
Pada 22–23 September 2025, kawasan Blok Santong menjadi lokasi Training of Trainer (ToT) Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) berbasis lanskap. Kegiatan ini melibatkan delapan desa dampingan, yaitu Desa Santong, Desa Sesait, Desa Santong Mulia, Desa Pendua, Desa Kayangan, Desa Dangiang, Desa Pansor, dan Desa Gumantar. Total peserta sebanyak 24 orang (14 laki-laki, 10 perempuan) yang berasal dari kelembagaan desa di sektor ekonomi, kesehatan, kebencanaan, dan lingkungan.
ToT terlaksana untuk semakin memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim dengan pendekatan lanskap. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan SHEEP Indonesia dengan dukungan Diakonie Katastrophenhilfe. Metode yang digunakan adalah PACDR (Participatory Assessment of Climate and Disaster Risks) yang menekankan partisipasi aktif masyarakat. Fokus kegiatan diarahkan pada tiga sektor kelembagaan desa: ekonomi, kesehatan, dan lingkungan/PRB.

Hari pertama, peserta menelusuri sejarah kebencanaan dari hulu hingga hilir, merumuskan rantai dampak ancaman, melakukan pemetaan sumber daya dan potensi bahaya secara partisipatif, serta mengidentifikasi kalender musim yang menjadi dasar pola hidup dan mata pencaharian warga. Salah satu peserta dari Desa Santong Mulia menyampaikan, “Kami jadi lebih paham bahwa berkurangnya debit air di musim kemarau dan banjir yang kami alami bukan hanya karena cuaca ekstrem, tetapi juga karena kondisi hutan di bagian hulu sudah banyak berkurang. Melalui pemetaan ini, kami bisa melihat hubungan antara kelestarian hutan dengan keberlangsungan hidup di hilir, termasuk hutan, kebun, sawah, dan sumber air kami.”
Hari kedua dilanjutkan dengan perumusan dan skoring matriks dampak bencana. Dari proses ini, peserta menyusun langkah adaptasi sesuai kondisi desa, seperti:
- Ekonomi: diversifikasi produk, pengolahan limbah plastik, penggalakan bibit unggul dan adaptif, manajemen risiko usaha.
- Kesehatan: kampanye PHBS, peningkatan partisipasi posyandu, penguatan kapasitas kader PRB dan API, skrining TB.
- Lingkungan: penghijauan/reboisasi, implementasi awik-awik perlindungan mata air, pengelolaan sampah.
Peserta juga merancang rencana aksi terintegrasi di tiga sektor kelembagaan. Rencana ini diharapkan menjadi acuan bersama desa-desa di Blok Santong.
Selanjutnya, pada 24–25 September 2025, kegiatan serupa dilaksanakan di kawasan Blok Murus Malang yang mencakup enam desa dampingan: Desa Selengen, Desa Salut, Desa Mumbul Sari, Desa Akar-Akar, Desa Gunjan Asri, dan Desa Andalan. Jumlah peserta sebanyak 22 orang (16 laki-laki, 6 perempuan).

Peserta di Blok Murus Malang juga melalui tahapan yang sama. Hari pertama difokuskan pada penelusuran sejarah kebencanaan, perumusan rantai dampak ancaman, pemetaan partisipatif, serta identifikasi kalender musim. Hari kedua dilanjutkan dengan penyusunan matriks dampak, perencanaan langkah adaptasi, dan perumusan rencana aksi kelembagaan desa di sektor ekonomi, kesehatan, dan lingkungan/PRB.
Kegiatan ToT ini menunjukkan bagaimana masyarakat desa mampu mengidentifikasi risiko, menyusun strategi adaptasi, dan merancang aksi nyata secara kolektif. Hasilnya tidak hanya berupa dokumen rencana aksi, tetapi juga peningkatan pemahaman, keterampilan, dan komitmen bersama antar-desa di kawasan dampingan. Ke depan, hasil ToT ini diharapkan menjadi acuan untuk penyempurnaan atau integrasi ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa yang sedang dalam tahap akhir, serta ditindaklanjuti melalui forum bersama antar-desa di kawasan dampingan.

