Bupati Sabu Raijua menerima audiensi Perwakilan Yayasan SHEEP Indonesia di Kantor Bupati Sabu Raijua. Pertemuan ini menjadi ruang Dialog untuk memperkuat pelaksanaan Proyek Kemandirian Pangan Lokal Berkelanjutan (SSRLFS-C) di Kabupaten Sabu Raijua.

Audiensi dihadiri oleh Direktur Yayasan SHEEP Indonesia, Rina Wijaya, bersama Kristina selaku Project Manager Proyek SSRLFS-C, serta staf proyek wilayah Sabu Raijua. Dari pihak pemerintah daerah, hadir Bupati Sabu Raijua, Krisman Bernard Riwu Kore, S.E., M.M.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas beberapa topik diskusi diantaranya; perkembangan Kelompok mitra dampingan yang tergabung dalam 8 Organisasi Masyarakat Basis (OMB). Selama tahun 2025, anggota telah mengikuti berbagai kegiatan serta penguatan kapasitas pengorganisasian masyarakat, pengembangan ekonomi berbasis potensi sumberdaya lokal yang berkelanjutan, dan advokasi kepada pemerintah desa dan kabupaten.
Tim juga menyampaikan informasi terkait perkembangan rumah produksi yang saat ini telah memproduksi rumput laut dan ternak babi. Rumah Produksi dijalankan dengan menerapkan sistem manajemen usaha yang mencakup pengelolaan bahan baku dan pembinaan petani dan peternak, penerapan standar operasional prosedur (SOP) proses produksi, pengelolaan SDM dan pekerja dari masyarakat sekitar, serta pengelolaan jaringan pasar. Rumah produksi rumput laut diharapkan mampu memproduksi hingga 14 Ton rumput laut per bulan dan mendapatkan margin keuntungan 30 - 35%.

Bupati Sabu Raijua menyampaikan apresiasi atas kontribusi Yayasan SHEEP Indonesia dalam memperluas akses manfaat bagi masyarakat, khususnya di tengah efisiensi anggaran pemerintah daerah. Bupati juga menyatakan komitmen untuk melakukan monitoring lapangan bersama OMB dan pengurus rumah produksi pada bulan April 2026 guna meninjau kondisi, kebutuhan, serta peluang dukungan kebijakan. Dalam dialog, disampaikan juga beberapa kebutuhan penguatan sarana pendukung untuk meningkatkan efisiensi distribusi.
Melalui audiensi ini, kedua pihak sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam pendampingan, pusat belajar masyarakat, dan referensi kebijakan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memastikan keberlanjutan rumah produksi, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.

