Pelatihan Pengelolaan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat (PRBBM) dan analisa resiko bencana di Kabupaten Pati dilaksanakan pada tanggal 13-15 April 2009 di Salatiga. Pelatihan ini diikuti oleh 27 orang peserta yang merupakan perwakilan dari kelompok masyarakat yang ada di delapan desa dampingan SHEEP yaitu Desa Karangrowo, Desa Tondomulyo, Desa Sugiharjo, Desa Bumirejo, Desa Kedungpancing, Desa Kasiyan, Desa Babalan dan Desa Doropayung.
Pada hari pertama pelatihan, masyarakat diajak untuk mengidentifikasi jenis ancaman bencana yang sering dialami masyarakat dan menggambarkan peta ancamannya. Berdasarkan hasil diskusi, jenis ancaman yang sering alami masyarakat di delapan desa tersebut adalah banjir dan kekeringan. Ancaman bencana banjir lebih menjadi prioritas masalah yang utama di kalangan masyarakat dibandingkan ancaman kekeringan karena kerugian yang dirasakan lebih besar dan sampai saat ini belum pernah terjadi kekeringan yang sangat ekstrim.
Banjir yang sering dialami masyarakat pada awalnya hanya terjadi setiap sepuluh atau lima tahun sekali, namun sejak tahun 2004 banjir hampir terjadi setiap tahun. Meskipun karakter banjir yang dialami bukan merupakan banjir bandang tetapi air yang naik sedikit demi sedikit, namun tetap menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. Selain itu lamanya banjir bisa berlangsung selama 2 minggu hingga lima bulan. Sumber banjir berasal dari meluapnya Sungai Juwana yang tidak mampu menampung kiriman air hujan dari pegunungan Kendeng dan Pegunungan Muria. Selain itu banjir juga disebabkan adanya pendangkalan dan penyempitan sungai akibat kurangnya perawatan terhadap Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana. Tanda-tanda yang dikenali oleh masyarakat sebelum terjadinya banjir biasanya terlihat mendung gelap atau hujan deras di lereng Pegunungan Kendeng atau Muria dan menurut masyarakat yang meyakini ilmu titen (kebiasaan) akan adanya banjir, juga ditandai dengan munculnya yuyu bule (kepiting putih) dan hewan-hewan dari dalam tanah seperti laron, rayap dan semut yang sangat banyak. Selang waktu dari dilihatnya tanda-tanda mendung gelap di Pegunungan Kendeng atau Muria hingga terjadi banjir kurang lebih selama 12 jam, sedangkan dari tanda-tanda munculnya hewan kepiting dan hewan dari tanah lainnya kurang lebih 20 hari.
Pada hari kedua, masyarakat kembali diajak berdiskusi untuk mengidentifikasi kapasitas dan kerentanan masyarakat dalam mengurangi resiko bencana. Menurut masyarakat kelompok yang paling rentan adalah orang-orang jompo, anak-anak dan ibu hamil karena mereka memiliki potensi terserang penyakit dan mempunyai resiko bahaya yang lebih karena tidak dapat menghindar dari kejadian bencana dengan cepat, dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Kelompok rentan yang lain yaitu para petani, petani tambak, nelayan tradisional, buruh yang bekerja di kota dan masyarakat yang tinggal di daerah genangan. Petani dan petani tambak menjadi salah satu kelompok rentan karena pada saat banjir lahan pertanian dan tambak mereka biasanya juga ikut tenggelam dan mengalami kerugian besar dikarenakan gagal panen, sedangkan biaya yang sudah dikeluarkan untuk pengelolaan lahan sangat besar. Bagi kelompok nelayan tradisional pada saat banjir biasanya terjadi ombak besar sehingga para nelayan tidak bisa melaut dan bagi nelayan jika tidak bisa melaut berarti tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Adapun bagi kelompok buruh yang bekerja dikota, kendala yang paling dirasakan adalah terkait sarana transportasi yang terputus sehingga mereka harus menggunakan perahu dan mengeluarkan biaya yang lebih mahal serta waktu yang lebih lama. Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal di daerah genangan, ketika banjir mereka harus mengungsi (termasuk mengungsikan ternak), kerusakan bangunan rumah bisa lebih parah, potensi tenggelam lebih tinggi, hambatan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan melakukan aktivitas sosial juga mengalami gangguan lebih serius daripada masyarakat lain.
