REFLEKSI

Lingkungan 01 Oktober 2017 Yayasan SHEEP Indonesia

Merawat Tradisi dan Budaya Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah

Rate this item
(0 votes)

Kayen, Pati— Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) bekerjasama dengan ahli waris Kendeng telah mengadakan sarasehan bertema “ Merawat Tradisi & Budaya Pegunungan Kendeng ”, Minggu, 1 Oktober 2017.

Sarasehan tersebut dihadiri sekitar 50 orang dari lapisan masyarakat wilayah Jawa Tengah (Pati, Rembang, Grobogan). Sarasehan membahas dan menguatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya menjaga pelestarian kawasan Karst (termasuk Gunung Kendeng) serta tradisi dan budaya yang juga menjadi kekayaan wilayah tersebut sejak dulu.

Hal menarik lainnya dalam sarasehan, masyarakat juga diajak untuk memahami tentang sejarah pegunungan Kendeng dalam keberlangsungan kehidupan warga di wilayah tersebut. Seperti diketahui dari sisi geografis, pegunungan Kendeng merupakan hamparan pegunungan yang membentang dari wilayah Jawa Tengah meliputi kabupaten Blora, Grobogan, Rembang dan Pati hingga sampai wilayah Jawa Timur. Hamparan pegunungan tersebut yang sering disebut sebagai hamparan pegunungan Karst.

Dalam salah satu diskusi, dibahas 3 fungsi utama karst sebagai penunjang kelestarian lingkungan. Pertama, karst memiliki kemampuan yang sangat besar dalam menyerap air hujan, menyimpan dan mengeluarkan sebagai mata air (akuifer air bersih). Kedua, karst dapat menyerap karbon dioksida (CO2) sebanyak 0,41 milyar metric ton dari atmosver setiap tahunnya. Kemudian ketiga, kawasan karst menyimpan berbagai jenis bahan mineral yang dibutuhkan industri. Semua itu didiskusikan secara sederhana sampai pada dampak jika keberadaannya terancam dan fungsinya menjadi berkurang.

Hal yang membuat masyarakat akhirnya memahami upaya pelestarian kawasan karst adalah ketika meraka juga memahami tentang ancaman terhadap Gunung Kendeng yang rentan dieksploitasi oleh industri. Melalui data yang dikumpulkan JATAM bahwa telah ada 76 izin eksploitasi yang sudah dikeluarkan Pemerintah Daerah di wilayah Pulau Jawa pada kawasan Karst yang tersebar di 23 kabupaten, 42 kecamatan, dan 52 desa dengan luasan 34.944,90 Ha. Fakta ini memperarah darurat kekeringan yang di realease oleh Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah. Semua itu dipaparkan dengan dasar data yang dimiliki oleh YSI dari berbagai sumber. Ancaman yang membuat masyarakat khawatir dalam dialog sarasehan adalah, ketakutan akan tradisi dan budaya.

Ketakutan tersebut beralasan, ketika ancaman terhadap situs-situs budaya dan makam yang tersebar disepanjang hamparan pegunungan Kendeng akan hilang dan berganti dengan pembangunan yang masif. Situs dan budaya merupakan simbol sejarah yang tidak dapat tergantikan. Hal ini pula yang menjadi alasan kenapa pelaksanaan sarasehan bertempat di Kawasan Makam Ronggoboyo, Dusun Grasak, Desa Brati, Kecamatan Kayen, Pati. Alasan itu memperkuat agar semua seperti diingatkan akan kekayaan sejarah yang penuh makna. Sayangnya, situs dan budaya ini tidak dimasukkan menjadi parameter Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK).

“ Menjaga Gunung Kendeng yang masuk dalam kawasan karst berarti juga menjaga tradisi dan budaya yang telah ada sejak dulu. Hal ini tidak dapat dipisahkan karena merupakan suatu ekosistem”, kata Parlan dari YSI menegaskan.

Di akhir acara sarasehan, masyarakat yang hadir membuat kesepakatan untuk tidak hanya berhenti pada kegiatan, namun bersama-sama melestarikan tradisi dan budaya serta perlindungan kawasan Pegunungan Kendeng. Kesepakatan ini ditandai dengan doa bersama di penghujung sarasehan. (Rossi & Wuri)

Read 456 times
Last modified on 09 November 2017