Gempa Lombok 2018

ER Lombok 18 Agustus 2018 Yayasan SHEEP Indonesia

Program Tanggap Darurat Gempa Lombok 14-18 Agustus 2018

Rate this item
(0 votes)

Gempa di Lombok masih sering terjadi. BMKG bahkan menegaskan gempa bumi tidak dapat diprediksi. Hal tersebut yang kemudian menggerakkan tim Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) untuk mendukung penyintas di Lombok.

Pada tanggal 14 Agustus 2018, untuk kedua kalinya tim Emergency Respon (ER) Gempa Lombok tiba di Pos yang bertempat di Desa Gondang, kec. Ganggang, Kab. Lombok Utara dan dilanjutkan ke Puskesmas Santong untuk melakukan koordinasi dengan pihak terkait.  Heri Sasmito Bowo selaku koordinator YSI ER Lombok langsung berkoordinasi dengan dr. Muksan, dokter Puskesmas dan kepala TU Ibu Nurmala untuk bersinergi dan mendiskusikan persoalan kesehatan bagi desa yang belum terjangkau tim kesehatan dari puskesmas tersebut. Tim ER Lombok yang terdiri dari satu dokter, satu apoteker, dan dua perawat ini juga membawa bantuan obat- obatan dan alat kesehatan pelayanan kesehatan berdasarkan data dari pihak Puskesmas dengan cara jemput bola.

Tanggal 15 Agustus 2018, tim melakukan pelayanan pertama di desa Santong Mulya dan desa Sesait wilayah Lombok Utara. Mayoritas Penyintas gempa bumi Lombok di desa Santong Mulya dan desa Sesait ini adalah lansia dan anak anak. Dokter Istianto selaku koordinator tim medis YSI, melakukan pelayanan kesehatan  bagi para Penyintas. Trend diagnosa penyakit yang teridentifikasi oleh tim adalah Ispa, Hipertensi, dan Mialgia. Tiga penyakit teratas ini muncul disebabkan penyitas masih harus tinggal di tenda pengungsian dan belum memiliki tempat tinggal yang layak.

Pelayanan kesehatan dilakukan dengan memanfaat bangunan yang masih relatif aman digunakan, berada diantara tenda pengungsian. Dalam pelayanan Kesehatan di dusun Mulagati desa Santong Mulya, Kecamatan kayangan KLU terlihat ada sekitar 29 orang, sedangkan untuk pasien desa Sesait sejumlah 22 orang; dengan mayoritas anak-anak, perempuan dan lansia. Pelayanan kesehatan keliling ini dilakukan untuk menjangkau Penyintas dengan pertimbangan kesulitan akses sarana kesehatan yang ada dan jangkauan yang jauh dari kota. Akumulasi sampai tanggal 18 Agustus 2018, tim telah melakukan pelayanan kesehatan untuk 244 pasien penyintas gempa bumi Lombok dengan rata-rata pasien adalah perempuan dan anak-anak yang menderita ISPA.

Pada 18 Agustus 2018, kegiatan lain selain pelayanan kesehatan tim YSI telah berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Kompol, Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), TNI dan POLRI untuk membahas sejauh mana kondisi dan persoalan yang muncul dan bentuk respon apa saja yang telah diberikan bagi penyintas. Dalam koordinasi dengan berbagai pihak ini ada hal penting yang didapat, yaitu memastikan tidak ada ketumpangtindihan antara tim dari YSI dengan tim lainnya. Dari koordinasi ini maka tim YSI akan menindaklanjuti dengan melakukan pelayanan kesehatan dan alokasi logistik bagi para penyintas.

Read 216 times
Last modified on 23 Agustus 2018