People-to-People meeting menjadi penting karena selama ini penyelesaian konflik dimonopoli oleh kalangan akademik dan elit yang hanya memprioritaskan level politik makro dengan dikendalikan oleh lembaga internasional. Pendekatan yang dipakai kalangan tersebut banyak yang tidak menghiraukan dampak dari konflik yang terjadi terhadap orang lokal, pengalaman, kepentingan, dan aspirasi di tingkat lokal, sehingga People-to-People Meeting menjadi alternatif untuk mengembalikan inisiatif perdamaian kepada orang yang paling terkena dampaknya. Di samping itu, program ini juga memperkuat keyakinan akan kapasitas dan kemampuan masyarakat lokal dalam ikut berperan membangun perdamaian. Hal ini akan menjadi tantangan bagi masyarakat lokal maupun ORNOP mengingat konflik yang terjadi biasanya melibatkan banyak kepentingan sosial, politik, ekonomi, perbedaan budaya, latar belakang agama, etnis, dan marginalisasi terhadap masyarakat lokal.
Program ini juga merupakan media atau forum bagi masyarakat survivor dan ORNOP untuk menemukan inisiatif perdamaian dan tantangan mengimplementasikannya di kehidupan maupun kegiatan mereka.
Hasil yang dicapai melalui program ini antara lain:
Masyarakat dampingan SHEEP di Aceh Timur memiliki pengetahuan bahwa konflik juga dialami oleh masyarakat di Negara lain dan mereka mampu membangun kembali kehidupan social dan budayanya.
| - |
|
| - | Staf ORNOP dari tiga Negara SHEEP/Khmer Ahimsa/PCA memiliki referensi baru dalam hal pemberdayaan masyarakat dan pembangunan perdamaian |
| - |
|
| - | Pemimpin masyarakat dan atau tokoh-tokoh agama sadar akan posisi strategis mereka dalam upaya pembangunan perdamaian dan pemberdayaan masyarakat. |