
Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) bersama lima lembaga mitra sebagai peer humanitarian partner (PHP) Program Mentoring ToGETHER menyelenggarakan menyelenggarakan Pelatihan Dasar Sphere dan Core Humanitarian Standard (CHS) dengan metode Training of Trainer (ToT) pada 19–22 Agustus 2025. Lima mitra tersebut Sinode GKJW, Yayasan Cappa Keadilan Ekologi, Yayasan Yaphi, Yayasan Jaga Balai, dan Perkumpulan Mitra Wacana. Kegiatan dilakukan di Komplek Kantor Sinode Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Malang. Pelatihan ini menjadi momentum yang menarik karena dilakukan bertepatan dengan Hari Kemanusiaan Dunia 2025, sebuah momentum yang menegaskan kembali komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Di awal pelatihan tersebut, para peserta difasilitasi untuk memahami, menginternalisasi, sekaligus mengajarkan kembali prinsip dan standar kemanusiaan internasional. Dalam pemahaman di awal. semua mitra sepakat bahwa Ephere dan CHS dapat memperkuat kapasitas organisasi maupun individu dalam menjalankan respon kemanusiaan.
“Pelatihan ini memang dirancang untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan para perwakilan PHP mengenai standar-standar minimum dan komitmen dalam respon kemanusiaan yang berlaku secara internasional, sehingga mereka mampu mentransfer pengetahuan tersebut di internal lembaga, serta mengintegrasikannya dalam pelaksanaan program-program respon kemanusiaan yang mereka jalankan”, ujar Tri Sulistyowati/Focal Point Person Program ToGETHER.
Pelatihan tersebut menekankan pentingnya penerapan standar minimum kemanusiaan sebagaimana dirumuskan dalam The Sphere Handbook serta komitmen akuntabilitas yang tercantum dalam Core Humanitarian Standard (CHS). Kedua instrumen ini menjadi rujukan internasional untuk memastikan respon kemanusiaan yang berkualitas, akuntabel, dan berpusat pada martabat manusia.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pemahaman konsep standar Sphere dan standar kemanusiaan inti. Selanjutnya, peserta mengikuti diskusi, studi kasus, dan micro teaching sehingga mereka tidak hanya memahami standar, tetapi juga mampu mengimplementasikannya serta mengajarkan kembali kepada komunitas dan jaringan masing-masing.
“Bencana mungkin bukan isu yang baru, tapi baru bagi kami ketika ikut dalam isu itu, saya mendapatkan banyak pengetahuan dari 4 hari berada disini termasuk bagaimana mempersiapkan proses fasilitasi. Selama ini dalam respon bencana kami hanya memberikan apa yang kami punya tapi ternyata banyak hal yang harus dilakukan mulai dari koordinasi sampai dengan perlunya memperhatikan adanya standar-standar minimum dalam respon kemanusiaan.” (Edi- CAPPA Keadilan Ekologi)
Melalui kolaborasi ini, Yayasan SHEEP Indonesia bersama lima lembaga mitra menegaskan komitmen untuk melanjutkan transfer pengetahuan ke jaringan kerja kemanusiaan lain melalui upaya serupa.

