
Rabu, 29 Oktober 2025, masyarakat dari berbagai desa di Kepulauan Mentawai berkumpul di Lapangan Desa Saureinu untuk menghadiri Festival Pangan Lokal Mentawai 2025. Festival sehari penuh ini bertepatan dengan peringatan 15 tahun tsunami Mentawai dan mengusung tema “Merdeka dengan Pangan Lokal, Tangguh Menghadapi Bencana, dan Adaptasi Perubahan Iklim yang Inklusif.”
Kegiatan ini digagas oleh kelompok masyarakat, pemerintah desa, dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam Forum Masyarakat Sipil Mentawai (FORMASI Mentawai). Acara dihadiri tujuh kepala desa dampingan dari Matobe, Saureinu, Sioban, Mara, Nemnemleleu, Beriulou, dan Bosua, serta dua desa dari Sipora Utara, yakni Sipora Jaya dan Sido Makmur. Sejumlah pejabat daerah juga hadir, termasuk Camat Sipora Selatan, Kepala Dinas DPMD2KB, Kepala BPBD, Diskominfo, serta Kepala Dinas Perindagkop dan UMKM.
FORMASI Mentawai merupakan kolaborasi lembaga seperti Yayasan SHEEP Indonesia (YSI), Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM), CDRM & CDS, Jemari Sakato, Fondasi Hidup, LP2M, AMAN, FPRB, dan PMI. Koordinator FORMASI, Ikbal Herdiansyah, menjelaskan bahwa festival ini menjadi bagian dari upaya bersama memadukan pelestarian budaya pangan dengan kesiapsiagaan bencana. “Pangan lokal bukan sekadar tradisi, tetapi sumber ketahanan dan kebanggaan. Saat logistik terputus, masyarakat bisa bertahan karena mengenal dan mengolah pangan dari tanahnya sendiri,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Mentawai menegaskan hal serupa dengan menyebut pangan lokal sebagai penopang utama saat bencana. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa pengalaman Mentawai menghadapi bencana besar telah menunjukkan pentingnya kemandirian pangan lokal. Menurutnya, ketika bencana memutus jalur logistik, masyarakat yang mengenal dan memanfaatkan sumber pangan lokal dapat bertahan lebih cepat dan pulih lebih tangguh. Karena itu, BPBD mendukung inisiatif seperti festival ini sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana berbasis komunitas.

Festival menampilkan beragam pangan khas Mentawai seperti keladi, pisang, sagu, serta pangan ekstrem toek (cacing kayu) dan batra (ulat sagu). Berbagai kelompok masyarakat, termasuk Organisasi Masyarakat Basis (OMB) dampingan YSI, memamerkan inovasi olahan seperti keripik keladi, stik pisang, dan onde-onde keladi cokelat yang ludes terjual. Kelompok penyandang disabilitas dari Desa Nemnemleleu juga menampilkan hasil anyaman tangan yang diminati pengunjung.
Selain pameran dan bazar, festival diisi dengan Lomba Puisi Anak bertema “Mentawai, Alamku, Pangan dan Bencanaku,” Lomba Masak Pangan Lokal untuk kelompok perempuan dengan menu darurat berbasis bahan lokal, pertunjukan seni tradisional, serta lomba menggambar dan mewarnai bagi anak-anak. Salah satu peserta lomba yang berasal dari SMP di Desa Saureinu menerangkan bahwa lomba yang diadakan sangat sesuai untuk memunculkan kembali kebanggaan anak-anak dalam mengkonsumsi pangan lokal, karena seluruh rangkaian lomba yang bertemakan tentang pangan lokal.

Kegiatan ini tidak hanya memperkuat semangat kemandirian pangan, tetapi juga membangun jejaring antar komunitas desa dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan bencana. Lebih dari 250 warga ikut berpartisipasi dalam festival kali ini.
Pasca festival, YSI bersama anggota FORMASI akan menindaklanjuti hasil kegiatan melalui pelatihan diversifikasi produk pangan lokal, riset pasar, dan penguatan jejaring “Desa Mandiri Pangan.” Upaya ini diarahkan untuk memastikan festival tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang memperkuat ekonomi lokal dan ketahanan masyarakat Mentawai di masa depan.

