REFLEKSI

Pendidikan 26 September 2017 Yayasan SHEEP Indonesia

Menguatkan Tradisi Berdesa dalam Pembangunan Desa

Rate this item
(0 votes)

Argomulyo, Sleman – Konsep tradisi Berdesa sebagai konsep hidup bermasyarakat dan bernegara di ranah Desa saat ini banyak dibahas berbagai kalangan.

Konsep tradisi berdesa ini muncul membangun desa sehingga :

  1. Desa menjadi basis modal sosial yang memupuk tradisi solidaritas, kerjasama, swadaya, dan gotong royong secara inklusif yang melampaui batas-batas eksklusif kekerabatan, suku, agama, aliran atau sejenisnya.
  2. Desa memiliki kekuasaan dan berpemerintahan yang didalamnya mengandung otoritas dan akuntabilitas untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat.
  3. Desa hadir sebagai penggerak ekonomi lokal yang mampu menjalankan fungsi proteksi dan distribusi pelayanan dasar kepada masyarakat.

Berdasarkan konsep itulah, pada pada tanggal 26 September 2017, YSI mengadakan sarasehan dengan 3 desa Wiladeg, Mangunan dan Argomulyo yang bertempat di Balai Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman. Selain peserta 3 desa memahami konsep tradisi berdesa, kegiatan ini juga membuat masyarakat memiliki wawasan dan mendapatkan pengalaman dari berbagai nara sumber yang dapat dikembangkan di desa masing-masing. Tiga narasumber yang hadir adalah Andreas Subiyono (Direktur YSI), Bahrun  Wardono (kepala desa Dlingo) dan Bayu Wahyono (akademisi pemerhati desa, dosen di Universitas Negeri Yogyakarta).

“Kita dapat membuat dana desa menjadi dana desa kembali, artinya dana desa dipergunakan untuk mengembangkan desa sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik yang dimiliki sehingga menghasilkan pendapatan asli desa”, jelas Bahrun.

Artinya, bahwa untuk mengembangkan desa, perlu pengetahuan dalam menemukan ciri khas dari desa tersebut. Sehingga perencanaan dan implementasi kebijakan saling berkaitan, bahkan pengelolaan dana desa dapat dikembangkan sehingga menjadi dana desa hingga akhirnya kembali menjadi pendapatan asli (menyejahterakan kembali) desa.

Dengan perkembangan desa saat ini, salah satu narasumber lain, Bayu Wahyono menyatakan pesimistis ketika berbicara tentang implementasi tradisi berdesa untuk saat ini. Banyak desa yang tidak menempatkan warga desa terlibat aktif memberdayakan sumberdaya yang dimiliki dalam pembangunan desa. Contohnya, pembangunan infrastruktur seperti ketika membangun akses jalan menuju desa; siapa yang menikmati atau menggunakan ?. Pembangunan itu sejatinya bukan dinikmati oleh masyarakat desa melainkan global. Banyak hal yang direncanakan oleh desa tapi tidak kembali ke desa, bahkan realitanya desa masih menjadi obyek modernisasi yang memiliki potensi yang besar tapi orang di luar desa yang mendapatkan manfaatnya. “ Sering kita melihat jalan-jalan di desa banyak dilalui mobil-mobil box yang berisi minuman suplemen, mie instan, dsb; bukan mengangkut atau mendistribusikan hasil dari desa itu sendiri. Kesimpulannya infrastruktur yang dibangun bukan untuk kepentingan masyarakat desa namun global”, terang Bayu.

Pemaparan itu semakin dikuatkan oleh Andreas Subiyono, bahwa untuk itu perlu ada upaya membangun kekritisan masyarakat desa. Dengan upaya memberdayakan, Andreas Subiyono optimis bahwa desa dapat berkembang, apalagi ketika mampu membuat rencana pembangunan yang baik. Tiga desa yang didampingi ini salah satu upaya melawan ke-pesimisan itu, bagaimana dengan karakteristik dan sejarah potensinya, 3 desa (Argomulyo, Wiladeg, Mangunan) dipilih untuk didampingi hingga saat ini terlihat perubahan yang membuat desa menjadi desa yang tangguh. Bukan tangguh dalam arti sederhana dalam menghadapi bencana, namun lebih luas. “ Desa Tangguh memiliki ciri, pertama, masyarakatnya kritis secara individu. Kedua, kebijakan desa dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat. Ketiga, desa memiliki pranata sosial yang dapat menjamin kebutuhan dan kesejahteraan masyarakatnya”, jelas Andreas.

Dengan pengalaman pengelolaan 3 narasumber dari sisi praktisi pengelola desa, pandangan akademis dan pendamping masyarakat, semoga diskusi dalam sarasehan ini semakin memperkaya wacana masyarakat yang hadir dan menjadi referensi untuk mencari strategi atau terobosan dalam membuat suatu kebijakan serta memecahkan masalah yang ada di desa. Ide segarlah yang dinanti di masing-masing desa kedepan untuk lebih memantabkan para penggerak desa ini menemukan dan mengenali ‘tradisi berdesa’ yang seperti apa yang ingin mereka bangun. Semua hal itu tentunya akan mendorong  motivasi dan perubahan desa menjadi lebih baik dengan kearifan lokalnya.

Read 940 times