
Suasana SD Sanjaya Tritis pada Jumat siang (15/08) terasa berbeda. Di tengah kegiatan belajar mengajar, beberapa guru berkumpul mengikuti program JuSi (Jumat Sinau). Program ini merupakan agenda rutin bagi para guru untuk terus mengasah kapasitas diri. Pada kesempatan itu, mereka mempelajari topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu tanaman obat.
Bersama fasilitator dari Yayasan SHEEP Indonesia, para guru belajar mengenali, memanfaatkan, hingga mencoba langsung meracik bir pletok—minuman hangat kaya rempah yang bermanfaat menjaga daya tahan tubuh. “Ternyata bahan-bahannya mudah sekali ditemukan di sekitar kita, bahkan ada yang tumbuh di kebun sekolah,” ujar salah satu guru.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para guru untuk memahami tanaman obat sebagai bagian dari upaya melindungi hak anak atas kesehatan sekaligus strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan bekal ini, mereka tidak hanya mampu mengolahnya, tetapi juga berkesempatan menularkan keterampilan tersebut kepada siswa, sekaligus menghidupkan kebun obat sekolah sebagai laboratorium pembelajaran.

Sebagai penguatan, kegiatan ini juga memberikan pembekalan lebih lanjut mengenai manfaat serta cara mengolah tanaman obat, termasuk praktik meracik bir pletok. Hal ini dilakukan agar para guru dapat menerapkannya kembali bersama siswa. “Guru adalah kunci. Kalau mereka memahami tanaman obat, pengetahuan itu bisa diturunkan kepada siswa—baik di kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Hariyoso, Koordinator Komisi Pelayanan Kesehatan Primer YSI sekaligus fasilitator kegiatan.
Beberapa hari kemudian, Selasa (19/08), giliran siswa kelas 1 dan 2 yang mengikuti kegiatan. Mereka diperkenalkan dengan berbagai tanaman obat: jahe, kunyit, serai, lidah buaya, kelor, cengkih, hingga kapulaga. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka bergantian mencium, menyentuh, dan mencoba mengenali tanaman-tanaman tersebut. “Baunya segar!” seru seorang siswa sambil mengendus rimpang jahe.
Kegiatan berlanjut pada 1 September, ketika siswa kelas 3 dan 4 mendapatkan pengalaman berbeda. Mereka tidak hanya belajar mengenal tanaman obat, tetapi juga menanam bibit di kebun sekolah. Aktivitas ini dikaitkan dengan mata pelajaran PSH (Program Sekolah Hijau) yang menjadi ciri khas SD Sanjaya Tritis.

Keesokan harinya, 2 September 2025, anak-anak kelas 5 dan 6 mendapat kesempatan meracik minuman jahe-serai-jeruk nipis yang segar, serta jahe susu yang hangat di tenggorokan. Mereka belajar mulai dari mengupas, memotong, merebus, hingga mencicipi—semuanya dikerjakan dengan tangan mereka sendiri. Hasil racikan ini kemudian dibagikan kepada seluruh warga sekolah, mulai dari kelas 1 hingga guru dan karyawan. Lewat praktik sederhana tersebut, mereka belajar sekaligus diingatkan bahwa alam sekitar menyediakan begitu banyak hal yang menyehatkan.
Rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Dengan memanfaatkan tanaman obat lokal, sekolah berhasil mengajak seluruh elemen yang ada untuk mengurangi ketergantungan pada obat kimia, menekan jejak karbon dari distribusi obat, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati. Anak-anak belajar menjaga kesehatan dengan cara yang sederhana, ramah lingkungan, dan sesuai kearifan lokal. Pada saat yang sama, para guru dan karyawan semakin percaya diri untuk menambahkan serta mengintegrasikan tema tanaman obat ke dalam pembelajaran sehari-hari. Melalui kebun obat dan praktik meramu minuman herbal, SD Sanjaya Tritis telah menunjukkan bahwa sekolah mampu menjadi pusat pembelajaran hidup yang melindungi hak anak atas kesehatan.

