
Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) melalui program Keadilan Iklim dan Perlindungan Hak Anak-KIPHA bekerja sama dengan Fransiska Dani, seorang penggiat pengolahan sampah dari Cupuwatu, YSI menyelenggarakan edukasi terkait sampah kepada sekitar 100 siswa kelas 1 dan 2 MTs Masyithoh, Sleman.
Kegiatan ini terintegrasi dalam rangkaian acara Kemah Cakrawala, yang menjadi ruang edukasi sekaligus pengalaman langsung bagi anak-anak. Pada kegiatan ini anak-anak diajak memahami pentingnya pengelolaan sampah. Proses mengajak anak-anak memahami dilakukan dengan metode menyenangkan melalui memilah, memilih, hingga mengolah sampah yang mereka hasilkan sendiri.

Tak hanya teori, para siswa juga terlibat langsung dalam praktik memilah sampah dari bekal yang mereka bawa maupun dari sisa makanan yang mereka masak selama kegiatan kemah. Menariknya, beberapa anak secara spontan mengungkapkan rasa jijik saat harus berinteraksi dengan sampah mereka sendiri—sebuah reaksi yang justru menjadi momen reflektif bahwa sampah adalah bagian dari tanggung jawab pribadi. Salah satu peserta kelas 2, mengaku awalnya merasa ragu saat diminta memilah sisa makanan dan sampah lainnya. “Awalnya jijik sih, soalnya itu kan udah jadi satu di sampah, apalagi ada temen-temen yang buang sisa makanan juga kemaren, tapi paling nggak jadi ngeh kalau kita udah memilah sejak awal itu tuh bisa ngurangin jijiknya dan tau mana yang bisa dijual atau diolah lagi”
Menyikapi hal itu, Dani selaku narasumber dan Evi perwakilan dari YSI, memberikan penegasan tambahan mengenai pentingnya edukasi memilah dan memilih sampah sejak dari rumah. Edukasi ini mencakup pemahaman jenis-jenis sampah, seperti sampah organik yang bisa diolah menjadi pupuk, sampah bernilai ekonomi yang bisa dijual atau di lapak, serta sampah yang dapat didaur ulang. Hal ini sangat penting agar anak-anak tak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga untuk terbangun kesadaran dan mengurangi rasa jijik terhadap sampah yang notabene adalah “produk” konsumsi mereka sendiri.

ungkapnya yang menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman yang mulai mengubah cara pandangnya terhadap sampah. Sebagai penutup kegiatan, para peserta (siswa, guru, dan tim dari YSI) melakukan aksi penanaman pohon di pelataran Youth Center DIY, lokasi berlangsungnya kegiatan kemah sebagai simbol dari komitmen mereka untuk menjaga lingkungan dengan memperbanyak tumbuhan yang mampu menghasilkan oksigen

