
Pada 4,6, dan 14 November 2025, Program Studi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Yayasan SHEEP Indonesia menyelenggarakan praktek pemberdayaan komunitas sebagai bagian dari pembelajaran lapangan para residen untuk mengasah kemampuan mendiagnosis masalah kesehatan masyarakat dan merancang intervensi berbasis komunitas. Kegiatan dimulai dengan sesi pembekalan di Kantor YSI pada 4 November. Para residen mendapatkan pelatihan metode pengumpulan data sosial dan kesehatan masyarakat seperti wawancara, survei, dan Focus Group Discussion dengan pendekatan Participatory Rural Appraisal. Kristina dari YSI memperkenalkan enam metode PRA yang dapat digunakan seperti kalender musim, tren, peta wilayah, dan diagram Venn.

Para residen mempelajari teori dan melakukan simulasi penerapan metode PRA. Kristina menekankan pentingnya memilih metode yang sesuai untuk menentukan prioritas masalah dan menyusun rencana pemberdayaan komunitas yang relevan dengan kondisi setempat. Berdasarkan gambaran wilayah Padukuhan Kebur Lor dan diskusi kelas, para residen memutuskan memperdalam dua metode yaitu analisis tren dan pemetaan wilayah yang kemudian digunakan dalam praktek lapangan.
Praktek lapangan dilaksanakan pada 6 November di Padukuhan Kebur Lor, Kalurahan Argomulyo. Para residen berinteraksi dengan sepuluh warga seperti ketua RT, bidan desa, kader posyandu, dan tenaga kesehatan rumah sakit. Mereka melakukan Focus Group Discussion untuk mengidentifikasi persoalan kesehatan dan faktor risiko seperti perilaku hidup bersih, ketersediaan air bersih, serta kesadaran terhadap penyakit tidak menular. Diskusi berjalan aktif dan menghasilkan temuan baru. Andre, salah satu residen, menyampaikan bahwa hasil informasi lapangan berbeda dengan asumsi awal karena karakteristik dan kondisi di empat RT menunjukkan variasi perilaku hidup bersih dan akses layanan kesehatan.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan presentasi pada 14 November 2025 yang menghasilkan catatan dan rencana tindak lanjut untuk memperdalam pendekatan medical community. Peserta diminta memperjelas batas antara public health dan medical community terkait promotif, preventif, dan kuratif. Diskusi menekankan kebutuhan data berbasis medical, strategi masuk komunitas, komunikasi empatik, dan pentingnya membedakan kebutuhan normatif dan komparatif.
Sebagai penutup, dr. Yogi selaku dosen pendamping menyampaikan bahwa pengalaman ini memperkaya pemahaman para residen tentang pentingnya mengenali determinan sosial kesehatan dan menerapkan pendekatan kedokteran komunitas secara komprehensif. Para residen juga belajar memposisikan diri sebagai fasilitator perubahan melalui dialog dan kerja sama.

