
Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) bersama Organisasi Masyarakat Basis (OMB) mitra terus menggalakkan kampanye pangan lokal di berbagai wilayah dampingan. Gerakan ini tidak hanya memperkenalkan keanekaragaman pangan lokal, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memproduksi, membudidayakan, mengonsumsi, hingga memasarkan produk berbasis potensi daerah, demi mengurangi ketergantungan pada pangan dari luar.
Di Nusa Tenggara Timur, OMB Titu Hari dari Desa Keliha mewakili Kabupaten Sabu Raijua dalam Pesta Pangan Lokal dan Budaya Zona 1 Tingkat Provinsi NTT di Timor Tengah Utara. Dengan tema “Melestarikan Rasa, Menjaga Keberagaman Budaya”, OMB Titu Hari menampilkan beragam produk olahan seperti Sereal Wolappa Sorgum, Woperaggu, Gula Sabu, Sambal Bawang, hingga Tortila Jagung. Produk-produk ini lahir dari proses panjang penguatan kapasitas bersama YSI—mulai dari sekolah lapang hingga pengolahan hasil panen—sekaligus menjadi simbol kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Apresiasi turut disampaikan perwakilan YSI yang hadir langsung, bahwa partisipasi mitra lokal dalam pesta pangan menunjukkan hasil nyata dari penguatan komunitas menuju sistem pangan yang berdaulat, adil, dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan pesan Bupati TTU Yosep Falentinus, bahwa gelaran pesta pangan merupakan perayaan identitas, keberagaman budaya, dan kedaulatan masyarakat atas pangannya.
Di wilayah lain, kampanye pangan lokal juga berlangsung meriah. OMB Titi Ruba Muri Desa Kotahawu dan OMB Ruba Muri Desa Ledetalo menggelar Lomba Olahan Pangan Lokal dalam rangka HUT ke-114 Gereja Imanuel Kotahawu, diikuti 9 kelompok dengan kreasi berbahan dasar umbi, pisang, hingga hasil laut. Di Desa Bosua, Kepulauan Mentawai, lomba pangan lokal akan menjadi bagian dari perayaan HUT RI ke-80, dipromosikan melalui media sosial desa.
Sementara itu, OMB Tunas Muda Desa Raknamo tengah menyiapkan produk olahan singkong, pisang, dan kue tradisional untuk promosi di tingkat kabupaten, dan OMB Atabaga Desa Matotonan (Mentawai) menampilkan biskuit tepung pisang, kue semprong sagu, sate batra (ulat sagu), serta olahan sagu dan keladi dalam HUT ke-45 desa.
Beberapa warga yang hadir menyampaikan apresiasinya atas keberadaan pangan lokal dalam kegiatan kegiatan tersebut; “Produk-produk ini unik dan berbeda dari yang biasa kami temui di pasaran. Rasanya sangat enak. Saya pingin bisa lebih mudah menemukannya di pasar nanti.”

Serangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa kampanye pangan lokal bukan menjadi strategi membangun kesadaran, memperluas pasar, serta memperkuat citra pangan lokal sebagai pilihan sehat, terjangkau, dan bernilai ekonomi.

