REFLEKSI

Pendidikan 17 September 2018 Yayasan SHEEP Indonesia

Workshop Membangun Sinergitas Antara OMB Dan OMS

Rate this item
(0 votes)

Pemahaman pembangunan desa dan bagaimana partisipasi semua komponen pelaku pembangunan desa penting bagi penguatan masyarakat di wilayah Sabu Raijua, NTT agar semua terlibat sinergis dan mengetahui perannya.

Untuk memahami hal tersebut, workshop membangun Sinergi antara OMB dan OMS ini dilaksanakan dengan melibatkan semua subyek pembangunan desa.  Maka pada hari Sabtu, 18 Agustus 2018 bertempat di Penginapan Manna, Mebba, Sabu Barat diadakan workshop yang  diikuti oleh peserta dari 8 OMB dari 8 desa dampingan dengan jumlah perwakilan 23 orang. Dalam workshop tersebut hadir perwakilan 3 OMS yang terdiri dari :

  1. Klasis GMIT Sabu Timur (induk organisasi gereja wilayah Kec. Sabu Timur, Sabu Tengah dan Sabu Liae) dengan peserta 1 orang
  2. Relasi Community (komunitas relawan yang bergerak dalam isu pendidikan anak dengan fokus kegiatan menginisiasi pendirian rumah baca di 16 desa) dengan peserta 2 orang.
  3. Komunitas Jagarai (komunitas yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan khususnya di wilayah konservasi laut dan pesisir pantai) dengan peserta 1 orang.

    Total jumlah peserta 27 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 18 orang dan perempuan sebanyak 9 orang.

Proses menjalin relasi sinergisitas harus didahului dengan saling mengenal semua peserta yang hadir agar proses membangun komunikasi kedepan tidak memiliki sekat atau hambatan. Harapan workshop ini tidak hanya kegiatan yang selesai namun ada kesepakatan yang dilakukan bersama untuk menjalankan kegiatan riil bagi pembangunan desa masing-masing. Untuk itu pada sesi selanjutnya berbagi pengalaman menjadi poin penting untuk memetik pembelajaran dan sejauh mana pemahaman masing-masing pelaku pembangunan. Panduan berbagi pengalaman diidentifikasi dalam pertanyaan sejauh mana para peserta memahami tentang :

  1. Pembangunan desa
  2. Kebijakan pembangunan
  3. Proses perencanaan
  4. Partisipasi masyarakat

Ada beberapa pertanyaan dari peserta yang muncul sebelum proses berbagi pemahaman ini berlangsung. Beberapa peserta menanyakan ketika kita menjelaskan pembangunan desa sebenarnya apakah pembangunan yang dimaksud siapa yang melakukan ? pemerintah desa atau OMB? ( perwakilan OMB Wuke Rohedui Desa Jiwuwu Kec. Sabu Tengah yaitu Bertha Leba). Bahkan ada yang menanyakan “apakah pembangunan desa yang dibuat oleh pemerintah desa (dana desa) atau pembangunan yang dibuat sendiri seperti bertani sayur sayuran dan lain sebagainya?”; hal ini bagaimana korelasinya dengan pembangunan  desa secara menyeluruh (OMB Bersatu Desa Matei Kec. Sabu Tengah yaitu Osias Miha Balo). Pertanyaan terakhir dari peserta perwakilan OMB Ingin Maju Desa Dainao Kec. Sabu Liae yaitu Ruben Lay, “ apakah pembangunan yang sudah berjalan atau yang belum berjalan?”. Semua ini menjadi catatan penting bagaimana keragaman dan belum samanya persepsi masyarakat tentang pembangunan desa, sinergisitas dan peran masing-masing dalam pembangunan desa.

Namun dinamika diskusi menjadi menarik ketika dari proses berbagi tersebut, peserta dapat menggambarkan hal-hal penting dalam proses terlibat di pembangunan desa yang selama ini sudah dilakukan oleh pemerintah desa. Tanggapan dan keterlibatan OMS dalam workshop ini juga memberi dinamika yang manarik dalam proses diskusi. Dalam kesimpulan akhir mereka memahami bahwa pembangunan di desa tidak lagi hanya berkutat hanya urusan pembangunan infrastruktur fisik, namun juga berhubungan dengan peningkatan kapasitas SDM (Sumber Daya Manusia). Pembangunan desa perlu dijalankan dengan keterlibatan peran antara badan pengurus dengan masyarakat yang ada yang menjadi pemahaman Pdt. Anton Himu Ketua Klasis GMIT Sabu Timur dalam statemen tulisannya. “Bahwa pembangunan itu untuk menjawab persoalan di desa dan mengembangkan potensi yang ada, sehingga terwujud pembangunan yang bersinergi, terencana dan berkelanjutan seperti tergambar dalam harapan yaitu pemanfaatan embungnya untuk pertanian  dan kegiatan bertani, jalan ekonomi (proses mulai dari bawah), gedung,pabrik dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan (ada industry limbah rumah tangga), manusia mental dan spiritual melakukan berbagai pembinaan dan pembangunan yang kontinue dan ada pengawasan”.

Berbagai materi diberikan dalam workshop :

  1. Pemaparan tentang pembangunan desa, kebijakan pembangunan desa, proses perencanaan desa dan juga partisipasi warga dalam perencanaan desa.
  2. Undang – Undang / Peraturan Pemerintah / Peraturan Menteri terkait Pembangunan Desa
  3. Pemahaman peran kelompok (OMB & OMS) dalam pembangunan desa.
  4. Strategi dan penyusunan rencana aksi terkait 4 tema di atas (pembangunan desa, kebijakan pembangunan, proses perencanaan dan partisipasi masyarakat) sesuai dengan kondisi desa masing–masing peserta.


Hasil diskusi atas semua materi tersebut tersusun dalam detail Rencana Tindak Lanjut (RTL) paska workshop yang di dalam pertemuan masing–masing tingkat OMB dan OMS. Kesepakatan lain yang menjadi akhir workshop adalah pertemuan tiga pihak yaitu OMB, OMS dan Pemerintah Desa sebagai upaya kerjasama dari semua pihak yang akan menjadi kunci kesuksesan pembangunan desa. Untuk meyakinkan semua unsur tersebut, nantinya perlu ada kesepakatan tertulis terkait kerjasama nantinya sebagai acuan bersama untuk pelaksanaan kedepan, termasuk menghilangkan kecurigaan–kecurigaan di desa dan mengupayakan relasi yang sinergis antar pihak.

Terimakasih
I’a Lema Do Hawu Raijua

Read 46 times
Last modified on 18 September 2018