Langsa dan Satlak Aceh Timur. Sinergi ini menjadi pengalaman pertama bersinergi dan berkoordinasi bagi organisasi masyarakat sipil termasuk organisasi-organisasi yang selama ini memiliki mandat khusus terhadap penanganan pengungsi lintas batas, karena di Aceh inilah pertama kalinya penanganan dilakukan oleh banyak pihak. [Husaini & Kristina]

Read 102816 times
Last modified on 02 Agustus 2016