
Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) menyelenggarakan Lokakarya Penguatan Kapasitas Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) sebagai bagian dari program Leadership for Change (LFC). Lokakarya yang diselenggarakan dua hari (23–24 Juni) ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk memperkuat peran OMS dalam merespons lima isu global: kemiskinan dan krisis pangan, perubahan iklim, kekerasan dan konflik sumber daya, pemberdayaan hak-hak perempuan, serta transformasi digital.
Lokakarya dibuka dengan refleksi dari Andreas Subiyono, Direktur YSI, yang menyampaikan bahwa program Leadership for Change lahir dari keprihatinan atas lemahnya daya saing OMS, terutama dalam hal keberlanjutan sumber daya manusia dan kepemimpinan transformatif. “OMS seringkali kuat karena individu, bukan karena sistem. Kita harus membangun organisasi yang bertahan bukan karena tokoh, tapi karena nilai dan struktur,” ungkap Andreas di sesi pembukaan; Andreas menegaskan pentingnya shifting the power—pergeseran kuasa dari lembaga-lembaga donor global kepada OMS lokal melalui penguatan kapasitas, konsolidasi, dan kemandirian.

Memperdalam pembahasan terkait lima isu global Prof. Suharko dari UGM menekankan bahwa krisis pangan, misalnya, bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal ketidakadilan dalam distribusi dan ketergantungan terhadap impor. Ia menyebutkan bahwa “Kedaulatan pangan menjadi mimpi yang kian jauh jika kita tidak mendorong ketahanan dari basis lokal. NGO perlu hadir bukan hanya sebagai penggerak, tapi juga pengawal kebijakan.” Diskusi berkembang hingga menyentuh transformasi digital yang dipandu oleh Elanto Wijoyono. Ia menekankan bahwa teknologi bukan sekadar alat, tetapi medan kekuasaan baru. “Siapa yang menguasai data, ia menguasai narasi. OMS perlu menguasai teknologinya, bukan sekadar menggunakannya.”

Hari kedua Lokakarya menjadi ajang pembacaan ulang struktur dan arah organisasi. Dalam sesi diskusi kelompok, masing-masing OMS mempresentasikan peta kekuatan, tantangan, dan peluang kolaborasi. Dari hasil diskusi, terlihat kebutuhan besar untuk mengintegrasikan kerja-kerja advokasi, penguatan SDM, hingga pemanfaatan teknologi secara kolektif. Sebagai output utama, peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk penguatan kapasitas dan konsolidasi OMS masing-masing.
Rina Wijaya, Koordinator KPOMS YSI, menutup Lokakarya dengan harapan: “Program ini bukan akhir, tapi pijakan. Kami berharap Leadership for Change menjadi ruang regenerasi yang kuat dan strategis bagi OMS di Indonesia.”

