REFLEKSI

Lingkungan 11 Oktober 2016 Yayasan SHEEP Indonesia

Padi SRI ; Tak Sekedar Soal Metode dan Pola Tanam

Rate this item
(0 votes)

Dalam buku berjudul Petani; Sebuah Tinjauan Antropologis, karya Eric R. Wolf (YIIS, 1983), konon manusia telah mulai menanam padi-padian sejak 3400 sebelum masehi. Bahkan di era itu, manusia telah berhasil menciptakan teknologi untuk membajak sawah dengan tenaga hewan. 

Jejak itu ditemukan di Mesopotamia, Mesir dan Siprus, di kawasan lembah-lembah Sungai Nil. Model tanam padi darat (padi gogo) dan padi sawah juga sudah dimulai di era itu; dimana di kawasan lereng dan pegunungan, masyarakat mempopulerkan padi gogo dan di wilayah yang memiliki sumber air mencukupi, mereka menanam padi sawah.

Menanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) adalah metode tanam padi yang jauh dari era diatas. SRI dikembangkan oleh seorang Jesuit Perancis pada Tahun 1983. Beberapa tahun kemudian, sistem ini menjalar kemana-mana. Konon hingga kini sudah dikembangkan kurang lebih di 36 negara termasuk Indonesia. Fokus tujuan metode SRI adalah meningkatkan (intensifikasi) hasil pertanian dengan cara mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada. Menurut beberapa kesaksian, metode ini mampu meningkatkan hasil produksi sekitar 50% bahkan lebih. Menurut pengalaman banyak pihak, metode SRI hanya bisa dilakukan di lahan padi sawah yang cukup air.

Pengalaman di  Aceh

Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) sudah mengenalkan metode SRI di Aceh sejak tahun 2013. Salah seorang petani di Kecamatan Simpang Jernih – Aceh Timur mengaku bisa panen lebih banyak dibandingkan biasanya. Sementara beberapa petani di Aceh Tamiang merasa bahwa meskipun hasil produksinya naik, tetapi metode SRI terlalu rumit; menyita waktu dan menambah pekerjaan.

Pada 2015, YSI kembali mencoba mengembangkan metode SRI bagi desa-desa yang memiliki lahan padi sawah. Diantaranya di Desa Babo dan Balingkarang - Aceh Tamiang serta Desa Melidi dan Tampor Boor -  Aceh Timur. YSI tidak serta-merta mengajak petani menanam dengan metode SRI. Sebelum menanam, petani mendapatkan pelatihan-pelatihan. Diantaranya pelatihan seleksi benih, pengendalian hama dan pembuatan pupuk organic. Prosesnya tetap tidak bisa berjalan lancar. Persoalan yang paling dominan terjadi pada saat penanaman, karena petani belum terbiasa. Ada yang marah karena dianggap terlalu rumit hingga ada yang kemudian melakukannya tidak sesuai aturan. Bahkan, di Desa Balingkarang, petani gagal menggunakan metode SRI karena tidak siap dengan proses yang dianggap njlimet itu. Dalam perkembangaannya di tiga desa yang lain, tanaman padi metode SRI terlihat lebih unggul dibandingkan dengan tanaman padi metode konservatif: anakannya lebih banyak dan lebih subur. Sayang, hasil akhirnya tidak menggembirakan. Di Desa Babo, hasil panennya sama dengan padi yang ditanam dengan metode konservatif, sedangkan di Desa Melidi dan Tampor Boor, petani mengalami gagal panen karena serangan walang sangit dan wereng.

Temuan menarik terjadi ketika YSI melakukan evaluasi atas kasus SRI di Desa Babo. Pada saat melakukan evaluasi soal pupuk, YSI menemukan kasus bahwa bahan baku yang digunakan untuk pupuk organic lebih dari 90% mengandung unsur N (nitrogen) yang hanya berfungsi membantu pertumbuhan vegetatif; terutama daun. Oleh karena itu hasilnya menjadi sangat baik pada saat pertumbuhan: daunnya lebat dan hijau. Padahal selain unsur N, tanaman padi juga membutuhkan unsur P (Phosfor) yang berfungsi membantu pertumbuhan akar dan tunas serta unsur K (kalium) yang membantu untuk pertumbuhan dan pembuahan. Sedangkan kasus hama walang sangit dan wereng memang sulit ditanggulangi karena sifatnya massal: menyerang semua tanaman padi di dua desa tersebut.

Pertengahan 2016, YSI kembali mendorong dan memfasilitasi petani untuk bertanam padi metode SRI. Di tahun ini, beberapa petani di 6 desa tertarik mempraktikkannya; yakni Desa Babo, Balingkarang, Melidi, Tampor Boor, Tampor Paloh dan Batu Sumbang. Untuk Tampor Boor, Tampor Paloh dan Batu Sumbang masih dalam proses perencanaan dikarenakan petani masih disibukkan dengan panen padi darat. Di Melidi, 1 orang petani yang kembali tertarik mencoba SRI sudah melakukan penyemaian. Di Balingkarang 4 keluarga petani dengan luas lahan sekitar 12 rante padi SRI-nya sudah berumur sekitar 1,5 bulan. Sedangkan di Desa Babo, 12 orang anggota kelompok Tani Babo Jaya padi SRI-nya seluas 20,5 rante sudah berumur sekitar 2 bulan.

Lika-liku proses menyemangati petani untuk menanam padi metode SRI pada tahun ini-pun masih terjadi. Di Desa Balingkarang, pada masa persemaian benih, petani tetap menggunakan pedoman kebutuhan benih saat mereka menenam padi secara konvensional. Dampaknya, pada saat penanaman, benih yang disemai berlebih hampir separo dari yang ditanam. Sedangkan di Desa Babo, petani meminta kompensasi atas membengkaknya biaya tanam karena menanam padi dengan metode SRI membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding menanam secara konvensional. Ekspresi-ekspresi kecil tersebut merupakan bagian dari cermin sebuah kekhawatiran: takut gagal panen, takut hasilnya tak sebanding dengan biaya produksi, dan lain-lain.

Secara teoritis, kekhawatiran petani gurem atas perubahan memang sudah popular sejak lama. Hal ini dikarenakan kebanyakan petani gurem begitu dekat dengan garis batas.  Seperti yang dituliskan Tawney pada Tahun 1931 tentang nasib petani gurem di China bahwa petani gurem itu ibarat orang yang selamanya berdiri terendam dalam air sampai ke leher, sehingga ombak yang kecil sekalipun sudah cukup untuk menenggelamkannya.  Kekhawatiran merugi yang berlebihan dalam menghadapi tantangan baru bagi petani gurem ini-lah yang oleh James C. Scott dalam buku Moral Ekonomi Petani; Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara (LP3ES 1981) disebut sebagai “etika substisten”.

Belajar dari kenyataan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa mempernalkan tenologi baru untuk petani gurem tidaklah mudah. Bertanam padi metode SRI bukan hanya soal memperkenalkan metode baru, akan tetapi adalah proses mendorong perubahan perilaku petani dalam berproduksi. Pasti rumit dan butuh waktu yang panjang serta ketekunan tanpa batas. (Husaini)

Read 2322 times