
Delapan hari paska gempa, posko Satlak PB Kabupaten Padang Pariaman mencatat 341 orang meninggal dunia, 519 luka berat, dan 529 luka ringan. Sebanyak 66.019 rumah rusak berat, 13.226 rusak sedang, dan 3.503 rusak ringan. Tercatat ada sekitar 65 lembaga baik dari pemerintah maupun non pemerintah yang tercatat di posko satlak Padang Pariaman, termasuk SHEEP, yang memberikan bantuan tanggap darurat. Hingga hari ini masih banyak pihak yang melakukan mobile clinic namun tidak mendirikan posko di Padang Pariaman. Sebagian besar menetap di Kota Padang. Mereka biasanya menuju Padang Pariaman pada pagi hari dan kembali ke Padang sore dan malam hari. Meskipun banyak pihak yang melakukan mobile clinic termasuk Puskesmas, namun karena cakupan wilayah Padang Pariaman cukup luas, masih ada wilayah-wilayah yang minim bantuan.
Pada hari Rabu tanggal 7 Oktober 2009, SHEEP melakukan pelayanan kesehatan di Korong Paingan, Nagari Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau. Wilayah ini terdiri dari 6 dusun. Selama melakukan pelayanan kesehatan di Korong Paingan, SHEEP melayani 125 pasien. Sebagian besar pasien, menderita ISPA [51 orang] dan myalgia [22 orang]. Secara ekonomi, matapencaharian warga di wilayah ini tidak terganggu karena alat produksi tidak mengalami kerusakan. Penduduk di Korong Paingan bermata pencaharian sebagai petani sawah, kebun kelapa, dan pedagang di pasar.

Hari berikutnya, Kamis 8 Oktober 2009, tim kesehatan SHEEP melakukan pelayanan kesehatan di Korong Toboh Manggarai, Nagari Sikucur, Kec. Limo Koto Kampuang Dalam. Korong Toboh Manggarai dihuni oleh 392 KK atau 1100 jiwa. Wilayah Toboh Manggarai merupakan wilayah perbukitan dengan sumber air yang mengalir sepanjang tahun. Paska gempa, sumber air juga tidak mengalami gangguan sehingga warga tidak kekurangan air bersih. Di Korong ini ada aturan setempat yang melarang warga untuk membuat sumur. Warga hanya diperbolehkan memanfaatkan mata air sebagai sumber air bersih. Menurut warga, larangan ini dibuat, agar air tetap bisa dimanfaatkan oleh warga yang tinggal di kaki bukit. Menurut mereka, jika di bagian atas bukit digali sumur, air yang mengalir ke bagian bawah akan berkurang. Wali Nagari sangat menentukan keputusan di Korong Toboh Manggarai. Keputusan yang diperoleh saat rapat nagari dapat dikalahkan oleh keputusan wali nagari. Hal ini seringkali menghambat distribusi logistik.
Akibat gempa, terdapat 1 sekolah, 1 pesantren, 11 mesjid, dan 292 rumah rusak. Beberapa lembaga telah masuk untuk memberikan bantuan logistik dan pelayanan kesehatan. Selain logistik dan kesehatan, CRS berencana memberikan bantuan shelter. Menurut Wali Korong, persediaan logistik masih cukup hingga 1 minggu kedepan.
Warga Korong Toboh Manggarai bermatapencaharian sebagai petani, pembuat kopra, dan petani coklat. Akibat gempa, sebagian aliran irigasi terhambat karena ada saluran irigasi yang terkena timbunan longsor. Karena wilayah yang berbukit, ada warga yang tinggal di wilayah yg hanya bisa dijangkau dengan motor dan jalan kaki. Selama melakukan pelayanan kesehatan, SHEEP melayani 86 pasien, 22 orang diantaranya menderita myalgia, 17 ISPA, dan 11 vulnus/luka. Selain itu juga teridentifikasi 2 pasien psikosomatis. Keluhan ganguan kesehatan yang dirasakan pasien sebenarnya merupakan manifestasi kondisi psikologisnya.
Selain melakukan mobile clinic, SHEEP juga melayani pasien melalui home base clinic. Dari 2 hari pelayanan home base clinic, ada 4 pasien pada hari Rabu dan 42 pasien pada hari Kamis. Sebagian besar pasien, 19 orang, menderita ISPA. Selain itu 8 pasien menderita anemia dan 6 orang dermatitis. ISPA banyak diderita karena kondisi warga yang tidur di luar rumah dan musim kemarau yang menyebabkan banyak debu. Karena tidur di luar rumah dengan alas seadanya atau dengan kasur yang kotor, banyak warga yang menderita gangguan kulit. Kebersihan diri menjadi faktor utama yang mempengaruhi kondisi kesehatan kulit warga.
Sembilan hari paska gempa, warga mulai membangun temporary shelter sendiri dari bahan-bahan sisa rumah mereka yang roboh. Tidak tampak warga yang bergotong royong membangun shelter atau membersihkan puing-puing. Seluruh aktivitas dilakukan sendiri oleh tiap keluarga. Belum ada rencana vaksinasi TT dari pemerintah untuk antisipasi tetanus terutama bagi warga yang sudah mulai membersihkan puing-puing dan membangun temporary shelter, yang rawan terluka.
Rehabilitation Post Tsunami Disaster In East Aceh ...
putar
"Togetherness & hard Work Define Our Future" , People to people exchange Towards Peace building...
putar
Community Based Rehabilitation on Health and People's Economic after Tsunami and Civil Conflict in East Aceh...
putar
Water Filter...
putar