REFLEKSI

Kesehatan 19 Maret 2020

DISTRIBUSI DAN EDUKASI SARINGAN AIR PRAKTIS (SAP) DI Dsn. SUKADANA, LOMBOK UTARA

Rate this item
(0 votes)

Dalam portal berita tempo.com, Direktur Eksekutif Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia, Subekti mengatakan pelayanan air minum Indonesia terburuk se-ASEAN. Ditinjau dari tingkat layanannya, akses air minum yang aman di Indonesia baru mencapai 68,8 % di tahun 2015. Persentase tersebut terdiri dari air minum pemipaan sebesar 25 % dan non-pemipaan sebesar sebesar 43,8 %, sedangkan sisanya sebesar 31,2 % masyarakat masih mengkonsumsi air yang belum layak minum.

Persentase tersebut menjadikan Indonesia sedikit tertinggal dengan Negara tetangga yang mampu memberikan layanan akses air minum dengan persentase hingga 100 persen. Faktor yang menjadikan air layak minum relatif susah di Indonesia cukup beragam, mulai dari kekeringan, dampak limbah yang mencemari air hingga dampak yang ditimbulkan dari adanya bencana. Faktor-faktor tersebut mendorong masyarakat mengkonsumsi air kemasan; hal tersebut juga terjadi di wilayah Lombok Utara paska bencana gempa yang terjadi sebelumnya. Selain itu dari masyarakat didapatkan informasi bahwa mereka jarang memasak air untuk konsumsi air minum, sehingga air dari sumur ataupun sumber air langsung dikonsumsi tanpa disadari kebersihan dan tingkat kelayakan minum. Kondisi tersebut yang mendorong proyek CBDRM di Lombok Utara, khususnya dusun Sukadana upaya edukasi dan distribusi filter air penting. Upaya mendistribusikan dan melakukan edukasi terkait produk yang mampu menyaring air baku menjadi air layak minum, yaitu Saringan Air Praktis (SAP) diprioritaskan bagi kelompok rentan di dusun sukadana dan anak-anak di sekolah sekitar dusun.

Gravitasi Mataram sebagai salah satu mitra YSI di Lombok telah melakukan distribusi dan edukasi terkait Saringan Air Praktis (SAP) di Desa Sukadana, Lombok Utara. Distribusi tersebut mencakup 73 keluarga dan 3 sekolah dasar pada tanggal 21 Februari 2020 sampai 23 Februari 2020. Tidak hanya sekedar menerima distribusi, masyarakat di Desa Sukadana, Lombok Utara juga memperoleh edukasi terkait tentang pentingnya air bersih bagi kesehatan.

Penerimaan manfaat ini diprioritaskan bagi kelompok rentan yang terdiri dari balita, ibu hamil, anak-anak, lansia, difabel dan Orang dengan Gangguan Jiwa (OGDJ); sedangkan sekolah dasar yang menerima manfaat adalah SD I Sukadana, SD III Sukadana dan SD IV Sukadana. Edukasi yang diberikan lebih menitikberatkan pada pentingnya air bersih untuk kesehatan. Sebagian penerima manfaat beranggapan jika air yang layak minum adalah air yang harus dimasak terlebih dahulu, tetapi hambatan yang mungkin ditemui ialah membutuhkan sumber energi untuk memasaknya sehingga cukup menyulitkan apabila benar-benar tidak ada akses memperoleh sumber energi tersebut. Dijelaskan juga klasifikasi air baku yang digunakan untuk Saringan Air Praktis (SAP) adalah air yang tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa.

Capaian dalam proyek tersebut dilakukan dalam 2 tahap, yaitu pertama pendistribusian dan edukasi dilakukan di SD I Sukadana dengan total 262 siswa, SD III Sukadana dengan total 158 siswa dan SD IV Sukadana dengan total 253 siswa. Kedua dilaksanakan di Desa Sukadana Dusun Sukadana dengan 73 KK sebagai penerima manfaat yang kegiatannya dilakukan di rumah Kepala Dusun Sukadana. Masyarakat penerima manfaat saat itu memahami materi edukasi penggunaan dan perawatan Saringan Air Praktis (SAP) dan pentingnya air bersih. Proses ini tidak berhenti disini, tapi terus dimonitor baik oleh masyarakat, perangkat dusun dan Gravitasi Mataram agar apa yang diberikan tetap dapat dioptimalkan manfaatnya bagi tingkat kesehatan masyarakat. Selain itu menjaga dan memelihara apa yang dimiliki difungsikan bagi anggota keluarga dan mereka yang rentan. (Riyo)

Read 34 times
Last modified on 19 Maret 2020
Adherio Sasongko

Email Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.