Babi merupakan jenis ternak yang rentan terkena penyakit, namun sayangnya tidak banyak tersedia klinik atau layanan kesehatan hewan yang dapat membantu mengobatinya, terutama di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Menghadapi keterbatasan ini, kelompok mitra Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) berinisiatif mengembangkan pengetahuan dan mencari solusi atas persoalan lokal yang dihadapi. Penggunaaan obat tradisional berbasis bahan-bahan alami yang mudah ditemukan menjadi salah satu ide untuk pemanfaatan potensi lokal di lingkungan sekitar.

Salah satu praktik ini datang dari kelompok OMB Dhei Ta Pe Kaddi. Seorang anggotanya, Yohana Djo Rate, telah membagikan pengalamannya dalam mengobati ternak babi yang menunjukkan gejala lemas dan kehilangan nafsu makan. Ia menggunakan ramuan tradisional yang terbuat dari umbi bakung (dalam bahasa lokal disebut kelia barri) yang dicampur dengan bahan alami lainnya, seperti kerak periuk (maddi arru) dan air gula sabu (ei donahu hawu). Ramuan ini kemudian dibalurkan ke seluruh tubuh ternak babi sambil dipijat perlahan. Selain berfungsi sebagai obat luar, pemijatan ini juga membantu melancarkan peredaran darah dan meningkatkan respons tubuh ternak.

Mengapa upaya-upaya mandiri ini penting dilakukan? Dalam konteks persaingan pasar, keberhasilan pengelolaan komoditas ternak tidak hanya bergantung pada kuantitas produksi atau luasnya jaringan distribusi. Sehingga salah satu untuk peningkatan kualitas adalah menjaga kesehatan dan kondisi ternak yang menentukan keberlanjutan pasokan. Praktik pengobatan tradisional yang dikembangkan oleh masyarakat (Yohana) juga menjadi contoh nyata penerapan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) — yaitu pendekatan pertanian berkelanjutan yang meminimalkan ketergantungan pada input dari luar dan mengoptimalkan sumber daya lokal.

Walaupun efektivitas klinis dari ramuan tradisional ini belum diteliti secara ilmiah, pengalaman di lapangan menunjukkan hasil positif. Setelah pengobatan, babi yang semula sakit menunjukkan tanda-tanda pemulihan, termasuk peningkatan nafsu makan dan aktivitas fisik yang lebih baik. Pada beberapa kasus, babi yang sebelumnya mengalami gangguan pernapasan dan pencernaan berhasil sembuh hanya dengan terapi tradisional ini.

