
Jumat, 19 September 2025, Yayasan SHEEP Indonesia bersama Organisasi Masyarakat Basis (OMB) Seusegat melaksanakan kampanye pangan lokal di SD 21 Madobag. Kegiatan ini dihadiri oleh 61 peserta, terdiri dari 15 guru, 9 anggota OMB, 35 siswa, dan 3 staf YSI.
Latar belakang kegiatan ini berangkat dari semakin maraknya pangan instan yang masuk ke Siberut. Kondisi tersebut membuat pangan lokal semakin tersisih, padahal pangan lokal memiliki kandungan gizi alami yang baik tanpa bahan pengawet. Karena itu, generasi muda perlu didorong untuk mencintai, mengenali, dan mempertahankan pangan lokal yang berakar pada kearifan serta budaya setempat.

Dalam kegiatan ini, anggota OMB Seusegat mengajak siswa memahami pangan lokal melalui penjelasan tentang pengertian, jenis, manfaat, serta motivasi untuk mendukung gerakan pangan lokal. Penyampaian materi diselingi dengan kuis interaktif yang membantu siswa mengingat poin penting. Tiga siswa berhasil menjadi pemenang kuis. Untuk menjaga semangat, panitia juga mengadakan ice breaking sebelum lomba menggambar pangan lokal dimulai.
Hasil karya siswa dinilai oleh tim juri dari SD 21 Madobag. Gambar-gambar yang dihasilkan menampilkan berbagai pangan sehari-hari masyarakat, seperti subbet (keladi), ulat sagu, kapurut (sagu dimasak dengan daun sagu), pisang, keladi, pohon sagu, hingga sagu yang dimasak dalam bambu. Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama menu berbahan pangan lokal, antara lain keladi, sagu kapurut, dan pisang rebus.
Upaya mengenalkan pangan lokal ini sekaligus menjadi bagian dari kampanye gerakan pangan lokal untuk siswa. Guru dan siswa diberi referensi tambahan agar terdorong mendukung gerakan tersebut. Seorang guru bahkan menegaskan komitmennya dengan mengajak siswa membawa bekal pangan lokal setiap hari sekolah. “Kami ingin menerapkan aturan membawa bekal pangan lokal di sekolah untuk membentuk kesadaran siswa,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membangun kecintaan terhadap budaya pangan lokal. Siswa belajar bahwa pangan seperti sagu kapurut, ubi rebus, pisang rebus, dan keladi memiliki nilai gizi tinggi serta bermanfaat bagi kesehatan. Mereka juga didorong untuk mengurangi ketergantungan pada makanan instan. Ke depan, sekolah berkomitmen menggerakkan konsumsi pangan lokal dan mengembangkan kebun percontohan. Dengan begitu, siswa dapat belajar langsung dari praktik lapangan sekaligus memperkuat kesadaran untuk menjaga dan mencintai pangan lokal.

