REFLEKSI

Lingkungan 21 Desember 2017 Yayasan SHEEP Indonesia

SRI dan Kegagalan (yang) Sukses

Rate this item
(0 votes)

Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) mulai mengenalkan budidaya padi metode SRI (system of rice intensification) sejak tahun 2008. Pada saat itu, seorang warga Desa Batu Sumbang Kec. Simpang Jernih - Aceh Timur mulai mempraktikkannya hasil dari nonton video metode menanam padi SRI yang dibawa oleh staf YSI.

Pada 2009, di Desa Babo Kec. Bandar Pusaka - Aceh Tamiang, dua orang petani dari Kelompok Tani Babo Jaya mempraktikkan SRI pasca mendapatkan pelatihan oleh staf YSI. Satu petani berhasil dan satu petani gagal.

Pada 2011 hingga 2012, tiga orang petani Desa Tampor Boor mengembangkan padi SRI. Ketiga petani mengaku hasil panen padi SRI lebih banyak dibandingkan saat mereka menanam padi dengan metode yang konvensional. Tahun 2014, beberapa petani Desa Babo kembali mencoba mempraktikkan metode SRI, namun mereka mengaku tidak berhasil karena terserang hama.

Pada akhir 2015 hingga awal 2016, petani Desa Babo, Balingkarang dan Melidi mempraktikkan tanam padi metode SRI. Petani Desa Babo berhasil panen, sedangkan petani Desa Melidi mengalami gagal panen karena terserang hama. Petani Desa Balingkarang mengalami gagal ditengah proses karena petani tidak taat prosedur. Pada akhir tahun 2016, petani Balingkarang kembali menanam padi metode SRI namun kembali gagal ditengah jalan karena tanaman padi tertimbun rumput disebabkan tidak dilakukan penyiangan.

Tahun 2017, empat warga Desa Batu Sumbang kembali mencoba menanam padi metode SRI. Namun, terserang hama keong emas dan walang sangit membuat mereka gagal panen.

Cerita-cerita kegagalan
Di Desa Babo, petani mudah mendapatkan akses informasi dan bantuan dari berbagai pihak (termasuk pemerintah) karena Desa Babo adalah ibu kota Kecamatan Bandar Pusaka. Kelompok Tani Babo Jaya selain mendapatkan dukungan dari YSI, juga sering mendapatkan bantuan dari pemerintah baik berupa sarana produksi pertanian, benih hingga pelatihan-pelatihan. Petani Desa Babo mengaku bahwa metode SRI sangat rumit. Mereka membandingkannya dengan metode Jajar Legowo (hasil pembelajaran mereka dengan Dinas Pertanian) yang dianggap lebih simple. Petani Desa Babo mengaku bahwa hasil panen yang didapatkan dari menanam padi metode SRI, Jajar Legowo dan konvensional tidak jauh berbeda.

Di Desa Melidi, Tampor Boor, Balingkarang dan Batu Sumbang persoalan utama yang dihadapi petani terkait dengan pengembangan menanam padi metode SRI adalah soal manajemen air. Selain itu juga banyaknya serangan hama terutama walang sangit dan keong emas.

Pengalaman mengesankan didapatkan di Desa Balingkarang dan Batu Sumbang. Di Balingkarang, kegagalan SRI disebabkan persoalan perawatan. Oleh karena para petani sibuk panen padi darat, tanaman padi SRI tidak dirawat. Karena panen padi darat sukses, para petani merasa tak perlu susah payah merawat padi SRI yang sudah ditelan rumput.

Di Batu Sumbang, saat petani mengembangkan padi SRI, serangan hama keong emas mengganas pada saat penanaman dan pertumbuhan. Dampaknya banyak tanaman padi yang hilang dimakan keong emas. Sedangkan pada saat padi sudah mulai berbuah, serangan hama walang sangit mengganas. Sekitar 85% tanaman padi gagal panen.  Saat dilakukan evaluasi bersama empat petani yang mengembangkan SRI didapatkan informasi bahwa meski terserang hama, tapi mereka masih bisa panen walau sangat sedikit. Ada yang mendapatkan 50 kaleng dan ada yang kurang dari 50 kaleng. Tetapi semuanya bisa panen.

Pengakuan mengejutkan saat seorang perempuan janda (salah satu pengembang SRI) bercerita bahwa pada saat pertumbuhan tanaman padinya sangat bagus; hijau dan tumbuh subur. dikarenakan pertumbuhan tanamannya bagus, Babinsa (bintara pembina desa), Polmas (polisi masyarakat) dan PPL (penyuluh pertanian lapangan) Dinas Pertanian sering mendatangi lahan tersebut dan kemudian mengambil dokumentasi (memotret).
Memasuki masa bulir padi berisi, serangan hama walang sangit datang. Akhirnya sedikit sekali hasil panennya. Diakhir kesaksian itulah saya tertegun: "saya tidak bisa panen dengan baik karena saya banyak dosa. Saya berdosa terhadap orang-orang yang mem-foto tanaman padi saya pada saat tumbuh bagus. Saya selalu berkomentar tidak enak kepada mereka yang mem-foto padi saya. Di foto terus, tapi tidak pernah dapat bantuan. Mungkin karena itu, Allah memberikan balasan kepada saya. Ya begitu, pertumbuhan padi saya paling bagus, tapi hasilnya tidak baik. karena saya banyak dosa." Demikian cerita penutup yang disampaikan perempuan itu.

Mimpi pengembangan tanaman padi metode SRI bisa menjawab 80% masyarakat dampingan mampu menyediakan makanan pokoknya secara mandiri telah gagal. Sisi lain, kita telah sukses belajar bahwa SRI bukan hanya soal metode menanam padi, tapi juga terkait dengan strategi pengorganisasian, konteks alam, sosial, budaya bahkan keyakinan. (Husaini)

Read 353 times
Last modified on 21 Desember 2017