
Proyek KIPHA (Keadilan Iklim bagi Perlindungan Hak Anak) dan SSRLFSC (Sistem Pangan Lokal yang Mandiri dan Berkelanjutan) Kembali memanfaatkan lokakarya sebagai ruang refleksi kritis untuk mengkaji capaian, tantangan, serta pembelajaran dari pelaksanaan proyek. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, pada tanggal 7–9 Juli 2025, dan dipandu oleh Andreas Subiyono dan Wahyu Wibisono sebagai moderator. Lokakarya ini diikuti oleh 30 peserta staf proyek dari SSRLFSC (Mentawai, Kupang, dan Sabu Raijua), staf proyek KIPHA, serta perwakilan komisi dan biro di Yayasan SHEEP Indonesia (YSI).
Sesi pertama dibuka dengan penyegaran konsep mengenai keadilan iklim dan kemandirian pangan. Andreas Subiyono mengajak seluruh peserta untuk menyamakan pemahaman terkait prinsip-prinsip dasar tersebut sebelum melangkah ke evaluasi pelaksanaan program. Kesepahaman ini dianggap penting agar diskusi berjalan dalam kerangka nilai yang sama dan memudahkan proses penyusunan strategi lanjutan.

Setelah pengantar tersebut, masing-masing perwakilan wilayah mempresentasikan capaian dan dinamika pelaksanaan program selama tahun pertama. Mereka mengidentifikasi strategi atau pendekatan yang dinilai efektif, serta mengakui metode atau kegiatan yang kurang berhasil yang dicontohkan SSRLFSC Mentawai terkait keberhasilan menjalin kolaborasi dengan berbagai CSO lokal seperti ICM untuk memperkuat advokasi perlindungan pangan lokal ke pemerintah daerah, serta menyusun pembagian peran dalam pelaksanaan proyek; ada pula proyek KIPHA yang sukses melaksanakan lokakarya literasi iklim di 12 sekolah, riset pelajar tentang keadilan iklim, serta ekspedisi perubahan iklim yang mendorong partisipasi siswa dan guru.
Selain keberhasilan ada pula tantangan yang dihadapi dalam implementasi proyek, seperti belum adanya sistem rumah produksi yang matang di keempat wilayah serta masalah hama pisang di siberut menyebabkan masyarakat enggan menanam kembali.
Sesi berikutnya difokuskan pada penyusunan konsep dan arah kegiatan untuk tahun kedua. Wahyu Wibisono menjelaskan bahwa strategi implementasi tahun kedua harus mempertimbangkan efektivitas pendekatan sebelumnya dan memperkuat sistem pendukung yang dibutuhkan, terutama dalam konteks rumah produksi untuk SSRLFSC dan kampanye publik untuk KIPHA.
Pada hari kedua, peserta lebih banyak bekerja dalam kelompok wilayah. Mereka menyusun rencana kerja tahun kedua dengan mempertimbangkan masukan dari para fasilitator dan tim lintas bidang. Diskusi dilakukan secara kolaboratif dengan pendekatan partisipatif yang menekankan bahwa penyusunan rencana berdasarkan peta tantangan dan potensi wilayah serta pemetaan rantai nilai di masing-masing wilayah

Kegiatan ditutup dengan presentasi masing-masing wilayah dan finalisasi perencanaan program. Hasil penyusunan rencana kerja tahun kedua ini akan menjadi acuan pelaksanaan proyek dan akan disahkan oleh Dewan Pengurus Yayasan SHEEP Indonesia; “Efektivitas bukan hanya tentang strategi yang dijalankan, tapi tentang apa yang berubah dan siapa yang berubah. Tahun kedua ini adalah tentang memperkuat dampak dan memperluas pengaruh.” Ucap andreas menutup Lokakarya.

