Peristiwa 23 desember 2006 adalah sebuah peristiwa yang oleh masyarakat simpang jernih di sebut bencana "tsunami". Banjir bandang tidak hanya terjadi di hilir sungai Tamiang tetapi juga terjadi di Hulu sungai Tamiang yang memiliki ketinggian sekitar 300 m dari permukaan laut. Jika dilihat dari topographynya seharusnya desa − desa disekitar kecamatan Simpang Jernih tidak mengalami banjir, tetapi realitanya banjir menggenangi seluruh desa, hal ini terjadi karena penyumbatan sungai Tamiang oleh sisa tebangan kayu yang terseret oleh air dan akhirnya masuk ke sungai dan menyebabkan penyumbatan sungai. Genangan yang semakin besar membuat arus air berbalik dan menyebabkan desa − desa diatas sungai tersebut tergenang dan bahkan semua rumah terbawa arus. Dampaknya ketika sumbatan kayu tidak mampu membendung arus air maka terjadilah musibah banjir besar yang melanda wilayah kabupaten Tamiang. Peristiwa ini seolah−olah merampas kebebasan masyarakat yang baru dirasakan paska MoU helisinki pada tanggal 15 agustus 2005.
Persoalan besar dihadapi masyarakat saat dan setelah banjir, diantaranya adalah persoalan pangan. Ketika banjir warga terisolir sebab posisi desa terletak di kawasan gunung yang hanya mengandalkan sarana transportasi sungai, sementara airnya masih sangat deras dan dipenuhi oleh kayu−kayu yang berserakan akibat penebangan hutan yang tidak bertanggungjawab.
Batu Sumbang adalah sebuah desa di kecamatan Simpang Jernih Kabupaten Aceh Timur. Pekerjaan masyarakat adalah mengambil kayu hutan sehingga kebutuhan pangan terutama beras sangat tergantung pasokan dari luar. Hal ini juga terjadi pada paska banjir, bahkan kecenderungannya beras raskin menjadi andalan mereka sebelum masyarakat secara normal kembali pada kebiasaan mengambil kayu. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi sheep dalam melakukan pengorganisasian.
Sarli adalah salah seorang mantan kombatan GAM yang akhirnya tersadarkan oleh kondisi desanya, melalui proses interaksi yang dibangun dengan staf SHEEP di lapangan. Intensnya interaksi tersebut menyadarkan dirinya untuk bangkit dan berupaya bagaimana mewujudkan pemenuhan kebutuhan pangan terutama padi. Padi bagi dirinya tidak asing, tetapi menanam padi adalah satu hal yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan.
Dengan ketekunan dan kesabarannya belajar bersama SHEEP dan dengan inspirasi yang dilihatnya melalui film tentang cara menanam padi SRI (System Rice Intensification) melalui kelompok taninya di desa Batu Sumbang, akhirnya dia memutuskan untuk melakukan uji coba menanam padi. Luasan lahan yang dijadikan demplot adalah 0, 5 rante.
Sepeti prinsip yang di anjurkan untuk penanaman padi SRI, yaitu menyemai bibit selama 12 hari, menanam bibit perlubang dengan 1 tanaman, dengan jarak tanam selebar 25 x 25 cm, dengan pengairan yang macak−macak (tidak tergenang). Proses penanaman ini pada awalnya menjadi bahan ejekan petani lain bahkan istrinya sendiri. Sehingga dari 2 rante yang diolah, hanya 0,5 rante yang ditanami padi dengan sistem SRI, varietas yang ditanam Intani 2 tanpa asupan pupuk kimia, hanya mengandalkan kompos yang ada di lahan.
Pada awal pertumbuhan padi sistem SRI tidak menunjukan perbedaan jika dibandingkan dengan padi yang ditanam dengan sistem biasa, namun setelah tanaman berusia 1 bulan ternyata ada perbedaan yang mencolok. Jumlah anakan untuk padi yang di tanam dengan SRI rata−rata 30 anakan tiap rumpunnya, sedangkan untuk tanaman padi dengan model biasa jumlah anakan rata−rata 15 anakan tiap rumpun (model tanam biasa tiap lubang 4−7 batang bibit). Ketika tanaman padi berumur 90 hari (pada saat menguning dan sekitar 7 hari menjelang panen), saat dilakukan penghitungan pada padi model SRI: paling sedikit anakkan per lubang berjumlah 42 batang, jumlah bulir per-malai ada 402 bulir padi. Jika di bandingkan dengan sistim biasa (konvensioanal), selisihnya cukup banyak antara 100 % s.d 200 %, yaitu jumlah anakan per lubang ada 15 anakkan, jumlah bulir ada 100 s.d 200 bulir per-malai. Hasil panennya ada 10 kaleng (1 kaleng =12 kg), dari jumlah benih yang di tanam sebanyak 0,5 kg. Hasil pengatan sampai padi dipanen, padi tidak diserang hama bahkan banyak di temukan sarang laba−laba, capung dan burung trucuk yang sering mengunjungi tanamannya padinya.
Menurut petani lain, ini merupakan hasil yang luar biasa, belum pernah di desa ini ada buah padi sebanyak itu dalam satu batang padi, dengan hasil tersebut menyebabkan banyak dari warga desa sekitar tertarik dan untuk tanam pada musim tanam selanjutnya dengan model SRI seperti yang dilakukan oleh Sarli.
Demplot pertanian Sarli yang dikembangkan di Desa Batu Sumbang, kecamatan Simpang Jernih adalah salah satu dari 12 demplot yang saat ini dikembangkan di desa dampingan SHEEP di Aceh Timur yang disesuaikan dengan potensi masing − masing desa. ( disarikan dari update lapangan bulan april´09).
One Year of Rehabilitation Phase Post Tsunami Disaster in West Aceh...
putar
"Togetherness & hard Work Define Our Future" , People to people exchange Towards Peace building...
putar
Community Based Rehabilitation on Health and People's Economic after Tsunami and Civil Conflict in East Aceh...
putar
Water Filter...
putar