REFLEKSI

Lingkungan 25 Februari 2016 Yayasan SHEEP Indonesia

Botol Bekas dan Bau-bauan

Rate this item
(0 votes)

"Alternative Pengendalian Walang Sangit
ala Petani Desa Babo Kec. Bandar Pusaka  Aceh Tamiang".

Beberapa petani padi di Desa Babo Kecamatan Bandar PusakaAceh Tamiang yang saat ini menanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification) mengeluh tentang tanaman padinya yang sedang tumbuh bulir karena sebagian telah gabug (kosong tidak berisi) dihisap Walang Sangit (sejenis belalang). Merespon persoalan yang dihadapi petani, Eko Ariyanto (Alumnis Institute Pertanian Jogjakarta) yang saat ini mendukung YSI dalam pengembangan pertanian di Aceh Timur dan Aceh Tamiang menawarkan solusi sederhana tapi jitu; yakni membuat perangkap.

Menurut Eko, Walang Sangit merupakan serangga yang menyukai bau-bauan tidak sedap. Untuk itu, upaya melindungi tanaman dari hama Walang Sangit dapat dilakukan dengan membuat perangkap yang terbuat dari botol air mineral bekas yang didesain khusus. Untuk menarik agar Walang Sangit datang, didalam botol tersebut diberikan aroma khas yang mudah menguap hingga tercium dan menarik perhatian Walang Sangit untuk mendatanginya. Bau-bauan tersebut dapat menggunakan terasi atau ikan busuk. Perangkap tersebut membuat Walang Sangit terjebak dan tidak bisa keluar lagi karena juga ditambah dengan minyak goreng atau bahan-bahan yang lengket. Setelah semuanya siap, botol air mineral bekas yang telah berisi ramuan penarik Walang Sangit itu diberi tiang dan dipasang di pinggir lahan atau di pematang. Semakin banyak jumlahnya semakin baik karena akan semakin banyak juga Walang Sangit yang terperangkap.

Syaiful Syahputra; Ketua Kelompok Tani Babo Jaya Desa Babo yang telah mencoba membuat dan memasang perangkap Walang Sangit di lahan padi yang telah mulai berbuah itu mengaku bahwa perangkap sederhana itu cukup efektif. Dalam sehari ada sekitar 10-17 ekor Walang Sangit yang terjebak dalam satu perangkap. Jika perangkap dipasang lebih banyak, maka akan lebih banyak walang sangit yang terjebak sehingga mengurangi serangan pada padi. Pengaturan pembuatan juga perlu dipikirkan karena pembuatan dan pemasangan perangkap lebih efektif dilakukan pada saat tanaman memasuki fase pembungaan atau fase generative. Hal ini akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hama sehingga dapat mengatisipasi terjadinya ledakan hama pada saat tanaman memasuki masa pengisian buah/bulir.

Selain itu petani harus rajin mengotrol perangkap yang telah dipasang. Tujuannya adalah untuk membuang hama yang telah mati dan mengganti bahan-bahan yang berada didalam botol yang telah hilang karena proses pembusukan atau hilang tergerus oleh hujan. Balai Besar Penelitian tanaman padi tahun 2009, mencatat kerusakan tanaman akibat hama walang sangit menyebabkan penurunan hasil produksi hingga 50%. Diduga bahwa populasi walang sangit 100.000 ekor per hektar dapat menurunkan hasil sampai 25%. Hasil penelitian menunjukkan populasi Walang Sangit 5 ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15%. Hubungan antara kepadatan populasi Walang Sangit dengan penurunan hasil menunjukkan bahwa serangan satu ekor Walang Sangit per malai dalam satu minggu dapat menurunkan hasil 27% .

Walang Sangit memiliki nama latin: Leptocorisa oratorius. Merupakan mahluk hidup dari golongan insecta (serangga) yang memiliki sayap depan yang keras dan tebal. Sayap belakang bertipe membranus dan terlipat. Walang Sangit mengalami metamorfosis sederhana yang perkembangannya dimulai dari stadia telur, nimfa dan imago (Harahap dan Tjahyono, 1997). Walang Sangit dianggap sebagai hama tanaman, karena keberadaannya menimbulkan kerusakan yang berdampak terhadap hasil akhir budidaya. Walang Sangit menghisap cairan nutrisi tanaman sehingga mengakibatkan gagal pengisian bulir (untuk tanaman padi). Walang Sangit dapat menyerang beberapa komoditi pertanian seperti padi, kedelai, kacang hijau, kacang panjang dan kacang kuning dengan cara mencucuk menggunakan alat penghisap (restrum) yang terpasang sebagai alat untuk menkonsumsi makanannya. Pengerusakan yang dilakukan oleh hama Walang Sangit terjadi pada fase generative atau pada ahir pembungaan.

Dalam pengembangan tanaman padi, Walang Sangit merupakan hama potensial karena akibat serangan hama ini pertumbuhan bulir padi kurang sempurna, biji/bulir tidak terisi penuh ataupun hampa sama sekali. Dengan demikian dapat mengakibatkan penurunan kualitas maupun kuantitas hasil. (Eko Ariyanto/Husaini)

Read 3562 times