Perubahan iklim telah membawa dampak nyata bagi banyak komunitas, terutama dalam sektor pertanian. Salah satu dampaknya adalah pergantian musim yang tak menentu dan cuaca ekstrem yang sulit diprediksi. Bagi kelompok Tafena Hit Kuan—mitra Yayasan SHEEP Indonesia di Kupang, Nusa Tenggara Timur—situasi ini menjadi tantangan serius. Ketidakpastian cuaca menyulitkan mereka dalam menentukan waktu tanam yang tepat dan jenis komoditas yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang berubah.

Dalam konteks ini, muncul kebutuhan mendesak untuk melakukan adaptasi. Salah satu bentuk adaptasi yang dicoba kelompok adalah menanam tanaman di luar musim idealnya—sebuah strategi yang tidak umum dilakukan dalam kondisi iklim normal. Tanaman sawi menjadi contoh menarik dalam praktik ini. Umumnya, sawi membutuhkan kondisi yang relatif stabil dan tidak menyukai terlalu banyak air. Namun, meski musim kemarau justru diwarnai hujan yang turun tidak menentu, kelompok tetap mencoba membudidayakan sawi sebagai alternatif yang memungkinkan untuk terus bertani di tengah iklim yang sulit diprediksi.
Upaya ini tidak dilakukan secara asal-asalan. Dengan persiapan lahan yang matang, penggunaan bedeng-bedeng tanam, serta pemanfaatan pupuk kandang tanpa pestisida kimia, kelompok berhasil merawat sawi hingga masa panen. Meskipun risiko gagal tanam akibat curah hujan tetap ada, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa adaptasi berbasis pengalaman lokal dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia bisa menjadi solusi nyata menghadapi perubahan iklim.
Lebih dari sekadar menanam, pengalaman ini juga mendorong perubahan cara pandang kelompok terhadap hasil panen mereka. Selama ini, hasil pertanian umumnya langsung dijual, sementara kebutuhan pangan rumah tangga dipenuhi dari pasar. Kini, kelompok mulai menyadari pentingnya mengolah dan mengonsumsi sebagian hasil panen sendiri. Praktik ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap produk olahan luar yang seringkali berasal dari bahan baku serupa.

