REFLEKSI

Kesehatan 14 September 2018 Yayasan SHEEP Indonesia

Workshop Tentang Pengalaman Dan Pemahaman Pembangunan Desa

Rate this item
(0 votes)

Workshop tentang pengalaman dan pemahaman pembangunan desa dilaksanakan pada 14 Agustus 2018 berlokasi di kantor kepala Desa (Datok) desa Babo dan diikuti oleh perwakilan dari 8 Desa dampingan.

Desa tersebut adalah Gampong Tampur Bor, Gampong Tampur Paloh, Gampong Melidi dan Gampong Pante Kera yang ada di Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, sedangkan Kampung Baling Karang dan Pematang Durian ada di Kecamatan Sekrak, dan Kampung Babo, serta Kampung Batu Bedulang ada di Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh tamiang diwakili 3 orang sebagai peserta. Peserta yang merupakan perwakilan desa tersebut merupakan anggota Organisasi Masyarakat Basis (OMB) dan perwakilan organisasi masyarakat sipil (OMS) yang terdiri dari Ikatan pelajar dan mahasiswa kecamatan simpang jernih (IKAPEMAKSPJ) dan PESSAT sebagai bagian komponen desa untuk berkontribusi dalam pembangunan di desa dan memiliki peluang untuk membangun kerja sama bahkan dengan pihak di luar desa.

Para peserta dari Desa Melidi, Tampur Bor dan Tampur Paloh memiliki cerita menarik, tentang perjuangan dan proses agar dapat hadir dalam workshop tersebut. Akses transportasi dengan kondisi sungai yang dangkal (membuat mereka harus mendorong boat (atau perahu beberapa kali) menjadi pengalaman menarik tentang semangat masyarakat mendapatkan sesuatu. Saat ini transport perahu merupakan satu-satunya alat transportasi umum yang dapat digunakan oleh warga dari kecamatan simpang jernih untuk akses keluar desanya, namun sangat menyusahkan ketika air sungai sedang surut, selain melelahkan karena harus mendorong boat, juga waktu tempuh yang menjadi lebih lama.

Setelah workshop dibuka oleh perwakilan dari perangkat Desa Babo terkait tujuan dari workshop, dilanjutkan dengan sharing dari peserta untuk menggambarkan pemahaman tentang pembangunan desa. Sampai saat ini, mereka cukup memahami apa yang dimaksud pembangunan desa walaupun cara penyampaiannya berbeda-beda. Hal menarik yang ditangkap, masyarakat memahami bahwa pembangunan desa itu tidak hanya terfokus pada urusan pembangunan infrastruktur, namun persoalan peningkatan kapasitas SDM juga menjadi aspek penting.
"Pembangunan Desa merupakan proses untuk membangun sesuatu baik yang berupa sarana dan prasarana infrastruktur dan juga membangun manusia yang keseluruhannya bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat" (ungkap iyep, peserta dari pesat). Penjelasan tersebut dituangkan dalam bentuk gambar dalam metaplan.

Bahkan ada peserta lain mengungkapkan bahwa dalam menyusun perencanaan pembangunan desa, ada proses untuk memecahkan masalah yang ada di desa dan memanfaatkan potensi yang ada seperti diungkapkan oleh sabil, peserta dari Pante Kera. Hal ini merupakan perubahan kesadaran dan pemahaman yang dicapai masyarakat dari proses pendampingan selama ini. Masyarakat telah mulai berubah paradigma tentang pembangunan desa dan tidak hanya sekedar mengejar proyek dalam bentuk fisik tapi menyiapkan kapasitas para pengelolanya.

Selain berbagi pengalaman dan diskusi, dalam workshop Peserta diajak untuk menonton film tentang model pembangunan yang dilakukan dengan kerjasama pihak luar. Dari sesi tersebut; Peserta diberi pemaparan tentang pembangunan desa, kebijakan pembangunan desa, proses perencanaan desa, dan bentuk partisipasi warga dalam perencanaan. Dalam proses diskusi teramati bahwa mayoritas peserta terutama perwakilan dari OMB belum pernah melihat dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa/Gampong/Kampung (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang sesuai standard dan diharapkan. Bahkan Erna (Peserta dari Pematang Durian) secara kritis mengungkapkan bahwa dirinya telah beberapa kali meminta dokumen tersebut kepada pemerintah desa, namun belum pernah diberi. Dari sisi keterbukaan informasi, masyarakat telah menemukan beberapa persoalan, terutama akses informasi dalam dokumen perencanaan. Kekritisan masyarakat dengan kondisi menjadi hal menarik agar masyarakat semakin memahami bagaimana dapat berperan dalam pembangunan desa sesuai porsi peran dan haknya. Partisipasi yang dihaapkan dapat dilakukan dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan hingga proses pertanggungjawaban kegiatan pembangunan desa.

Sesi selanjutnya adalah mendiskusikan tentang isu strategis pembangunan masing-masing desa. Untuk merumuskan tersebut, peserta membekali diri dengan kajian atas pemasalahan dan potensi desa yang telah disiapkan bersama kelompok sebelum pelaksanaan workshop, baik dari OMB ataupun juga dari OMS. Semua desa menyoroti tentang pemahaman tugas pokok dan fungsi pemerintah desa yang tidak dipahami oleh perangkat desa dan mempengaruhi operasional kerja pelayanan perangkat desa. Isu tentang bagaimana membangun BUMDesa dan pemahamannya, kesehatan, Pendidikan, dan juga infrastruktur juga menjadi diskusi yang menarik dalam proses workshop. Semua poin penting tersebut yang diidentifikasi sebagai poin tindak lanjut yang harus direspon dan dikomunikasikan di masing-masing desa agar dipahami bersama. Dorongan dari OMS juga penting sebagai pelaksanaan kontrol dan kerja sama agar semua pihak dapat mengambil bagian untuk pembangunan desa yang lebih baik. Namun begitu, kesepakatan dan aturan tertulis juga menjadi bagian dari tindak lanjut agar sinergisitas dan kerjasama tersebut tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

 

Read 45 times
Last modified on 18 September 2018