Kondisi Pelayanan Pendidikan Anak Usia Wajib Belajar Di Aceh Timur

Untitled Document

Tujuan pertama pelaksanaan program pendidikan alternatif di Aceh Timur adalah menyediakan media bagi anak untuk memulihkan kesehatan mental dan kreativitas mereka setelah sekian lama tertekan dalam konflik dan mengalami bencana Tsunami. Pendidikan alternatif tersebut dilakukan melalui kegiatan seni tari dan musik tradisional, melukis dan juga belajar membaca dan menulis bagi anak-anak yang putus sekolah. Namun setelah perjanjian damai tercapai dan iklim pendidikan berangsur-angsur pulih, dengan beroperasinya kembali sekolah dan tenaga pengajar yang kembali melakukan fungsinya, maka SHEEP lebih memfokuskan diri pada upaya advokasi bagi terpenuhinya akses terhadap pendidikan bagi anak-anak usia wajib belajar.

Pendidikan yang merupakan hak dan kebutuhan semua orang ternyata belum sepenuhnya dapat dinikmati, bahkan oleh anak-anak di wilayah Aceh Timur. Akses untuk mendapatkan pendidikan ini masih menjadi hal yang sangat sulit. Pemerintah Aceh Timur sendiri mengakui bahwa masih ada 58 ribu anak putus sekolah dan 7.900 anak yang tidak bersekolah.

Hal di atas yang menjadi salah satu pertimbangan bagi SHEEP untuk memfokuskan pendampingan pada anak-anak, seperti pendirian sekolah ”Merdeka” di Tampor Paloh. Pendampingan ini juga menjadi proses membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan yang tidak harus dengan image formal dalam gedung bagus, seragam, dan buku–buku teoritis yang mahal, namun lebih kepada bagaimana mengembangkan kreatifitas, kemampuan, dan menyesuaikan dengan kehidupan yang dihadapi. Hal inilah yang penting untuk membentuk karakter anak menjadi tanggap dan mempunyai kepedulian lingkungan, sosial, dan kesehatan secara kritis.

 

Upaya Mendekatkan Akses Pendidikan  

Perubahan fokus dari sekedar menyediakan media pemulihan kesehatan mental anak karena konflik berkepanjangan ke proses advokasi terhadap pemenuhan akses pendidikan bagi anak usia wajib belajar  menuntut upaya yang lebih inten baik dari pihak SHEEP ke pihak pemerintah maupun dalam proses pengorganisasian masyarakat itu sendiri. Usaha yang dilakukan antara lain:

-
Penyadaran di kalangan  orang tua bahwa pendidikan sangat penting bagi masa depan anak, sehingga orang tua akan mendukung anak-anak mereka untuk belajar.
-
Pendidikan bagi anak tidak harus melalui pendidikan formal, namun lebih fokus pada pendidikan kritis dan penyadaran akan kondisi sosial di sekitar mereka dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi yang sudah ada.
-
Dari sisi pemerintah, SHEEP secara inten melakukan lobi terhadap penyelenggarakan Pendidikan Luar Sekolah serta tindak lanjut pemerintah untuk memberikan legalisasi dan juga fasilitasi bagi proses pendidikan yang telah diupayakan oleh masyarakat.
-
Di sisi masyarakat, SHEEP mendampingi dalam proses penyadaran bahwa masyarakat wajib terlibat dalam menjaga keberlanjutan pendidikan yang ada melalui kontribusi yang nyata, misalnya: kemauan warga membangun gedung sekolan secara swadaya, penyediaan lahan bagi pendirian gedung sekolah, ketersediaan fasilitas pendukung bagi tenaga pengajar dan anak-anak.

 

Jumlah murid SMP Merdeka

Pada hari-hari biasa, jumlah murid SMP Merdeka sebanyak 24 orang, namun pada bulan Ramadhan, pendidikan Pesantren Kilat yang dilaksanakan oleh SMP Merdeka diminati banyak siswa dari luar wilayah dampingan SHEEP, sehingga mencapai 45 siswa SD dan 23 siswa SMP. Mereka tertarik dengan metode belajar bersama alam seperti: pengolahan lahan, demplot ternak itik, dan suasana belajar yang tidak hanya di dalam kelas, melainkan melalui permainan-permainan edukatif di luar kelas.

comments powered by Disqus