Dari segi kapasitas, dalam hal transportasi sebagian masyarakat sudah memiliki perahu dan yang tidak mempunyai perahu dapat memanfaatkan jasa antar jemput menggunakan perahu yang biasanya dikelola oleh kelompok masyarakat dengan sistem sewa. Dalam hal kesiapsiagaan, di beberapa desa sudah ada tim respon bencana dan fasilitas umum yang dapat digunakan sebagai tempat pengungsian. Terkait budaya dan sosial kemasyarakatan, kebiasaan gotong royong di kalangan masyarakat juga masih dipelihara sampai sekarang. Dari sisi pengetahuan, sebagian masyarakat dapat mengetahui tanda-tanda akan datangnya ancaman dan masyarakat juga sudah mampu beradaptasi dengan kondisi bencana yang sering mereka hadapi. Bentuk adaptasi masyarakat terkait bencana banjir dapat kita lihat dari adanya usaha masyarakat untuk melakukan peninggian pondasi rumah atau membuat ranggon (peninggian perabot seperti meja, tempat tidur dll), meninggikan sebagian bangunan rumah khususnya dapur yang biasanya terletak di bagian paling belakang dari rumah (di Desa Babalan), penggunaan gedebog pisang dan drum untuk membuat rakit atau untuk membuat kandang apung. Dalam hal pertanian, sebagian masyarakat sudah menerapkan pertanian dengan polibag untuk tanaman cabai dan memajukan musim tanam dengan pengairan menggunakan sistem pompanisasi. Sistem pompanisasi dirasa cukup membantu para petani untuk dapat memajukan musim tanam sehingga para petani dapat memanen hasilnya sebelum banjir datang, namun masih mengalami kendala dalam hal biaya perawatan yang cukup mahal dan ketersediaan air yang kurang mencukupi di musim kemarau. Sedangkan untuk tambak biasanya dilakukan pemasangan jaring supaya pada saat banjir ikan tidak keluar dari tambak atau untuk mempermudah panen sebelum banjir.
Pada hari ketiga, masyarakat mencoba merumuskan analisa resiko bencana yang ada di masing-masing desa dengan melihat peta ancaman, kapasitas dan kerentanan yang telah mereka diskusikan sebelumnya di tingkat kelompok masing-masing desa. Hasil diskusi kemudian menjadi acuan untuk menyusun rencana tindak lanjut secara bersama-sama. Rencana tindak lanjut yang menjadi prioritas peserta pelatihan adalah melakukan penyamaan persepsi di tingkat masyarakat yang ada di masing-masing desa dan menentukan prioritas pekerjaan dalam rangka mengurangi resiko bencana yang akan dilakukan secara kolektif, yaitu memajukan musim tanam. Cara yang disepakati oleh para peserta untuk dapat melakukan pekerjaan tersebut adalah dengan membangun jaringan atau bekerja sama antar masyarakat desa di sepanjang Sungai Juwana dan mengajak pemerintah desa supaya dapat menyuarakan masalah yang ada kepada pemerintah atau lembaga yang berwenang sehingga mendapatkan solusi yang baik.
Emergency Response Post Earthquake In Yogyakarta and Central Java...
putar
"Togetherness & hard Work Define Our Future" , People to people exchange Towards Peace building...
putar
Community Based Rehabilitation on Health and People's Economic after Tsunami and Civil Conflict in East Aceh...
putar
Water Filter...
putar