REFLEKSI

Lingkungan 09 November 2017 Yayasan SHEEP Indonesia

Emergency Response : Kekeringan Raijua, Nusa Tenggara Timur ( bagian 1)

Rate this item
(0 votes)

Raijua- NTT--Raijua adalah salah satu kecamatan di Kab. Sabu - NTT. Memiliki pantai yang sangat indah dengan pasir putih. Untuk bisa sampai ke kecamatan ini, satu-satunya alat transportasi yang digunakan adalah kapal dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam dari Sabu.

Raijua merupakan daratan kering berbatu. Suhu udara yang mencapai 43o celcius dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk menghasilkan garam. Saat ini terdapat 30 Ha tambak garam dan akan ditambah 50 Ha lagi luasan tambak garam oleh pemerintah. Masyarakat setempat yang bekerja sebagai buruh harian menerima upah 1,2 juta/bulan. Dalam 1 Ha tambak garam, digarap oleh 8 orang, sehingga untuk luasan 30 Ha mempekerjakan 240 orang.

Kebanyakan dari masyarakat Raijua adalah petani rumput laut. Hampir tiap keluarga memiliki lokasi penanaman rumput laut. Dengan luasan 16.000 Ha, hasil rumput laut bisa mencapai 15.000 ton/tahun. Penanaman dan panen rumput laut dapat dilakukan dari bulan Maret s/d desember karena bulan Januari dan Februari terdapat angin barat yang merusak tanaman rumput laut.

Penghasilan masyarakat dari rumput laut cukup besar, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang iris tuak (Lontar) untuk membuat gula sabu. Demikian pula dengan petani sorgum, tidak banyak lagi. Hanya desa di dataran tinggi yang masih tanam sorgum. Makanan pokok mereka sekarang beralih dari sorgum ke nasi, karena hasil rumput laut itu dijual atau barter dengan beras dan sembako lainnya.

Raijua, daerah kering dengan curah hujan yang sangat rendah. Keterbatasan air bersih dialami warga hampir sepanjang tahun. Puncak kekeringan biasa terjadi pada bulan September sampai Desember. Pada bulan-bulan ini sumber air akan mengering dan masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi yang berlangsung terus menerus dalam jangka waktu yang lama telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Namun jika dilihat dari ukuran kemanusiaan, ketersediaan air bersih mereka jauh dibawah standart kemanusiaan yaitu 15 liter/jiwa/hari. Kadang warga hanya mendapat jatah air 1 pikul (sekitar 20 liter)/hari/kepala keluarga dari sumur yg ada disekitar mereka, tanpa mempertimbangkan besar atau kecilnya jumlah jiwa di masing-masing kepala keluarga. Hal ini dilakukan karena air harus dibagi rata untuk semua kepala keluarga.

Untuk menambah jumlah dan mendekatkan air kepada warga, YSI melakukan Emergency Response (ER) berupa dropping air bersih ke desa-desa pada rentan waktu Oktober hingga Desember. Kehadiran air bersih menjadi berkat tersendiri bagi warga. Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, warga memberikan perpuluhan air. Mengambil sebagian air yang didapat untuk dikembalikan kepada bumi, dengan cara menanam pohon di sekitar rumah dan menyisihkan sedikit air untuk menyiramnya. Harapannya pepohonan di Raijua semakin bertambah dan dapat menyimpan cadangan air untuk Raijua kedepan. (Tina)

Read 634 times
Last modified on 09 November 2017