REFLEKSI

Pendidikan 28 September 2018 Yayasan SHEEP Indonesia

Evaluasi sebagai upaya memperbaiki kinerja

Rate this item
(0 votes)

Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) "Ingin Jaya" Kampung Babo, Aceh Tamiang

Terinspirasi dari salah satu teori Manajemen yang mengatakan bahwa “if you fail to plan, you are planning to fail (Benjamin Franklin)” yang berarti jika anda gagal untuk merencanakan, maka anda sedang merencanakan untuk gagal.

Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya perencanaan terlebih dalam sebuah organisasi. Sir Winston Curchill mengatakan Those who fail to learn from the past are doomed to repeat it. Ungkapan ini menegaskan pentingnya mengambil pelajaran dari perjalan masa lalu kita agar kita tidak terjerembab pada kesalahan yang sama. Ini mengisyaratkan pentingnya evaluasi dalam perjalanan kehidupan terutama dalam proses berorganisasi agar semakin banyak proses yang dijalani kearah organisasi yang lebih baik lagi.

Begitu pula yang dipahami salah satu masyarakat di desa Babo. "Evaluasi merupakan upaya untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik" begitulah tutur Lek Kapri, Manajer BUMK "Ingin Jaya" Babo saat berdiskusi dengan YSI. BUMK merupakan singkatan dari Badan Usaha Milik Kampung (sebutan Desa di Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang). Pada Rabu, 5 September 2018, BUMK "Ingin Jaya" Babo mengundang seluruh kepala Unit usaha, Pengelola BUMK, Penasihat, Pengawas dan perwakilan masyarakat untuk terlibat dalam evaluasi semester pertama tahun 2018 di Balai Desa Babo.

YSI juga hadir dalam evaluasi untuk memberikan masukan agar evaluasi dapat dijalankan sesuai tujuan dan capaian BUMK dengan melibatkan partisipasi anggota dan pelaksana. Evaluasi dilakukan masing-masing unit usaha secara bergantian. Setiap selesai satu unit akan dibahas tentang permasalahan yang dihadapi dan solusi yang telah dijalankan ataupun yang belum ditemukan sehingga menjadi pembelajaran bersama. Selain setiap unit, pengurus BUMK juga menyampaikan kondisi umum dan dinamika pengelolaan BUMK “Ingin Jaya” Babo selama ini. Dari paparan keseluruhan tersebut, ada poin-poin temuan yang menjadi penilaian yang kemudian mendapat tanggapan dari Penasihat (Datuk Paimin), Perwakilan Masyarakat (Kadus Zainal), dan Perwakilan YSI Aceh (Masturido dan Junaidi).

Berdasarkan evaluasi tersebut, rekomendasi yang kemudian muncul untuk disepakati bersama diidentifikasi sebagai berikut :

  1. Aturan atau kebijakan usaha pada unit usaha perlu diperjelas kembali dan dipertegas bagaimana operasional yang harus dijalankan.
  2. Ketiadaan bendahara tetap BUMK mempengaruhi pengelolaan keuangan; sehingga perlu ada solusi jelas tentang perlunya personal untuk melakukan tugas ini sesegera mungkin.
  3. Mekanisme komunikasi yang harus tertuang jelas dan menjadi acuan bersama oleh semua unit usaha agar ada pemahaman dan kesamaan persepsi.
  4. Perencanaan didasarkan pada kebutuhan setiap unit usaha yang mengarah pada visi BUMK.
  5. Fungsi pengawas dihidupkan untuk menjaga kepercayaan dan akuntabilitas pengelolaan BUMK.
  6. Mekanisme alokasi hasil usaha BUMK diatur di tingkat BUMK agar ada kesepakatan bersama dan  bukan di tingkat unit usaha.
  7. Pengkajian dan analisa kelayakan usaha perlu dilakukan dalam periode tertentu (ter-update, tidak hanya sekali), khususnya saat  mengingat ada unit usaha yang mengalami "surut" dan dinamika persoalan.
  8. Pembuatan sertifikat tanah desa; dalam kaitannya legalitas tanah yang selama ini menjadi lahan perkebunan BUMK segera dialihkan menjadi milik Desa dan bukan milik perseorangan dengan mekanisme dan dialog yang jelas.
  9. Peluang penambahan unit usaha terus dilakukan untukmengembangkan pendapatan dan kesejahteraan serta keberlanjutan kontribusi pembangunan desa.

Poin rekomendasi evaluasi tersebut menjadi kesepakatan dan dasar dalam membuat perencanaan BUMK ke depan. Perencanaan yang didasarkan kebutuhan (hasil rekomendasi) dan persoalan inilah yang  diharapkan dapat membuat kinerja BUMK menjadi lebih baik untuk mewujudkan BUMK sebagai Lembaga penggerak ekonomi di Kampung Babo. Selain itu, lembaga ini dapat berkembang untuk memberi peluang penyerapan tenaga kerja produktif di Kampung agar potensi SDM di kampung terserap dan terlibat untuk ikut mengembangkan desa. Pengelolaan yang baik juga akan berbanding lurus dengan besarnya Pendapatan Asli Kampung/Desa (PADes) yang membuat pemerintah desa lebih leluasa memikirkan dan memenuhi program-program yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat Kampung Babo.

Upaya menghidupkan perekonomian masyarakat bukanlah sesuatu yang mudah dipenuhi. Proses ini membutuhkan tahapan panjang dan dukungan semua komponen desa. Belum lagi tantangan jika terjadi konflik internal maupun eksternal yang pasti akan terjadi. Namun dalam proses evaluasi ini, upaya dan kegigihan mengabdikan diri pada kepentingan masyarakat menjadi kekuatan semua masyarakat yang terlibat. Untuk itu, apresiasi perlu diberikan agar relasi dan kinerja setiap pengelola unit usaha dan pengurus BUMK tidak terkesan hanya berbasis peningkatan ekonomi, tapi semangat terlibat dalam pembangunan desa dan pengabdian pada desa mereka.

By: Masturido, Korlap YSI Wilayah Aceh

Read 318 times